Thursday, 27 April 2017

review artikel historiografi indonesia dalam pencarian identitas (pak Kuntowijoyo)

Historiografi Indonesia dalam Pencarian Identitas
(Kuntowijoyo)
Para sejarawan yang peduli akan identitas historiografi Indonesia , berkumpul untuk menentukan arah dari penulisan sejarah Indonesia, meski sejarawan dari berbagai daerah, yang mempunyai pandangan yang berbeda, kepentingan diri sendiri dilupakan demi kepentingan nasional. Maka pada tahun 1957 di Yogyakarta di adakan seminar nasional pertama yang salah satu tujuan utamanya menentukan ideology historiografi Indonesia, karena penulisan sejarah Indonesia pada umumnya bersifat kolonilisasi, sebelumnya telah ada penulisan sejarah yang bukan atau tidak kolonilisasi seperti tulisan dari elah ada sudah menjadi historiografi ideologis pada dekade 1950-an sebelum seminar Sejarah nasional 1, untuk contoh, Muhammad Yamin diterbitkan Sedjarah peperangan Diponegoro
Pada tahun 1962 john smail  "tentang kemungkinan sejarah otonom modem asia tenggara" di jurnal sejarah Asia tenggara ia affered konsep sejarah otonom dengan menekankan pentingnya adat dinamika sementara pasukan asing hanya lampiran, tesis di dia aceh, perang padre (1821-1838) di mana tuanku yang (pemimpin agama) dan penghulu (pemimpin klan) berada di confict konflik antara aceh dan siak dan uleebalang dan persaingan ulama di aceh,
Namun selain karena ingin mencari identitas historiografi Indonesia sentris yang lepas dari kolonialsenttris, sejarawan berkumpul melakukan seminar ini juga ingin melihat histografi Indonesia dalam identitasnya , apakah di pengaruhi oleh gerakan komunis Indonesia, yang pada tahun 1954  gerakan DN adit mempunyai pengaruh besar terhadap sejarah Indonesia .  kemudian pada seminar kedua pada tahun 1970, para sejarawan ingin melibatkan ilmu sosila lainnya, agar histiriografi Indonesia , tidak hanya milik satu disiplin saja yaitu ilmu sejarah melainkan ilmu sosial lainya,, Sartono kartodirjo, dalam tulisan yaitu gerakan petani banten, yang melibatkan ilmu ekonomi dalam penulisannya,
Historiografi Indonesia setiap zaman nya mempunyai ciri-ciri dalam penulisannya, terutama pada masa orde baru dimana penulisan sejarah sangat kental atau dipengaruh oleh resim pemerintahan , dimana sejarwan harus berhari-hari dalam penyampaiaan pada masyarakat setiap peristiwa, sejarah militer hanya dibuat oleh para petinggi militer atau orang0-orang militer, apabila sejarwan  menulis berbeda dengan keinginan pemerintah makadia anggap telah melanggar aturan atau murtad.
Ideologi dekolonisasi seminar Sejarah nasional I (1957) berarti bahwa sejarawan menghasilkan permintaan populer tanpa reserve. non-ideologi seminar Sejarah nasional III dan setelah itu adalah keterasingan ilmu dari seluruh masyarakat. Untuk berpikir dialektis, harus ada keadaan yang lebih tinggi yang saya sebut etika. sikap non-ideologis keterasingan membuat sejarah tidak responsif terhadap kebutuhan kritik sosial. Tidak adanya kritik sosial gigih terbukti telah merugikan bagi masyarakat. urutan perkembangan ideologi baru dengan nasionalisme politik vertikal (yang berlaku hanya lain "politik sebagai panglima" (politik sebagai perintah tertinggi) kebijakan seperti yang dilakukan pki tidak mentolerir perbedaan. dengan mengasingkan diri dari masyarakat, sejarah mampu menghindari pengaruh bahwa politik hari, tapi itu tidak dapat menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat. sikap semacam ini adalah tidak sehat bagi sejarawan diri mereka sendiri dan untuk negara serta umum masyarakat
Era baru yang disebut rangka reformasi layak untuk memiliki historiografi sendiri, biasanya setiap usia memiliki tren tersendiri di scholarhip sejarah. kami ingin membuat sejarah fungsional, tapi tidak dipengaruhi oleh masyarakatnya, sangat banyak seperti ikan di laut yang tidak pernah menjadi asin, sejarawan harus responsif terhadap iklim pendapat dari masyarakat (skotheim, 1969).Dan setelah berakhirnya masa orde baru , maka Indonesia memasuki masa reformasi penulisan sejarah Indonesia ,mempunyai kebebasan serta bisa mencari identitas historiografi Indonesia


Review artikel Pak Taufik Abdullah : Ilmu Sejarah di tahun 1970 - 1980

Nama               : Rudi Hartono
Nim                 : I1A114005
Matakuliah      : Historiografi

Pengalaman yang Berlaku, tantangan  yang mendatang : Ilmu Sejarah di tahun 1970-an dan 1980
(Taufik Abdullah)

“Tugas Sejarawan ialah menemukan, melukiskan, dan menerangkan aspek sosial dan akibat yang ditimbulkan oleh apa yang dilakukan dan diderita manusia”(Isaiah berlin)
Tantangan dalam penulisan sejarah terutama yang dilakukan para sejarawan harus dihadapi terutama dalam hal metodelogis sejarah  karena penemuan-penemuan elemen sejarah yang factual yang dikisahkan, karena elemen tersebut bersifat fragmentasis , yang terpenggal , selain itu bahasa yang disampaikan terhadap suatu peristiwa sejarah terkadang tidak seutuhnya  sesuai dengan realitas. Corak penulisan sejarah harus sesuai dengan ilmu yang berkembang, penulisan kisah sejarah yang deskripsi hanya sebatas kisah, terkadang penulisan sejarah hrus nararative untuk menggambarkan sejarah sebagai kisah, selain itu sejarawan harus bisa melakukan verifikasi dan klarifikasi dari fakta  sejarah .
Dalam rekontruksi sejarah yang mencoba menghadirkan kembali  kelampauan yang tidak hanya behadapan dengan pemahaman empiris terhadap historis tetapi juga asumsi teoretis dari sang sejarawan. Masalah pokok  bukanlah pada penulisan sejarah bukan pada kemungkinan telah rusaknya suatu suatu accepted history, sejarah yang telah diterima kbenarannya bahkan tidak pula selalu bertolak dari sebelum terdpatanya kepastian-historis (historical centinty), tetapi terutama ketika kewajaran  historis (historical fairness), yang mengikat komunitas sejarah telah terganggu kelangsungan komunitas sejarah itu yang menjadi sebuah solidaritas tertentu.
Konflik antar komunitas sejarah umumnya bersifat latent, yang reaksidari komunitas sejarah terhadap segala tantangan ang akan mengurangi validitas kewajaran historis, dalam konteks masyarakat tradisional, historical fairness adalah segalanya baik sebagai mythos-peneguh, maupun sebagai dasar legimitasi kekuasaan, sejarawan “seluruhnya” terluluh dalam masyarakatnya yang juga sering merupakan komunitas sejarahnya apapun suasana ideology  corak sossiologis darikomunitas itu.
Perkembangan historiografi ditanah air dapat dipahami dari seminar pertama pada 1957, bahwa penulisaan sejarah disamping nilai-nilai nasionalisme juga secara synthesis (istilah Prof. Mr. Muh Yamin). Atau multiple approach (istilah Soedjamoko) dan secara ilmiah dapat dipertangung jawabkan apabila unsur kebenaran dan objectivier yang menjadi syarat mutlak bagi penyusunan sjarah nasional tidak diabaikan. Selain itu pendekatan synthesis dan methodelogis.
Pedekatan multisimensional yang dipelopori Sartono Kartodirdjo, bertolak dan praduga teoritis bahwa sejarah sebagai untaian peristiwa-peristiwa di kelampauan hanyalah mungkin dimengerti dan diterangkan dalam konteks structural yang merupakan wadah dari peristiwa itu, suatu peristiwa tidak ditimbulkan oleh faktor tunggal, tetapi oleh kovergensi sebagai faktor.perbedaan keakraban dari berbagai faktor itu dengan peristiwa event hnyalah mungkin diketahui dengan pengujian yang kritis dan emperis, karena itu lah rekontruksi  sejarah yang telah menggabungkan secara utuh kronikel , kisah, dan keterangan peristiwa di anggap sebagai “a crowning achievement”
Dalam multi dimensional ada dua implikasi t yang keras terhadap sejarah, penekanan pada pencarian kaitan antara peristiwa dengan konteks structural yang menjadi wadah peristiwa secara implisit menolak determinisme sejarah.  Kedua, masalah objektivitas sejarah dipindahkan dari lapangan filsafat ke problem metodelogis. Masalahnya bukanlah terletak pada pengakuan kelemahan manusia yang tidak terlepas dari subjektivitasme, tetapi pada pendekatan methodelogi, kemampuan teknis, kejujuran intellectual dan historical judgment dari sejarawan, dan sejarah tergantung dari ada atau tidaknya sumber yang evident.
Dari sudut methodelogis, pendekatan multi dimensional, berkaitan erat dengan munculnya gejala lain dalam penelitian dan penulisan sejarah, para sejarawan sudah menggabungkan ilmu-ilmu sosial, dengan konsep yang telah ada dari ilmu sosial. Penulisan sejarah tidak lagi diterangkan hanya kisah , penulisan sejarah tidak hanya  tentang politik tidak lagi jadi monopoli dalam penulisan sejarah, penulisan sudah mengalami perkembangan sejarah sosial dan lokal mulai menampilkan diri dalam penulisan sejarah.
Keakraban ilmu sejarah dengan cabang ilmu lain membuat ilmu sejarah sebagai academic enterprise berkembang dengan baik, dan  perkembangan dalam hal teori dan methodelogis secara horinzontal yang tidak seimbang karena sebagian besar sejarawan berasal dai universitas gajah mada. Sejarah kata mary wright kira-kira dua puluh tahun yang lalu, secara implisit bersifat komparatif, yang tidak ada generalisasi dan konsep, sehingga sejarawan bisa bekata tentang”perang”revolusi”serta elite penguasa.

Demikian kemajuan yang di dapat dari penyelesaian masalah yang di hadapi, sejarawan harus bisa berinteraksi dengan masyarakat dan juga tentunya dunia akademik, karena keduanya merupakan kunci dari kesuksesan sejarwan dalam menulis sejarah, ilmu sejarah bisa saja dimasukin semua orang karena sejarah mrupakan ilmu yang bisa dimasukin oleh berbagai disiplin ilmu, dan sejarawan sebagai orang akdemis harus bisa mengusai semua nya.

Revolusi Kemerdekaan

Tugas Resume
Kapita Salekta

“Revolusi Kemerdekaan”
Judul Buku : Sejarah Lengkap Indonesia ; dari era klasik hingga terkini karya Adi Sudirman tahun 2014 yang diterbitkan oleh  DIVA Press.
Buku yang ditulis oleh Adi Sudirman yang berjudul Sejarah lengkap Indonesia dari era klasik hingga kini membuat salah satu sub tema yang berkenaan dengan revolusi kemerdekaan Indonesia. penulis sengaja mengambil buku ini karena setelah penulis mencari sumber-sumber buku yang dengan judul buku revolusi kemerdekaan penulis menemukan buku-buku tersebut hanya membahas secara khusus revolusi kemerdekaan disatu  daerah, contohnya buku revolusi kemerdekaan di semarang buku ini hanya membahas bagaimana revolusi kemerdekaan Indonesia di semarang, sedangkan dalam adi sudirman terdapat berbagai pristiwa revolusi kemerdekaan pasca kemerdekaan Indonesia .
Indonesia merdeka pada 17 agustus 1945 setelah Ir Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, kemerdekaan yang berarti indonesia bebas dari para penjajah dan bisa mendirikan pemerintahan di tanah air. Namun perjuangan bangsa Indonesia masih belom berakhir Karena setelah terbentuknya NKRI muncul berbagai konflik antara pejuangan kemerdekaan dengan penjajah yang ingin mengusai kembali Indonesia, peristiwa peristiwa revolusi kemerddekaan Indonesia yaitu
A.    Pertempuran Surabaya 10 november 1945
Pertempuran 10 november 1945 merupakan peristiwa konflik pertama yang terjadi setelah kemerdekaan. Peristiwa besar yang terjadi pertempuran di Surabaya ini terjadi antara Indonesia dengan belanda yang ingin mengusai kembali Indonesia. peristiwa konflik ini merupakan revolusi nasional yang besar dan terberat karena pada masa ini Indonesia baru merdeka.
Perang yang terjadi di Surabaya atau dikenal dengan 10 november yang sampai sekarang diperingati sebagai hari pahlawan, dilatar belakangi oleh kesalahan persepsi antara pemerintah Indonesia dengan inggris tentang kepemilikan senjata hasil rampasan tentara jepang, ketika jepang kalah maka tentara jepang yang masih bertahan dipulangkan ke Negara nya sedangkan senjatanya dilucuti atau diambil tentara Indonesia namun, inggris memerintahkan senjata tersebut diserahkan ke inggris, namun tentara Indonesia menganggap ini sebagai intervensi terhadap kedaulatan nagara,dan adanya tentara belanda yang menyusup dalam misi melucuti senjata jepang oleh tentara ingris dengan istilah NICA,  meskinpun ini bisa diredam dengan datangnya genjatan senjata, namun perang ini kembali pecah setelah meninggalnya Jenderal Mallaby di tangan gerilyawan Indonesia, yang membuat inggris mengultimatum tentara keamanan rakyat dan rakyat khususnya di Surabaya untuk menyerahkan senjata paling lambat 10 november,  tentara keamanan rakyat dan rakyat tidak menghiarukan ultimatum tersebut sehingga pecahlah perang 10 november 1945 .
B.     Bandung lautan Api
Setelah peristiwa 10 november 19945 di suarabaya setahun kemudian revolusi kemerdekan kembali pecah yakni pada 24 maret 1946, ketika inggris menjadi bandung sebagai benteng dalam melakukan perang kemerdekaan indonesia.  Pada 12 oktober 1945 pasukan inggris datang ke bandung , untuk menjadi bandung sebagai markas mereka, tentara keamanan rakyat yang kalah dalam jumlah melakukan taktik, yakni dengan membakar rumah , sekitar 200. 000 rumah dibakar strategi ini terbilang berhasil karena dengan kalahnya jumlah tentara maka bandung yang dibakar membuat perang terjadi dengan cara gerilyawan oleh tentara Indonesia, markas amunisi inggris berhasil dihancurkan,
C.     Operasi Trikora (Irian Barat)
Peristiwa konflik lainnya yang terjadi pasca kemerdekaan adalah operasi Trikora, peristiwa ini merupakan konflik yang terjadi pasca kemerdekaan yang tujuan untuk menyatukan papua barat, yang melatarbelakangi peristiwa ini yakni Indonesia yang merdeka mengklaim seluruh wilayah yang diduduki hindia belanda, merupakan bagian NKRI termasuk papua barat namun belanda menganggap bahwa papuabarat merupakan salah satu provinsi kerajaan belanda sehingga terjadi penyerangan yang dilakukan tentara Indonesia di papua barat selain melakukan jalur militer dilakukan juga jalur diplomasi  melalui sidang umum PBB
D.    Serangan umum 1 maret 1949 (Yogyakarta )
Perang yang terjadi pasca kemerdekaan juga terjadi di Yogyakarta yang dikenal dengan serangan umum 1 maret 1949, yang bertujuan untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia mempunyai TNI yang kuat serta untuk mematahkan moral pasukan belanda yang ingin melakukan agresi militer II selain itu serangan ini juga untuk mempengaruhi daerah-daerah yang menjadi negara federal bentukan belanda.
Dari penjelasan yang di uraikan buku adi sudirman, penulis menyimpulkan bahwa setelah Indonesia merdeka, Indonesia belum aman dalam hal kebebasan karena adanya keinginan belanda untuk menduduki negera Indonesia atau yang dikenal dengan peristiwa angresi Belanda II, revolusi terus dilakukan oleh tentara tentara Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan baik secara militer maupun secara diplomasi , revolusi kemerdekaan yang didengungkan oleh tentara-tentara serta rakyat membuktikan bahwa negera republic Indonesia mampu mempertahankan kemerdekaan dengan berbagai serangan, revolusi kemerdekaan juga memberikan bahwa Indonesia merupakan merdeka karena adanya persatuan dan kesatuan rakyat.

Dalam buku ini, penulis menyimpulkan ada beberapa kekuarangan yakni dalam penjelasannya mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pasca kemerdekaan kurang mendalam, uraian uraian yang disampai hanya sebatas umum, dan juga buku ini hanya sekilas yang membahas mengenai bagaimana jalannya revolusi pasca kemerdekaan.

Monday, 17 April 2017

Silabus Teori ilmu Sosial & kebudayaan Ilmu Sejarah FIB UNJA

Siabus Teori ilmu Sosial dan Kebudayaan

Kelompok
Tema
Anggota Kelompok
1
·      Kontruksi teori sosiologi
·       Multiparadigma teori sosiologi
·      Tiga paradigma teori sosiologi
1.       Fakta sosial, 2. Definisi 3. Perilaku

1.       Rudi Hartono
2.       Daniel Prayogi
3.       Sisca Oktiveni
4.       Adit N
5.       Qholilah
2
·         Karakteristik Perspektif struktur fungsional
·         Masyarakat dlm model intergrasi Dahrendorf dan Durkheim
·         Kelemahan Struktural fungsional
1.       Sri Fatmawati
2.       Sofiya vila Safitri
3.       Hayatummardhiyah
4.       Gumedio Sh
5.       Riyandi Aminul
6.       Yeni
3
·         Teori Sosial karl marx : Struktur ekonomi, pertentangan Kelas, dan perubahan Sosial:
·         Dasar Teori konflik : Karl Marx
·         Teori konflik perspektif  Marx Weber
·         Persamaan dan perbedaan antara Max dan Weber
·         Persamaan dan perbedaan  struktur fungsional dan teori konflik
·         Teori konflik ( pertentangan Kelas) karl Marx
·         Pembentukan kelas dan berakhir perjuangan kelas sebagai gambaran adanya perubahan sistem
·         Teori konflik dan kritik terhadap masyarakat

1.    Teguh yacob M
2.    Anggi lesmana
3.    Arif Gusriandi
4.    Saut Wardiman
5.    M. Junit bagdadi
6.    Risnauli S.
4
Teori interaksionisme Simbolik perspektif George Herbert Mead:
·         Interaksi Simbolik dalam perspektif sejarah
·         Lingkup pembahasan interaksi Simbolik
·         Interaksi simbolik dalam realitas sosial
·         Manusia dan makna dalam perspektif simbolik
1.       Jevinda
2.       Vicky
3.       Sepriansyah
4.       Adit B.
5.       Riska
6.       Hapsah
5
·         Pokok persoalan dan metode
Ø  Tindakan sosial sebagai pokok persoalan sosiologi max weber
Ø  Tipe ideal dan verstehen  sebagai  metode max weber
·         Teori : perubahan sosial dan stratifiikasi sosial
1.       RADIKA Putri
2.       Syilak
3.       Titik R.
4.       Windra
5.        Very
6.       Eliana
6
Teori pertukaran George Homans dan peter M. blau:
·         Konsep teori pertukaran
·         Pertukaran sebagai teori klasik
·         Teori pertukaran social modern
·         Prinsip –prinsip teori pertukaran
·         Tatanan sosial menurut teori pertukaran
·         George Homans : Suatu pendekatan pokok kekuasaan dan pertukaran menurut peter Blau

1.       Jaka I.
2.       Ardiansyah
3.       Iqbal
4.       Futra
5.       Ramadhoni

7
MENULIS PROPOSAL PENELITIAN DENGAN MENGGUNAKAN TEORI YANG TELAH DIPELAJARI
7.        

·          

Friday, 14 April 2017

Modernisme pergerakan kebangsaan islam di Indonesia

Bab I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Pergerakan kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari umat islam, pergerakan kebangsaan Indonesia yang terus dijajah oleh bangsa asing. Pergerakan kebangsaan Indonesia muncul setelah adanya rasa keinginan untuk bisa bebas dari penjajah yang sudah lama menduduki Indonesia. Mulai dari masa VoC sampai masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kedatangan bangsa asing ke Indonesia khususnya bangsa Belanda pada awalnya hanya menjalin hubungan perdagangan dengan masyarakat pribumi, bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang mayoritas umat islam pada awalnya menerima dengan baik, kedatangan bangsa asing yang awal kedatangannya hanya untuk berdagang, namun lama-kelamaan memonopoli perdagangan serta melakukan kolonialisasi di Indonesia hal inilah yang membuat ada pergerakan yang dilakukan bangsa Indonesia khususnya umat islam yang ada di Indonesia. pada awal pergerakan kebangsaan alam melakukan pergerakan kebangsaan khusus gerakan kebangsaan, pergerakan kebangsaan Indonesia pada awal nya bersifat tradisional dalam membangkitkan kebangsaan khususnya melalui-melalui kerajaan yang bercorak islam, selain kerajaan-kerajaan islam[1] yang ada di Indonesia pergerakan masa tradisional ini dilakukan juga oleh alim ulama yang mempunyai peran penting didalam masyarakat.
Pergerakan kebangsaan umat islam di Indonesia mengalami perkembangan yang awalnya bersifat tradisional kemudian berkembang ke pergerakan kebangsaan yang bersifat modern. Perubahan ini terjadi memasuki awal abad-19 yang dibentuknya sebuah organisasi umat islam pertama yakni Serikat Dagang Islam[2]
Dengan hadirnya organisasi-organisasi yang dibentuk para ulama sehingga pergerakan kebangsaan umat islam di Indonesia dalam melawan penjajahan mengalami perubahan yang besar, dari coraknya tersebut. Untuk mengetahui secara detail mengenai pergerakan kebangsaaan umat islam di Indonesia kami mencoba mengangkat kembali mengenai bagaimana islam dalam membangun gerakan kebangsaan yang trasional dan modern dalam melawan kolonialisme bangsa asing, dari sumber-sumber yang ada sebelumnya.
B.     Rumusan Masalah
·         Dalam makalah ini akan memuat rumusan masalah mengenai bagaimana pergerakan kebangsaan islam di Indonesia masa tradisional
·         Bagaimana pergerakan kebangsaan islam di Indonesia secara modern
·         Serta bagaimana perbedaan pergerakan kebangsaan yang tradisional dengan pergerakan kebangsaan yang modern
C.     Tujuan
·         Tujuan dari makalah ini yang pertama adalah untuk menambah wawasan mengenai pergerakan kebangsaan islam di Indonesia
·         Mengetahui bagaimana pergerakan kebangsaan islam di Indonesia dengan corak tradisional dan modern
·         Mengetahuai bagaimana perbedaan dari kedua corak pergerakan kebangsaan tersebut





Bab II
Pembahasan
1.      Tradisional Pergerakan kebangsaan islam di Indonesia
Pergerakan kebangsaan umat islam sudah ada sejak masa masuknya kolonialisasi di nusantara, meski pergerakan kebangsaan yang dilakukan umat islam hanya bersifat kedaerahan, hal ini terjadi karena kuarang rasa persatuan dan kesatuan dalam melawan, penjajahan. Akan tetapi pergerakan akan kebebasan sudah didengungkan seperti yang dilakukan kerajaan-kerajaan islam dan para ulama dalam mengimpun kekuatan guna melawan kolonial untuk kebebasan dalam penjajahan. Pergerakan kebangsaan Indonesia yang tradisional tidak bisa dilepaskan dari pergerakan yang dilakukan memalui peperangan terhadap kolonialisme yang sejak lama ada di Nusantara, pergerakan kebangsaan tradisional ini bisa dilihat dari beberapa pergejolakan besar yang terjadi.  Berikut pergerakan yang dilakukan dalam melawan penjajahan.
1.      Perang paderi di minangkabau
 Perang paderi merupakan perang yang semula terjadi antara kaum paderi(ulama)n dengan kaum adat yang terjadi di minangkabau, akan tetapi dalam perkembangannya, kaum adat memintak bantuan kolonial belanda sehingga perang paderi tidak hanya terjadi antara kaum paderi (ulama islam) dengan kaum ada, tetapi juga dengan kolonial belanda[3]
2.      Perang diponegoro
Perang diponegoro adalah perang terbesar yang dihadapi pemerintah colonial belanda di jawa. Peristiwa yang memicu peperangan adalah rencana pemerintah hindia belanda untuk membuat jalan yang menerobos tanah milik pangeran diponegoro. Dalam perang, pangeran diponegoro menggunakan taktik grilya. Peperangan segera menyebar luas kemana-mana. Kota Yogya dikepung sehingga penduduk Belanda merasa terancam. Untuk memperkuat semangat, Pangeran diponegoro dinobatkan sebagai pimpinan tertinggi jawa dengan gelar sultan ngabdul humid herucakra kabril mukminin khalifatullah ing tanah jawa. Pada tahun 1826, jalan perang menunjukkan pasang surut. Banyak korban dipihak belanda, 1827, belanda memperkuat diri dengan melakukan benteng stelsel untuk mempersempit gerak tentara pangeran diponegoro. Belanda juga mengerahkan bantuan dari negri belanda sekitar  tiga ribu orang. hingga Pihak pangeran diponegoro mulai terdesak sedikit demi sedikit. Pada tahun 1827, kiai Maja bersedia berunding dan mengadakan genjatan senjata dengan belanda.
3.      Perang aceh
Perang aceh merupakan perang yang terjadi pada tahun 1873 sampai 1904. Perang terjadi antara kesultanan aceh melawan kolonial, perang yang terjadi lebih dari 30 tahun ini, menandakan bahwa bagaimana perlawanan yang dilakukan umat islam di aceh dalam melawan penjajah yang ingin bebas dari kolonialisme. Perang aceh sendiri berakhir karena adanya orang belanda yang  masuk dalam sendi-sendi kehidupan kesultanan aceh, yaitu Christiaan Snouck Hurgronje yang menyamar sebagai umat islam dalam mempelajari kebudayaan di kesultanan aceh, sehingga pergerakan yang dilakukan umat islam di aceh khususnya di kesultanan aceh akhirnya berhasil di taklukan belanda.[4]
Pergerakan kebangsaan islam di nusantara yang bersifat tradisional yang dilakukan melalui perang ini terus mengalami kekalahan dari pemerintah belanda, maka memasuki abad-20 pergerakan kebangsaan umat islam mengalami perkembangan, perkembangan corak pergerakan kebangsaan Indonesia ini tidak lepas dari munculnya kaum intelektual dalam masyarakat Indonesia, pergerakan kebangsaan yang tradisional kemudian diubah kea rah yang modern, pergerakan kebangsaan yang dilakukan yakni pergerakan melalui pergerakan yang bersifat organisasi, pergerakan organisasi islam yang kini tetap ada sampai sekarang.

2.      Pergerakan kebangsaan modern umat islam di Indonesia
Pergerakan kebangsaan umat islam yang berlangsung sejak adanya bangsa asing masuk dan melakukan kolonialisme terus mengalami kegagalan, hal ini lah membuat munculnya corak dan sifat baru umat islam dalam melawan penjajah dalam menumbuhkan sikap kebangsaan rakyat Indonesia. maka dibentuklah organisasi islam guna merangkul dan membentuk satu kesatuan dalam melawan penjajah, organisasi pertama yang dibentuk adalah Serikat Islam. Dalam membangun pergerakan kebangsaan, terdapat beberapa organisasi yang membuat pergerakan kebangsaaan Indonesia tumbuh yakni
1.      Sarekat Islam (SI)
Serikat Islam (SI) pada awalnya adalah perkumpulan bagi para pedagang muslim yang didirikan pada akhir tahun 1911 di Solo oleh H. Samanhudi. Nama semula adalah Sarekat Dagang Islam (SDI). Kemudian tanggal 10 Nopember 1912 berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). H.Umar Said Cokroaminoto diangkat sebagai ketua, sedangkan H.Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Latar belakang didirikannya organisasi ini pada awalnya untuk menghimpun dan memajukan para pedagang Islam dalam rangka bersaing dengan para pedagang asing, dan juga membentengi kaum muslimin dari gerakan penyebaran agama Kristen yang semakin merajalela. Dengan nama Sarekat Islam dibawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto organisasi ini semakin berkembang karena mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Daya tarik utamanya adalah asas keislamannya. Dengan SI mereka (umat Islam) yakin akan dibela kepentingannya.
Keanggotaan SI terbuka untuk semua golongan dan suku bangsa yang beragama Islam. Secara lahir SI tidak menyatakan diri sebagai organisasi partai politik. Tetapi dalam sepak terjangnya jelas kelihatan sebagai organisasi politik. Kegiatan politik dilakukan dengan sangat hati-hati dan bertahap. Dalam kongres tahun 1914, Cokroaminoto mengatakan bahwa SI akan bekerjasama (kooperatif) dengan pemerintah dan tidak berniat melawan pemerintah. Dua tahun kemudian dalam kongresnya di Bandung, dia melancarkan kritik terhadap praktek kolonialisme yang telah menyengsarakan rakyat. Dalam kongres itu SI menuntut supaya Indonesia diberi pemerintahan sendiri dan rakyat diberi kesempatan untuk duduk dalam pemerintahan. Semakin lama sikap SI semakin keras. Abdul Muis salah satu tokoh SI mengatakan, jika tuntutan-tuntutan itu tidak diindahkan pemerintah (penjajah), anggota SI bersedia membalas kekerasan dengan kekerasan. Pada waktu pemerintah mendirikan Volksraad (Dewan Rakyat), SI mendudukkan wakilnya dalam dewan itu, antara lain Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Setelah ternyata Volksrad tidak bisa dipakai sebagai lembaga untuk memperjuangkan kemerdekaan, SI pun menarik wakilnya. Demikian SI beralih ke strategi non-kooperatif.
2. Muhammadiyah
Muhammadiyah secara etimologi artinya pengikut Nabi Muhammad. Adalah sebuah organisasi non-politis yang bertujuan mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw; memberantas kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama (bid’ah) dan memajukan ilmu agama Islam di kalangan anggotanya. Organisasi ini didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 Nopember 1912
3. Nahdlatul Ulama
(NU) artinya kebangkitan para ulama. Adalah sebuah Organisasi sosial keagamaan yang dipelopori oleh para ulama atau kiyai. Mereka itu ialah K.H.Hasyim Asy’ari, K.H.Wahab Hasbullah, K.H.Bisri Syamsuri, K.H.Mas Alwi , dan K.H.Ridwan. Lahir di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 dan kini menjadi salah satu organisai dan gerakan Islam terbesar di tanah air.
Pada perkembangan selanjutnya, NU mengubah haluannya. Selain sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang sosial keagamaan, juga mulai ikut dalam kehidupan politik. Tahun 1937 bergabung dengan Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI). Hal ini terus berlangsung sampai dibubarkannya pada masa penjajahan Jepang tahun 1943, yang kemudian diganti Masyumi. Dalam Masyumi, NU adalah bagian yang sangat penting sampai tahun 1952. Dalam Muktamarnya yang ke 19 tanggal 1 Mei 1952 menyatakan diri keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri. Kemudian NU bersama dengan PSII dan Perti membentuk Liga Muslim Indonesia sebagai wadah kerja sama partai politik dan organisasi Islam..
4. Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI)
MIAI ini sebenarnya berdiri pada masa pemerintahan Belanda, yaitu tanggal 21 September 1937 di Surabaya sebagai organisasi federasi yang diprakarsai oleh K.H. Mas Mansur, K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), K.H. Wahab Hasbullah (NU) dan Wondoamiseno (PSII). Tujuan didirikan MIAI ini adalah agar semua umat Islam mempunyai wadah tempat membicarakan dan memutuskan semua soal yang dianggap penting bagi kemaslahatan umat dan agama Islam. Keputusan yang diambil MIAI harus dilaksanakan oleh semua organisasi yang menjadi anggotanya.
Pada akhir pemerintahan Hindia Belanda MIAI memberikan dukungan terhadap aksi Indonesia berparlemen yang dicanangkan oleh GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Pada waktu GAPI menyusun rencana konstitusi untuk Indonesia, MIAI menghendaki agar yang menjadi kepala negara adalah orang Indonesia yang beragama Islam dan dua pertiga dari menteri-menteri harus orang Islam.
Ketika Jepang datang ke Indonesia seluruh organisasi yang ada di Indonesia dibekukan, termasuk MIAI. Tapi khusus MIAI tanggal 4 September 1942 diperbolehkan aktif kembali. Jepang melihat bahwa MIAI bersifat kooperatif dan tidak membahayakan. Selain itu Jepang berharap dapat memanfaatkan MIAI ini untuk memobilisasi gerakan umat Islam guna menopang kepentingan penjajahannya. Selain itu, Jepang juga membantu perkembangan kehidupan agama. Kantor urusan agama yang pada masa Belanda diketuai oleh seorang orientalis Belanda, diubah oleh Jepang menjadi Shumubu (Kantor Urusan Agama) yang dipimpin oleh orang Indonesia, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Umat Islam pada saat itu juga diizinkan membentuk Hizbullah yang memberikan pelatihan kemiliteran bagi para pemuda Islam, yang dipimpin oleh K.H.Zaenal Arifin. Demikian pula diizinkan mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakir dan Moh. Hatta.
6. Masyumi
Masyumi kepanjangan dari Majlis Syura Muslimin Indonesia berdiri tahun 1943.  Dalam Muktamar Islam Indonesia tanggal 7 Nopember 1945 disepakati bahwa Masyumi adalah sebagai satu-satunya partai Islam untuk rakyat Indonesia. Saat itu juga Masyumi mengeluarkan maklumat yang berbunyi :” 60 Milyoen kaum muslimin Indonesia siap berjihad fi sabilillah “, Pernyataan ini direkam dengan baik oleh harian Kedaulatan Rakyat pada tanggal 8 Nopember 1945. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dan didampingi K.H.Hasyim Asy’ari. Tergabung dalam organisasi ini adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, dan Sarekat Islam. Tokoh-tokoh lain yang penting misalnya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Wahab dan tokoh-tokoh muda lainnya misalnya Moh. Natsir, Harsono Cokrominoto, dan Prawoto Mangunsasmito.
C.     Perbedaan  modernisasi dan tradisional Pergerakan Kebangsaan islam di Indonesia adalah sebagai berikut.
1-   Pergerakan islam masa tradisional, dalam melakukan pergerakan kebangsaan lebih kedaerahan, sedangkan pada masa modern sudah mencakup seluruh wilayah Indonesia
2-      Pergerakan yang dilakukan masa tradisional, dilakukan memalui peperangan melawan penjajahan yang terpusat pada peran kesultanan atau ulama, sedangkan pada masa modern pergerakan kebangsaan islam berubah menjadi bersifat sebuah organisasi dalam melawan penjajah.
3-      Pergerakan kebangsaan pada masa tradisional dapat dikalahkan dengan mudah oleh kolonial, karena adanya perbendaan dari senjata dan perang, sedangkan masa modern pergerakan kebangsaan menggunakan organiasi yang tidak hanya dalam bentuk politik tetapi dalam hal pendidikan,








Kesimpulan
Sepanjang sejarah Indonesia perkembangan islam tidak bisa dikesampingkan, karena dalam pergerakan kebangsaan Indonesia tidak lepas dari para ulama serta kerajaan islam yang berkembang di nusantara dalam melawan penjajah, pergerakan kebangsaan Indonesia dalam melawan sudah dilakukan sejak masuknya kolonial kedalam nusantara, kerajaan-kerajaan yang bercorak islam melakukan pergerakan secara langsung terhadap penjajah dengan melakukan perang, akan tetapi pergerakan perlawanan dilakukan terus mengalami kegagalan, selain kalah dalam persenjataan kurang bersatunya elemen dalam masyarakat Indonesia juga mempengaruhi gaglnya gerakan kebangsaan dalam melawan penjajah, memasuki abad 20 corak pergerakan kebangsaan mengalami perubahan, terutama setelah munculnya organisasi-organisasi islam seperti Serikat dagang islam yamg merukan awal dibentuk organisasi pergerakan kebangsaan, dengan adanya organisasi tersebut maka pergerakan kebangsaan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia pada umumnya serta umat islam khususnya mengalami perubahan dari tradisional ke moder.













                                Daftar Pustaka
Sudirman, Adi,2014. Sejarah Lengkap Indonesia.Jogjakarta : DIVA Pres.
http://ilmusosial.net/perlawanan-kerajaan-islam-terhadap-voc.html




[1] Sudirman, Adi,2014. Sejarah Lengkap Indonesia.Jogjakarta : DIVA Pres.
[2] Ibid. Hal.294
[3] Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang dijuluki sebagai Kaum Padri terhadap kebiasaan-kebiasaan yang marak dilakukan oleh kalangan masyarakat yang disebut Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya. Kebiasaan yang dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Tidak adanya kesepakatan dari Kaum Adat yang padahal telah memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan tersebut memicu kemarahan Kaum Padri, sehingga pecahlah peperangan pada tahun 1803.
[4] Ibid hal 195

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...