Historiografi
Indonesia dalam Pencarian Identitas
(Kuntowijoyo)
Para
sejarawan yang peduli akan identitas historiografi Indonesia , berkumpul untuk
menentukan arah dari penulisan sejarah Indonesia, meski sejarawan dari berbagai
daerah, yang mempunyai pandangan yang berbeda, kepentingan diri sendiri
dilupakan demi kepentingan nasional. Maka pada tahun 1957 di Yogyakarta di
adakan seminar nasional pertama yang salah satu tujuan utamanya menentukan
ideology historiografi Indonesia, karena penulisan sejarah Indonesia pada
umumnya bersifat kolonilisasi, sebelumnya telah ada penulisan sejarah yang
bukan atau tidak kolonilisasi seperti tulisan dari elah ada sudah menjadi
historiografi ideologis pada dekade 1950-an sebelum seminar Sejarah nasional 1,
untuk contoh, Muhammad Yamin diterbitkan Sedjarah peperangan Diponegoro
Pada
tahun 1962 john smail "tentang
kemungkinan sejarah otonom modem asia tenggara" di jurnal sejarah Asia
tenggara ia affered konsep sejarah otonom dengan menekankan pentingnya adat
dinamika sementara pasukan asing hanya lampiran, tesis di dia aceh, perang
padre (1821-1838) di mana tuanku yang (pemimpin agama) dan penghulu (pemimpin
klan) berada di confict konflik antara aceh dan siak dan uleebalang dan
persaingan ulama di aceh,
Namun
selain karena ingin mencari identitas historiografi Indonesia sentris yang
lepas dari kolonialsenttris, sejarawan berkumpul melakukan seminar ini juga
ingin melihat histografi Indonesia dalam identitasnya , apakah di pengaruhi
oleh gerakan komunis Indonesia, yang pada tahun 1954 gerakan DN adit mempunyai pengaruh besar
terhadap sejarah Indonesia . kemudian
pada seminar kedua pada tahun 1970, para sejarawan ingin melibatkan ilmu sosila
lainnya, agar histiriografi Indonesia , tidak hanya milik satu disiplin saja
yaitu ilmu sejarah melainkan ilmu sosial lainya,, Sartono kartodirjo, dalam
tulisan yaitu gerakan petani banten, yang melibatkan ilmu ekonomi dalam
penulisannya,
Historiografi
Indonesia setiap zaman nya mempunyai ciri-ciri dalam penulisannya, terutama
pada masa orde baru dimana penulisan sejarah sangat kental atau dipengaruh oleh
resim pemerintahan , dimana sejarwan harus berhari-hari dalam penyampaiaan pada
masyarakat setiap peristiwa, sejarah militer hanya dibuat oleh para petinggi
militer atau orang0-orang militer, apabila sejarwan menulis berbeda dengan keinginan pemerintah
makadia anggap telah melanggar aturan atau murtad.
Ideologi
dekolonisasi seminar Sejarah nasional I (1957) berarti bahwa sejarawan
menghasilkan permintaan populer tanpa reserve. non-ideologi seminar Sejarah
nasional III dan setelah itu adalah keterasingan ilmu dari seluruh masyarakat.
Untuk berpikir dialektis, harus ada keadaan yang lebih tinggi yang saya sebut etika.
sikap non-ideologis keterasingan membuat sejarah tidak responsif terhadap
kebutuhan kritik sosial. Tidak adanya kritik sosial gigih terbukti telah
merugikan bagi masyarakat. urutan perkembangan ideologi baru dengan
nasionalisme politik vertikal (yang berlaku hanya lain "politik sebagai
panglima" (politik sebagai perintah tertinggi) kebijakan seperti yang
dilakukan pki tidak mentolerir perbedaan. dengan mengasingkan diri dari
masyarakat, sejarah mampu menghindari pengaruh bahwa politik hari, tapi itu tidak
dapat menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat. sikap semacam ini adalah tidak
sehat bagi sejarawan diri mereka sendiri dan untuk negara serta umum masyarakat
Era
baru yang disebut rangka reformasi layak untuk memiliki historiografi sendiri,
biasanya setiap usia memiliki tren tersendiri di scholarhip sejarah. kami ingin
membuat sejarah fungsional, tapi tidak dipengaruhi oleh masyarakatnya, sangat
banyak seperti ikan di laut yang tidak pernah menjadi asin, sejarawan harus
responsif terhadap iklim pendapat dari masyarakat (skotheim, 1969).Dan setelah
berakhirnya masa orde baru , maka Indonesia memasuki masa reformasi penulisan
sejarah Indonesia ,mempunyai kebebasan serta bisa mencari identitas
historiografi Indonesia
No comments:
Post a Comment