Nama : Rudi Hartono
Nim : I1A114005
Matakuliah : Historiografi
Pengalaman
yang Berlaku, tantangan yang mendatang :
Ilmu Sejarah di tahun 1970-an dan 1980
(Taufik
Abdullah)
“Tugas Sejarawan ialah menemukan,
melukiskan, dan menerangkan aspek sosial dan akibat yang ditimbulkan oleh apa
yang dilakukan dan diderita manusia”(Isaiah berlin)
Tantangan
dalam penulisan sejarah terutama yang dilakukan para sejarawan harus dihadapi
terutama dalam hal metodelogis sejarah
karena penemuan-penemuan elemen sejarah yang factual yang dikisahkan,
karena elemen tersebut bersifat fragmentasis , yang terpenggal , selain itu
bahasa yang disampaikan terhadap suatu peristiwa sejarah terkadang tidak
seutuhnya sesuai dengan realitas. Corak
penulisan sejarah harus sesuai dengan ilmu yang berkembang, penulisan kisah
sejarah yang deskripsi hanya sebatas kisah, terkadang penulisan sejarah hrus
nararative untuk menggambarkan sejarah sebagai kisah, selain itu sejarawan
harus bisa melakukan verifikasi dan klarifikasi dari fakta sejarah .
Dalam
rekontruksi sejarah yang mencoba menghadirkan kembali kelampauan yang tidak hanya behadapan dengan
pemahaman empiris terhadap historis tetapi juga asumsi teoretis dari sang
sejarawan. Masalah pokok bukanlah pada
penulisan sejarah bukan pada kemungkinan telah rusaknya suatu suatu accepted
history, sejarah yang telah diterima kbenarannya bahkan tidak pula selalu
bertolak dari sebelum terdpatanya kepastian-historis (historical centinty),
tetapi terutama ketika kewajaran
historis (historical fairness), yang mengikat komunitas sejarah telah
terganggu kelangsungan komunitas sejarah itu yang menjadi sebuah solidaritas
tertentu.
Konflik
antar komunitas sejarah umumnya bersifat latent, yang reaksidari komunitas
sejarah terhadap segala tantangan ang akan mengurangi validitas kewajaran
historis, dalam konteks masyarakat tradisional, historical fairness adalah
segalanya baik sebagai mythos-peneguh, maupun sebagai dasar legimitasi
kekuasaan, sejarawan “seluruhnya” terluluh dalam masyarakatnya yang juga sering
merupakan komunitas sejarahnya apapun suasana ideology corak sossiologis darikomunitas itu.
Perkembangan
historiografi ditanah air dapat dipahami dari seminar pertama pada 1957, bahwa
penulisaan sejarah disamping nilai-nilai nasionalisme juga secara synthesis
(istilah Prof. Mr. Muh Yamin). Atau multiple approach (istilah Soedjamoko) dan
secara ilmiah dapat dipertangung jawabkan apabila unsur kebenaran dan objectivier
yang menjadi syarat mutlak bagi penyusunan sjarah nasional tidak diabaikan.
Selain itu pendekatan synthesis dan methodelogis.
Pedekatan
multisimensional yang dipelopori Sartono Kartodirdjo, bertolak dan praduga
teoritis bahwa sejarah sebagai untaian peristiwa-peristiwa di kelampauan
hanyalah mungkin dimengerti dan diterangkan dalam konteks structural yang
merupakan wadah dari peristiwa itu, suatu peristiwa tidak ditimbulkan oleh
faktor tunggal, tetapi oleh kovergensi sebagai faktor.perbedaan keakraban dari
berbagai faktor itu dengan peristiwa event hnyalah mungkin diketahui dengan
pengujian yang kritis dan emperis, karena itu lah rekontruksi sejarah yang telah menggabungkan secara utuh
kronikel , kisah, dan keterangan peristiwa di anggap sebagai “a crowning
achievement”
Dalam
multi dimensional ada dua implikasi t yang keras terhadap sejarah, penekanan
pada pencarian kaitan antara peristiwa dengan konteks structural yang menjadi
wadah peristiwa secara implisit menolak determinisme sejarah. Kedua, masalah objektivitas sejarah
dipindahkan dari lapangan filsafat ke problem metodelogis. Masalahnya bukanlah
terletak pada pengakuan kelemahan manusia yang tidak terlepas dari
subjektivitasme, tetapi pada pendekatan methodelogi, kemampuan teknis,
kejujuran intellectual dan historical judgment dari sejarawan, dan sejarah
tergantung dari ada atau tidaknya sumber yang evident.
Dari
sudut methodelogis, pendekatan multi dimensional, berkaitan erat dengan
munculnya gejala lain dalam penelitian dan penulisan sejarah, para sejarawan
sudah menggabungkan ilmu-ilmu sosial, dengan konsep yang telah ada dari ilmu
sosial. Penulisan sejarah tidak lagi diterangkan hanya kisah , penulisan
sejarah tidak hanya tentang politik
tidak lagi jadi monopoli dalam penulisan sejarah, penulisan sudah mengalami
perkembangan sejarah sosial dan lokal mulai menampilkan diri dalam penulisan
sejarah.
Keakraban
ilmu sejarah dengan cabang ilmu lain membuat ilmu sejarah sebagai academic
enterprise berkembang dengan baik, dan
perkembangan dalam hal teori dan methodelogis secara horinzontal yang
tidak seimbang karena sebagian besar sejarawan berasal dai universitas gajah
mada. Sejarah kata mary wright kira-kira dua puluh tahun yang lalu, secara
implisit bersifat komparatif, yang tidak ada generalisasi dan konsep, sehingga
sejarawan bisa bekata tentang”perang”revolusi”serta elite penguasa.
Demikian
kemajuan yang di dapat dari penyelesaian masalah yang di hadapi, sejarawan
harus bisa berinteraksi dengan masyarakat dan juga tentunya dunia akademik,
karena keduanya merupakan kunci dari kesuksesan sejarwan dalam menulis sejarah,
ilmu sejarah bisa saja dimasukin semua orang karena sejarah mrupakan ilmu yang
bisa dimasukin oleh berbagai disiplin ilmu, dan sejarawan sebagai orang akdemis
harus bisa mengusai semua nya.
No comments:
Post a Comment