Thursday, 27 April 2017

Review artikel Pak Taufik Abdullah : Ilmu Sejarah di tahun 1970 - 1980

Nama               : Rudi Hartono
Nim                 : I1A114005
Matakuliah      : Historiografi

Pengalaman yang Berlaku, tantangan  yang mendatang : Ilmu Sejarah di tahun 1970-an dan 1980
(Taufik Abdullah)

“Tugas Sejarawan ialah menemukan, melukiskan, dan menerangkan aspek sosial dan akibat yang ditimbulkan oleh apa yang dilakukan dan diderita manusia”(Isaiah berlin)
Tantangan dalam penulisan sejarah terutama yang dilakukan para sejarawan harus dihadapi terutama dalam hal metodelogis sejarah  karena penemuan-penemuan elemen sejarah yang factual yang dikisahkan, karena elemen tersebut bersifat fragmentasis , yang terpenggal , selain itu bahasa yang disampaikan terhadap suatu peristiwa sejarah terkadang tidak seutuhnya  sesuai dengan realitas. Corak penulisan sejarah harus sesuai dengan ilmu yang berkembang, penulisan kisah sejarah yang deskripsi hanya sebatas kisah, terkadang penulisan sejarah hrus nararative untuk menggambarkan sejarah sebagai kisah, selain itu sejarawan harus bisa melakukan verifikasi dan klarifikasi dari fakta  sejarah .
Dalam rekontruksi sejarah yang mencoba menghadirkan kembali  kelampauan yang tidak hanya behadapan dengan pemahaman empiris terhadap historis tetapi juga asumsi teoretis dari sang sejarawan. Masalah pokok  bukanlah pada penulisan sejarah bukan pada kemungkinan telah rusaknya suatu suatu accepted history, sejarah yang telah diterima kbenarannya bahkan tidak pula selalu bertolak dari sebelum terdpatanya kepastian-historis (historical centinty), tetapi terutama ketika kewajaran  historis (historical fairness), yang mengikat komunitas sejarah telah terganggu kelangsungan komunitas sejarah itu yang menjadi sebuah solidaritas tertentu.
Konflik antar komunitas sejarah umumnya bersifat latent, yang reaksidari komunitas sejarah terhadap segala tantangan ang akan mengurangi validitas kewajaran historis, dalam konteks masyarakat tradisional, historical fairness adalah segalanya baik sebagai mythos-peneguh, maupun sebagai dasar legimitasi kekuasaan, sejarawan “seluruhnya” terluluh dalam masyarakatnya yang juga sering merupakan komunitas sejarahnya apapun suasana ideology  corak sossiologis darikomunitas itu.
Perkembangan historiografi ditanah air dapat dipahami dari seminar pertama pada 1957, bahwa penulisaan sejarah disamping nilai-nilai nasionalisme juga secara synthesis (istilah Prof. Mr. Muh Yamin). Atau multiple approach (istilah Soedjamoko) dan secara ilmiah dapat dipertangung jawabkan apabila unsur kebenaran dan objectivier yang menjadi syarat mutlak bagi penyusunan sjarah nasional tidak diabaikan. Selain itu pendekatan synthesis dan methodelogis.
Pedekatan multisimensional yang dipelopori Sartono Kartodirdjo, bertolak dan praduga teoritis bahwa sejarah sebagai untaian peristiwa-peristiwa di kelampauan hanyalah mungkin dimengerti dan diterangkan dalam konteks structural yang merupakan wadah dari peristiwa itu, suatu peristiwa tidak ditimbulkan oleh faktor tunggal, tetapi oleh kovergensi sebagai faktor.perbedaan keakraban dari berbagai faktor itu dengan peristiwa event hnyalah mungkin diketahui dengan pengujian yang kritis dan emperis, karena itu lah rekontruksi  sejarah yang telah menggabungkan secara utuh kronikel , kisah, dan keterangan peristiwa di anggap sebagai “a crowning achievement”
Dalam multi dimensional ada dua implikasi t yang keras terhadap sejarah, penekanan pada pencarian kaitan antara peristiwa dengan konteks structural yang menjadi wadah peristiwa secara implisit menolak determinisme sejarah.  Kedua, masalah objektivitas sejarah dipindahkan dari lapangan filsafat ke problem metodelogis. Masalahnya bukanlah terletak pada pengakuan kelemahan manusia yang tidak terlepas dari subjektivitasme, tetapi pada pendekatan methodelogi, kemampuan teknis, kejujuran intellectual dan historical judgment dari sejarawan, dan sejarah tergantung dari ada atau tidaknya sumber yang evident.
Dari sudut methodelogis, pendekatan multi dimensional, berkaitan erat dengan munculnya gejala lain dalam penelitian dan penulisan sejarah, para sejarawan sudah menggabungkan ilmu-ilmu sosial, dengan konsep yang telah ada dari ilmu sosial. Penulisan sejarah tidak lagi diterangkan hanya kisah , penulisan sejarah tidak hanya  tentang politik tidak lagi jadi monopoli dalam penulisan sejarah, penulisan sudah mengalami perkembangan sejarah sosial dan lokal mulai menampilkan diri dalam penulisan sejarah.
Keakraban ilmu sejarah dengan cabang ilmu lain membuat ilmu sejarah sebagai academic enterprise berkembang dengan baik, dan  perkembangan dalam hal teori dan methodelogis secara horinzontal yang tidak seimbang karena sebagian besar sejarawan berasal dai universitas gajah mada. Sejarah kata mary wright kira-kira dua puluh tahun yang lalu, secara implisit bersifat komparatif, yang tidak ada generalisasi dan konsep, sehingga sejarawan bisa bekata tentang”perang”revolusi”serta elite penguasa.

Demikian kemajuan yang di dapat dari penyelesaian masalah yang di hadapi, sejarawan harus bisa berinteraksi dengan masyarakat dan juga tentunya dunia akademik, karena keduanya merupakan kunci dari kesuksesan sejarwan dalam menulis sejarah, ilmu sejarah bisa saja dimasukin semua orang karena sejarah mrupakan ilmu yang bisa dimasukin oleh berbagai disiplin ilmu, dan sejarawan sebagai orang akdemis harus bisa mengusai semua nya.

No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...