Abstrak
Pemikiran
mengenai sejarah terus mengalami perkembangan, setelah munculnya filsafat
mengenai sejarah. Maka pemikiran memngenai sejarah terus bermunculan salah satu
filsafat sejarah yang lahir adalah filsafat sejarah naratif. Filsafat sejarah naratif
sendiri, muncul guna mengkritik terhadap filsafat sebelumnya yaitu filsafat
sejarah kritis, filsafat sejarah naratif sendiri muncul tidak hanya dari satu
aliran ilmu saja tetapi berdasarkan berbagai ilmu pengetahuan. Kemunculan
filsafat sejarah naratif tidak muncul begitu saja, ada akar pemikiran yang
mendasari lahirnya filsafat sejarah naratif itu sendiri. Filsafat sejarah
kritis yang sudah berkembang sebelum filsafat sejarah naratif lebih
mengedepankan teori sejarawan yang berdasarkan bukti teks yang disusun secara
emperik, hal ini lah yang membuat para pemikir sejarah ingin mengubah pemikiran
mengenai sejarah yang sudah berkembang melalui filsafat sejarah narartif, yang
dituangkan dalam kerangka analisis mengenai filsafat naraif itu sendiri. Untuk
mengetahui mengenai arti dari sejarah.
Kata Kunci: Filsafat Sejarah Narartif,
Akar pemikiran Filsafat naratif, Kerangka
Analisis
Bab I
Pendahuluan
A. Latar
belakang
Dengan adanya
perkembangan tentang filsafat ilmu pengetahuan, maka studi tentang empiric
mengenai ilmu pengetahuan semakin dikaji. Kemunculan filsafat sejarah naratif
yang sekaligus menentang filsafat sejarah spekulatif dan filsafat sejarah
kritis analisis, pemikiran-pemikiran para sejarawan terhadap filsafat sejarah
yang mulai mengalami perdebatan di mengenai filsafat dalam sejarah. Perdebatan-
perdebatan yang terjadi bukanlah tanpa alasan, perdebatan terjadi karena para
penganut filsafat sejarah membenarkan filsafat yang di percayai. Memasuki tahun
1970 filsafat sejarah Naratif muncul sebagai filsafat yang menentang
filsafat-filsafat sebelumnya yakni filsafat spekulatif dan filsafat
kritis-analisis.[1]
Dalam kehadiran sebagai aliran filsafat yang
baru, maka filsafat sejarah narartif mempunyai akar pemikirannya sendiri yakni
epistemology sejarah menurut filsafat sejarah naratif, kemudian bagaimana bukti
sendiri (Evidence )dalam melakukan
penenlitian mengenai pengetahuan tentang sejarah, kemudian setelah tahu
epistemology, dan bukti senjarah itu sendiri atau sumber sejarah maka filsafat
sejarah naratif membahas atau perjelas kembali tentang teori dalam pengetahuan
sejarah. Dan setelah semua telah terkumpul dibutuhkan kerangka untuk
menganalisis pengetahuan sejarah.
Filsafat sejarah
naratif yang hadir sebagai pembantah dari sebelumnya tentu mempunyai kelebihan
mengenai filsafat pengetahuan sejarah, untuk itulah kami tertarik dengan judul
makalah yang diberikan yaitu mengenai akar pemikiran filsafat sejarah narif
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagimana Epistemologi Sejarah dalam pandangan filsafat sejarah naratif
2.
Bagaimana Filsafat Sejarah Narartif
tentang Bukti Sejarah
3.
Bagaimanan Pandangan Filsafat Sejarah
Naratif tentang Teori
4.
Apa Kerangka analisis Filsafat Sejarah
Naratif
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui epistemology sejarah
dalam filsafat sejarah naratif
2.
Untuk mengetahui pandangan filsafat
sejarah naratif mengenai bukti sejarah
3.
Mengetahui tentang teori sejarah dalam
filsafat sejarah naratif
4.
Serta mengetahuian apa kerangka dalam
menganalisis filsafat sejarah naratif
Bab II
Pembahasan
A.
Akar Pemikiran Filsafat Sejarah Naratif
Sama halnya dengan
filsafat sejarah kritis, yang muncul karena menggantikan Filsafat sebelumnya
yang spekulatif tentang pengetahuan baru mengenai sejarah yang ilmiah, filsafat
sejarah naratif juga hadir sebagai pengetahuan baru mengenai sejarah. Filsafat
sejarah Naratif muncul karena menggugat Mainstream
sejarah ilmiah yang bersumber dari filsafat sejarah kritis[2]. Filsafat
sejarah narartif yang berkembang tidak lantas membuat filsafat sebelumnya
ditinggalkan hanya saja dalam perkembangannya filsafat sejarah kritis dan
spekulatif mulai menghilang dan hanya digunakan untuk dipelajari.
Untuk mengenai lebih jauh mengenai
filsafat sejarah naratif, beberapa pokok yang harus diketahui yaitu
1. Tentang
Epistemologi Filsafat Sejarah naratif
Seperti ilmu
pengetahuan lain, mengenai ilmu sejarah timbul pertanyaan mengenai epistemologi
sejarah itu sendiri.[3]
apakah sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang mempunyai epistemologi, atau
hanya tiruan dari ilmu posotivistik seperti ilmu-ilmu sosial lainnya.[4]
Mengenai pengetahuan sejarah, para sejarawan profesonal sudah sadar bahwa
pengetahuan sejarah diperoleh berdasarkan metodeloginya metode sejarah itu
sendiri, yang sama dengan ilmu pengetahuan ilmiah lainnya. Inilah membuat tugas dari sejarawan sendiri
untuk bisa merekontruksi kenyataan dari sejarah guna memperoleh makna (Meaning), menjelaskan sejarah itu dalam
bentuk tulisan yang berkaitan dengan hubungan-hubungan dari peristiwa,
tujuan dan pelaku sejarah itu sendiri.
Sehingga dengan menggunakan metode sejarah maka peristiwa yang terjadi masa
lampau bisa diketahui kenyataannya berdasarkan hasil dari sumber-sumber yang
berdasarkan metode senjarah sendiri maupun ditambah dengan metode ilmu bantu
lainnya.
Filsafat sejarah naratif mengungkapkan bahwa
tidak mungkin mencapai kajian emperik serta kebenaran dalam penelitian sejarah,
karena objek yang terletak pada masa lampau, serta tidak berdasarkan logika
dedutif jika menggunakan metode eksprerimental yang bersifat umum.[5]namun
sejarawan harus menyeleksi data yang diperoleh dan yang memiliki keunikan serta
bersifat subjektib sehingga dalam filsafat sejarah naratif ini hal yang
bersifat generalistik universal tidak harus dijelaskan hal yang bersifat unik
dan individual saja. Sehingga menurut filsafat sejarah naratif epistemologi
dari sejarah tidak memiliki hal yang khusus atau otonom melainkan hanya dalam
bentuk pengetahuan sastra yang berdasarkan logika naratif dalam filsafat
sejarah.[6]
2. Tentang
bukti (Evidence)
Dalam menjadikan sumber
primer sejarah sejarawan menggunakan sumber teks, sehingga filsafat sejarah
narartif keberatan dengan penggunaan tersebut yakni mengenai kedudukan dari
teks itu sendiri serta dari representasinya. Karena teks merupakan bahasa
sehingga apabila menggunakan teks banyak
mengandung makna-makna yang mengandung struktur naratif yang diciptakan oleh
penciptanya.
Sehingga sumber sejarah
berupa teks mengandung bentuk-bentuk reperesentasi dari masa lalu yang
terstruktural yang mengnadung ideologis namun sumber teks juga mengandung
hal-hal yang berkaitan dengan kekuasaan, sehingga dalam penelitian sejarah
sejarawan dalam melakukan mengungkapkan kebenaran tidak mutlak kebenaran,
karena nilai kebenaran teks tergantung yang menciptakannya bukan pada
sejarawan. Sejarawan dalam melakukan penyelidikan terhadap masal lampau
menggunakan kritik sumber sejarah dalam bentuk teks atau dokumen yang
menghasilkan ilmu pengetahuan tentang sejarah yang tidak lepas dari bahasa
dalam menguraikan dari peristiwa yang terjadi masa lampau tersebut.
Pengertian sejarah itu
sendiri diperoleh dari data teks atau naratif, namun data yang diperoleh tidak
serta merta dibuat oleh sejarawan, data tersebut terlebih dahulu harus
melakukan kritik sumber terhadap sumber yang didapat baik ekstern maupun
intern.[7]sehingga
teks yang digunakan sebagai sumber primer dalam sejarah merupakan cara
menjelaskan kebenaran pada masa lampau, meski sejarah tidak langsung menyaksikan
peritiwa masa lalu tersebut, sesuai ditaktum klasik “No Dokumen, No History”. Karena itu menurut pandangan filsafat
sejarah naratif menulis sejarah tidak sama dengan menulis kebenaran kecuali
dalam prespetif dari sejarawan itu sendiri.[8]
3. Tentang
Teori Sejarah
Hal yang lain, dalam
akar pemikiran sejarah naratif adalah mengenai teori dalam sejarah, mengenai teori
dalam sejarah banyak perdebatan dalam kalangan sejarawan. Sebagian Sejarawan
menolak mengenai teori dalam sejarah hal ini Karena mereka beralasan bahwa ilmu sejarah tidak butuh
teori dalam melakukan pengkajian mengenai sejarah, da nada sebagian menganggap
bahwa teori dalam studi sejarah perlu karena dengan adanya teori maka bisa
membantu dalam menerangkan gejala yang akan diselidiki.[9]
Namun banyak yang menggunakan model dan menggap sebagai konsep yang artinya
sejarawan tidak harus menyeluruh menerapkan teori kedalam studi sejarah dan bukan menggunakan sejarah untuk
mengembangkan teori.
Perbedaan mengenai
teoritis-metodelogis yang disebutkan diatas inilah memicu terjadi perdebatan
dan kesalahpahaman di kalangan baik itu sesama sejarawan yang berbeda aliran
maupun dari berbeda disiplin ilmu yang
lainnya.hingga munculnya dan berkembangnya tiga teori pendekatan sejarah.
Teori-teori pendekatan
utama dalam pendekatan sejarah yaitu
1. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme
berasal dari bahasa Inggris Reconstruct
yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran
rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama
dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Maka dari itu
rekonstruksionisme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan
utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan baru
seluruh lingkungannya[10].
2. Konstruksionisme
Istilah strukturalisme identik dengan Levi
Strauss dan Annalles School. Tradisi ini muncul sebagai kritik terhadap
pendekatan narativisme. Mazhab struktural menekankan bahwa seorang tokoh besar
tidak lahir dan berkembang dalam ruang hampa, melainkan ia hadir dalam konteks
struktur sosial tertentu. Mazhab struktural memaparkan bahwa struktur sosial
dapat terbentuk karena pengaruh geografis. Singkatnya, seorang tokoh yang
berperan dalam suatu peristiwa sejarah dipengaruhi secara dominan oleh
determinan fisik.[11]
3. Dekonstruksionisme.
Sejarah
dekonstruksionisme merupakan sejarah baru atau new historicism yang merupakan hasil dari sejarah narartif, yang
menolak pemahaman tentang sejarah yang sudah ada. Model pendekatan
dekonstruksionisme mengubah sejarah yang selama ini tenjadi kajian ilmu naratif
atau the science of narrative.[12]
Ilmu cerita. Sehingga sejarah merupakan hasil kreasi (interpretasi) sejarawan.
B. Analisis
Filsafat sejarah Naratif
sama
sekali lain dari model analisis dalam filsafat sejarah spekulatif (metasejarah)
atau pun filsafat sejarah kritis- analisis (sejatrah ilmiah) sejalan dengan
tesis utamannya bahwa sejarah artefak sastra maka ruang lingkup kajiannya
seperti yang diajukan white dalam metahistory didasarkan pada upaya
membongkarunsur-unsur naratif dan peranan linguistic dalam penulisan sejarah. Oleh
karena itu sejarah adalah teks sastra maka cara kerja sejarawan menurut white
mengikuti cara kerja penulis sastra yang menganggap bahannya berupa karya
sastra berdasarkan struktur naratif formal.
Dalam
proses ini peneliti mengidenfikasikan kategori-kategori bahasa figurative yaitu
cara menggambarkan ide ata fakta dengan gaya bahasa puitis
Ada
4 hal bentuk gaya bahasa yang menterjemahkan teks prosa menjadi puisi penulisan
sejarah yaitu metafora sinekdoke , metonimi, dan ironi.
Tugas
sejarawan ialah mengidenfikasi teks sejarah“ Kekasihku merupakan sekuntum bunga
mawar” disini ia membandingkan dua hal ,
keduanya secara fisik tidak memiliki persamaan tetapi keduannya indah dan elok ,
lalu ketika mempelajari teks sejarah dari
sejarah.
Selanjutnya
white bergerak ke bentuk-bentuk plot (latar dan alur cerita) dalam hal ini
terdapat empat macam yaitu roman, komedi
, tragedy dan satire Dalam penjelasan sejarah ia mengajukan empat model
penjelasan yaitu formis , organis ., mekanistik, dan kontekstual.Dalam methodenstreit
yakni berkenaan dengan wacana teori metodologi , white mengidenfikasikan empat
model pula yaitu historisis, evolusionis empiris, dan fenomenologis
Bab III
Penutup
Kesimpulan
Kemunculan
filsafat sejarah naratif memberikan nuansa tersendiri bagi corak pemikiran
tentang apa yang menjadi dasar dalam penenlitian pengetahuan sejarah. Pemikiran
–pemikiran baru tentang pengetahuan sejarah mengambil ahli dari pola piker akan
penulisan sejarah, filsafat sejarah naratif muncul untuk menjawab pertanyaan dari
kalangan sejarawan akan pentingnya sebuah sumber sejarah data teks atau dokumen
yang disampaikan secara narartif, dengan melakukan kritik sumber itu sendiri,
sehingga dalam penulisan sejarah akan memunculkan bagaimana menganalisi
kausalitas atau sebab akibat dari peristiwa sejarah tersebut.
Daftar
Pustaka:
Mestika
Zed. 2010. Pengantar Filsafat Sejarah .
Padang: UNP Press.
Tamburaka, Rustam. 1999. Pengantar Ilmu
Sejarah Teori Filsafat Sejarah,Sejarah Filsafat dan Iptek. Rineka Cipta:
Jakarta.
Mahdi
Ghulsyani, Dr. 1989. Filsafat-Sains menurut Al- Quran.Mizan. Bandung.
[2]
Mestika
Zed. 2010. Pengantar Filsafat Sejarah .
Padang: UNP Press. Hal.113
[3] Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan
dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya
serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki
oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan
panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode
deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
[4] positivisme secara terminologis berarti
merupakan suatu paham yang dalam "pencapaian kebenaran"-nya bersumber
dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi
[5]
Ibid hal, 116
[6] Ibid
hal, 117
[8]
Ibid hal,119
[9]
Op.cit
[10] https://dianpelita.wordpress.com/2011/02/21/filsafat-rekonstruktivisme-dan-pendidikan/
[11] https://diankurniaa.wordpress.com/2011/05/02/filsafat-sejarah-narativisme-vs-strukturalisme/
[12]
Ibid hal 123
No comments:
Post a Comment