Friday, 14 April 2017

Epistemologi sejarah dalam Filsafat sejarah Naratif

Abstrak
Pemikiran mengenai sejarah terus mengalami perkembangan, setelah munculnya filsafat mengenai sejarah. Maka pemikiran memngenai sejarah terus bermunculan salah satu filsafat sejarah yang lahir adalah filsafat sejarah naratif. Filsafat sejarah naratif sendiri, muncul guna mengkritik terhadap filsafat sebelumnya yaitu filsafat sejarah kritis, filsafat sejarah naratif sendiri muncul tidak hanya dari satu aliran ilmu saja tetapi berdasarkan berbagai ilmu pengetahuan. Kemunculan filsafat sejarah naratif tidak muncul begitu saja, ada akar pemikiran yang mendasari lahirnya filsafat sejarah naratif itu sendiri. Filsafat sejarah kritis yang sudah berkembang sebelum filsafat sejarah naratif lebih mengedepankan teori sejarawan yang berdasarkan bukti teks yang disusun secara emperik, hal ini lah yang membuat para pemikir sejarah ingin mengubah pemikiran mengenai sejarah yang sudah berkembang melalui filsafat sejarah narartif, yang dituangkan dalam kerangka analisis mengenai filsafat naraif itu sendiri. Untuk mengetahui mengenai arti dari sejarah.



Kata Kunci: Filsafat Sejarah Narartif, Akar pemikiran Filsafat naratif, Kerangka   Analisis





Bab I
Pendahuluan
A. Latar belakang
Dengan adanya perkembangan tentang filsafat ilmu pengetahuan, maka studi tentang empiric mengenai ilmu pengetahuan semakin dikaji. Kemunculan filsafat sejarah naratif yang sekaligus menentang filsafat sejarah spekulatif dan filsafat sejarah kritis analisis, pemikiran-pemikiran para sejarawan terhadap filsafat sejarah yang mulai mengalami perdebatan di mengenai filsafat dalam sejarah. Perdebatan- perdebatan yang terjadi bukanlah tanpa alasan, perdebatan terjadi karena para penganut filsafat sejarah membenarkan filsafat yang di percayai. Memasuki tahun 1970 filsafat sejarah Naratif muncul sebagai filsafat yang menentang filsafat-filsafat sebelumnya yakni filsafat spekulatif dan filsafat kritis-analisis.[1]
 Dalam kehadiran sebagai aliran filsafat yang baru, maka filsafat sejarah narartif mempunyai akar pemikirannya sendiri yakni epistemology sejarah menurut filsafat sejarah naratif, kemudian bagaimana bukti sendiri (Evidence )dalam melakukan penenlitian mengenai pengetahuan tentang sejarah, kemudian setelah tahu epistemology, dan bukti senjarah itu sendiri atau sumber sejarah maka filsafat sejarah naratif membahas atau perjelas kembali tentang teori dalam pengetahuan sejarah. Dan setelah semua telah terkumpul dibutuhkan kerangka untuk menganalisis pengetahuan sejarah.
Filsafat sejarah naratif yang hadir sebagai pembantah dari sebelumnya tentu mempunyai kelebihan mengenai filsafat pengetahuan sejarah, untuk itulah kami tertarik dengan judul makalah yang diberikan yaitu mengenai akar pemikiran filsafat sejarah narif



B.     Rumusan Masalah
1.        Bagimana Epistemologi Sejarah  dalam pandangan filsafat sejarah naratif
2.        Bagaimana Filsafat Sejarah Narartif tentang Bukti Sejarah
3.        Bagaimanan Pandangan Filsafat Sejarah Naratif tentang Teori
4.        Apa Kerangka analisis Filsafat Sejarah Naratif

C.     Tujuan
1.        Untuk mengetahui epistemology sejarah dalam filsafat sejarah naratif
2.        Untuk mengetahui pandangan filsafat sejarah naratif mengenai bukti sejarah
3.        Mengetahui tentang teori sejarah dalam filsafat sejarah naratif
4.        Serta mengetahuian apa kerangka dalam menganalisis filsafat sejarah naratif
















Bab II
Pembahasan
A.    Akar Pemikiran Filsafat Sejarah Naratif
Sama halnya dengan filsafat sejarah kritis, yang muncul karena menggantikan Filsafat sebelumnya yang spekulatif tentang pengetahuan baru mengenai sejarah yang ilmiah, filsafat sejarah naratif juga hadir sebagai pengetahuan baru mengenai sejarah. Filsafat sejarah Naratif muncul karena menggugat Mainstream sejarah ilmiah yang bersumber dari filsafat sejarah kritis[2]. Filsafat sejarah narartif yang berkembang tidak lantas membuat filsafat sebelumnya ditinggalkan hanya saja dalam perkembangannya filsafat sejarah kritis dan spekulatif mulai menghilang dan hanya digunakan untuk dipelajari.
Untuk mengenai lebih jauh mengenai filsafat sejarah naratif, beberapa pokok yang harus diketahui yaitu
1.      Tentang  Epistemologi Filsafat Sejarah naratif
Seperti ilmu pengetahuan lain, mengenai ilmu sejarah timbul pertanyaan mengenai epistemologi sejarah itu sendiri.[3] apakah sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang mempunyai epistemologi, atau hanya tiruan dari ilmu posotivistik seperti ilmu-ilmu sosial lainnya.[4] Mengenai pengetahuan sejarah, para sejarawan profesonal sudah sadar bahwa pengetahuan sejarah diperoleh berdasarkan metodeloginya metode sejarah itu sendiri, yang sama dengan ilmu pengetahuan ilmiah lainnya.  Inilah membuat tugas dari sejarawan sendiri untuk bisa merekontruksi kenyataan dari sejarah guna memperoleh makna (Meaning), menjelaskan sejarah itu dalam bentuk tulisan yang berkaitan dengan hubungan-hubungan dari peristiwa, tujuan  dan pelaku sejarah itu sendiri. Sehingga dengan menggunakan metode sejarah maka peristiwa yang terjadi masa lampau bisa diketahui kenyataannya berdasarkan hasil dari sumber-sumber yang berdasarkan metode senjarah sendiri maupun ditambah dengan metode ilmu bantu lainnya.
 Filsafat sejarah naratif mengungkapkan bahwa tidak mungkin mencapai kajian emperik serta kebenaran dalam penelitian sejarah, karena objek yang terletak pada masa lampau, serta tidak berdasarkan logika dedutif jika menggunakan metode eksprerimental yang bersifat umum.[5]namun sejarawan harus menyeleksi data yang diperoleh dan yang memiliki keunikan serta bersifat subjektib sehingga dalam filsafat sejarah naratif ini hal yang bersifat generalistik universal tidak harus dijelaskan hal yang bersifat unik dan individual saja. Sehingga menurut filsafat sejarah naratif epistemologi dari sejarah tidak memiliki hal yang khusus atau otonom melainkan hanya dalam bentuk pengetahuan sastra yang berdasarkan logika naratif dalam filsafat sejarah.[6]
2.      Tentang bukti (Evidence)
Dalam menjadikan sumber primer sejarah sejarawan menggunakan sumber teks, sehingga filsafat sejarah narartif keberatan dengan penggunaan tersebut yakni mengenai kedudukan dari teks itu sendiri serta dari representasinya. Karena teks merupakan bahasa sehingga apabila menggunakan teks  banyak mengandung makna-makna yang mengandung struktur naratif yang diciptakan oleh penciptanya.
Sehingga sumber sejarah berupa teks mengandung bentuk-bentuk reperesentasi dari masa lalu yang terstruktural yang mengnadung ideologis namun sumber teks juga mengandung hal-hal yang berkaitan dengan kekuasaan, sehingga dalam penelitian sejarah sejarawan dalam melakukan mengungkapkan kebenaran tidak mutlak kebenaran, karena nilai kebenaran teks tergantung yang menciptakannya bukan pada sejarawan. Sejarawan dalam melakukan penyelidikan terhadap masal lampau menggunakan kritik sumber sejarah dalam bentuk teks atau dokumen yang menghasilkan ilmu pengetahuan tentang sejarah yang tidak lepas dari bahasa dalam menguraikan dari peristiwa yang terjadi masa lampau tersebut.
Pengertian sejarah itu sendiri diperoleh dari data teks atau naratif, namun data yang diperoleh tidak serta merta dibuat oleh sejarawan, data tersebut terlebih dahulu harus melakukan kritik sumber terhadap sumber yang didapat baik ekstern maupun intern.[7]sehingga teks yang digunakan sebagai sumber primer dalam sejarah merupakan cara menjelaskan kebenaran pada masa lampau, meski sejarah tidak langsung menyaksikan peritiwa masa lalu tersebut, sesuai ditaktum klasik “No Dokumen, No History”. Karena itu menurut pandangan filsafat sejarah naratif menulis sejarah tidak sama dengan menulis kebenaran kecuali dalam prespetif dari sejarawan itu sendiri.[8]
3.      Tentang Teori Sejarah
Hal yang lain, dalam akar pemikiran sejarah naratif adalah mengenai teori dalam sejarah, mengenai teori dalam sejarah banyak perdebatan dalam kalangan sejarawan. Sebagian Sejarawan menolak mengenai teori dalam sejarah hal ini Karena mereka  beralasan bahwa ilmu sejarah tidak butuh teori dalam melakukan pengkajian mengenai sejarah, da nada sebagian menganggap bahwa teori dalam studi sejarah perlu karena dengan adanya teori maka bisa membantu dalam menerangkan gejala yang akan diselidiki.[9] Namun banyak yang menggunakan model dan menggap sebagai konsep yang artinya sejarawan tidak harus menyeluruh menerapkan teori kedalam studi  sejarah dan bukan menggunakan sejarah untuk mengembangkan teori.
Perbedaan mengenai teoritis-metodelogis yang disebutkan diatas inilah memicu terjadi perdebatan dan kesalahpahaman di kalangan baik itu sesama sejarawan yang berbeda aliran maupun  dari berbeda disiplin ilmu yang lainnya.hingga munculnya dan berkembangnya tiga teori pendekatan sejarah.
Teori-teori pendekatan utama dalam pendekatan sejarah yaitu
1.      Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme berasal dari bahasa Inggris Reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Maka dari itu rekonstruksionisme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan baru seluruh lingkungannya[10].
2.      Konstruksionisme
         Istilah strukturalisme identik dengan Levi Strauss dan Annalles School. Tradisi ini muncul sebagai kritik terhadap pendekatan narativisme. Mazhab struktural menekankan bahwa seorang tokoh besar tidak lahir dan berkembang dalam ruang hampa, melainkan ia hadir dalam konteks struktur sosial tertentu. Mazhab struktural memaparkan bahwa struktur sosial dapat terbentuk karena pengaruh geografis. Singkatnya, seorang tokoh yang berperan dalam suatu peristiwa sejarah dipengaruhi secara dominan oleh determinan fisik.[11]
3.      Dekonstruksionisme.
Sejarah dekonstruksionisme merupakan sejarah baru atau new historicism yang merupakan hasil dari sejarah narartif, yang menolak pemahaman tentang sejarah yang sudah ada. Model pendekatan dekonstruksionisme mengubah sejarah yang selama ini tenjadi kajian ilmu naratif atau the science of narrative.[12] Ilmu cerita. Sehingga sejarah merupakan hasil kreasi (interpretasi) sejarawan.


B.     Analisis Filsafat sejarah Naratif
sama sekali lain dari model analisis dalam filsafat sejarah spekulatif (metasejarah) atau pun filsafat sejarah kritis- analisis (sejatrah ilmiah) sejalan dengan tesis utamannya bahwa sejarah artefak sastra maka ruang lingkup kajiannya seperti yang diajukan white dalam metahistory didasarkan pada upaya membongkarunsur-unsur naratif dan peranan linguistic dalam penulisan sejarah. Oleh karena itu sejarah adalah teks sastra maka cara kerja sejarawan menurut white mengikuti cara kerja penulis sastra yang menganggap bahannya berupa karya sastra berdasarkan struktur naratif formal.
Dalam proses ini peneliti mengidenfikasikan kategori-kategori bahasa figurative yaitu cara menggambarkan ide ata fakta dengan gaya bahasa puitis
Ada 4 hal bentuk gaya bahasa yang menterjemahkan teks prosa menjadi puisi penulisan sejarah yaitu metafora sinekdoke , metonimi, dan ironi.
Tugas sejarawan ialah mengidenfikasi teks sejarah“ Kekasihku merupakan sekuntum bunga mawar”  disini ia membandingkan dua hal , keduanya secara fisik tidak memiliki persamaan tetapi keduannya indah dan elok , lalu ketika mempelajari teks sejarah dari  sejarah.
Selanjutnya white bergerak ke bentuk-bentuk plot (latar dan alur cerita) dalam hal ini terdapat  empat macam yaitu roman, komedi , tragedy dan satire Dalam penjelasan sejarah ia mengajukan empat model penjelasan yaitu formis , organis ., mekanistik, dan kontekstual.Dalam methodenstreit yakni berkenaan dengan wacana teori metodologi , white mengidenfikasikan empat model pula yaitu historisis, evolusionis empiris, dan fenomenologis


Bab III
Penutup
Kesimpulan
Kemunculan filsafat sejarah naratif memberikan nuansa tersendiri bagi corak pemikiran tentang apa yang menjadi dasar dalam penenlitian pengetahuan sejarah. Pemikiran –pemikiran baru tentang pengetahuan sejarah mengambil ahli dari pola piker akan penulisan sejarah, filsafat sejarah naratif muncul untuk menjawab pertanyaan dari kalangan sejarawan akan pentingnya sebuah sumber sejarah data teks atau dokumen yang disampaikan secara narartif, dengan melakukan kritik sumber itu sendiri, sehingga dalam penulisan sejarah akan memunculkan bagaimana menganalisi kausalitas atau sebab akibat dari peristiwa sejarah tersebut.











Daftar Pustaka:
Mestika Zed. 2010. Pengantar Filsafat Sejarah . Padang: UNP Press.
Tamburaka, Rustam. 1999. Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah,Sejarah Filsafat dan Iptek. Rineka Cipta: Jakarta.
Mahdi Ghulsyani, Dr. 1989. Filsafat-Sains menurut Al- Quran.Mizan. Bandung.




[1] Mestika Zed. 2010. Pengantar Filsafat Sejarah . Padang: UNP Press. Hal.113
[2] Mestika Zed. 2010. Pengantar Filsafat Sejarah . Padang: UNP Press. Hal.113
[3] Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
[4]  positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam "pencapaian kebenaran"-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi
[5] Ibid hal, 116
[6] Ibid hal, 117
  [7] Kritik sumber dalam penulisan sejarah terdapat dua jenis  yaitu ekstern dan interns, ekstern lebih ke fisik dari sumber itu sendri, baik itu jenis kertas yang digunakan, tinta dalam pembuatan dokumen, sedangkan kritik intern membahas mengenai dari isi sumber itu sendiri.
[8] Ibid hal,119
[9] Op.cit
[10] https://dianpelita.wordpress.com/2011/02/21/filsafat-rekonstruktivisme-dan-pendidikan/
[11] https://diankurniaa.wordpress.com/2011/05/02/filsafat-sejarah-narativisme-vs-strukturalisme/
[12] Ibid hal 123

No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...