Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pergerakan kebangsaan Indonesia tidak bisa
dilepaskan dari umat islam, pergerakan kebangsaan Indonesia yang terus dijajah
oleh bangsa asing. Pergerakan kebangsaan Indonesia muncul setelah adanya rasa
keinginan untuk bisa bebas dari penjajah yang sudah lama menduduki Indonesia. Mulai
dari masa VoC sampai masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kedatangan bangsa
asing ke Indonesia khususnya bangsa Belanda pada awalnya hanya menjalin
hubungan perdagangan dengan masyarakat pribumi, bangsa Indonesia yang merupakan
bangsa yang mayoritas umat islam pada awalnya menerima dengan baik, kedatangan
bangsa asing yang awal kedatangannya hanya untuk berdagang, namun lama-kelamaan
memonopoli perdagangan serta melakukan kolonialisasi di Indonesia hal inilah
yang membuat ada pergerakan yang dilakukan bangsa Indonesia khususnya umat
islam yang ada di Indonesia. pada awal pergerakan kebangsaan alam melakukan
pergerakan kebangsaan khusus gerakan kebangsaan, pergerakan kebangsaan
Indonesia pada awal nya bersifat tradisional dalam membangkitkan kebangsaan
khususnya melalui-melalui kerajaan yang bercorak islam, selain
kerajaan-kerajaan islam[1]
yang ada di Indonesia pergerakan masa tradisional ini dilakukan juga oleh alim
ulama yang mempunyai peran penting didalam masyarakat.
Pergerakan kebangsaan umat islam di Indonesia
mengalami perkembangan yang awalnya bersifat tradisional kemudian berkembang ke
pergerakan kebangsaan yang bersifat modern. Perubahan ini terjadi memasuki awal
abad-19 yang dibentuknya sebuah organisasi umat islam pertama yakni Serikat
Dagang Islam[2]
Dengan hadirnya organisasi-organisasi yang
dibentuk para ulama sehingga pergerakan kebangsaan umat islam di Indonesia
dalam melawan penjajahan mengalami perubahan yang besar, dari coraknya tersebut.
Untuk mengetahui secara detail mengenai pergerakan kebangsaaan umat islam di
Indonesia kami mencoba mengangkat kembali mengenai bagaimana islam dalam
membangun gerakan kebangsaan yang trasional dan modern dalam melawan
kolonialisme bangsa asing, dari sumber-sumber yang ada sebelumnya.
B. Rumusan Masalah
·
Dalam
makalah ini akan memuat rumusan masalah mengenai bagaimana pergerakan
kebangsaan islam di Indonesia masa tradisional
·
Bagaimana
pergerakan kebangsaan islam di Indonesia secara modern
·
Serta
bagaimana perbedaan pergerakan kebangsaan yang tradisional dengan pergerakan
kebangsaan yang modern
C.
Tujuan
·
Tujuan
dari makalah ini yang pertama adalah untuk menambah wawasan mengenai pergerakan
kebangsaan islam di Indonesia
·
Mengetahui
bagaimana pergerakan kebangsaan islam di Indonesia dengan corak tradisional dan
modern
·
Mengetahuai
bagaimana perbedaan dari kedua corak pergerakan kebangsaan tersebut
Bab II
Pembahasan
1.
Tradisional
Pergerakan kebangsaan islam di Indonesia
Pergerakan kebangsaan umat islam sudah ada
sejak masa masuknya kolonialisasi di nusantara, meski pergerakan kebangsaan
yang dilakukan umat islam hanya bersifat kedaerahan, hal ini terjadi karena kuarang
rasa persatuan dan kesatuan dalam melawan, penjajahan. Akan tetapi pergerakan
akan kebebasan sudah didengungkan seperti yang dilakukan kerajaan-kerajaan
islam dan para ulama dalam mengimpun kekuatan guna melawan kolonial untuk kebebasan
dalam penjajahan. Pergerakan kebangsaan Indonesia yang tradisional tidak bisa
dilepaskan dari pergerakan yang dilakukan memalui peperangan terhadap
kolonialisme yang sejak lama ada di Nusantara, pergerakan kebangsaan
tradisional ini bisa dilihat dari beberapa pergejolakan besar yang
terjadi. Berikut pergerakan yang dilakukan
dalam melawan penjajahan.
1.
Perang
paderi di minangkabau
Perang
paderi merupakan perang yang semula terjadi antara kaum paderi(ulama)n dengan
kaum adat yang terjadi di minangkabau, akan tetapi dalam perkembangannya, kaum
adat memintak bantuan kolonial belanda sehingga perang paderi tidak hanya
terjadi antara kaum paderi (ulama islam) dengan kaum ada, tetapi juga dengan
kolonial belanda[3]
2.
Perang
diponegoro
Perang diponegoro adalah perang terbesar yang
dihadapi pemerintah colonial belanda di jawa. Peristiwa yang memicu peperangan
adalah rencana pemerintah hindia belanda untuk membuat jalan yang menerobos
tanah milik pangeran diponegoro. Dalam perang, pangeran diponegoro menggunakan
taktik grilya. Peperangan segera menyebar luas kemana-mana. Kota Yogya dikepung
sehingga penduduk Belanda merasa terancam. Untuk memperkuat semangat, Pangeran
diponegoro dinobatkan sebagai pimpinan tertinggi jawa dengan gelar sultan
ngabdul humid herucakra kabril mukminin khalifatullah ing tanah jawa. Pada
tahun 1826, jalan perang menunjukkan pasang surut. Banyak korban dipihak
belanda, 1827, belanda memperkuat diri dengan melakukan benteng stelsel untuk
mempersempit gerak tentara pangeran diponegoro. Belanda juga mengerahkan
bantuan dari negri belanda sekitar tiga
ribu orang. hingga Pihak pangeran diponegoro mulai terdesak sedikit demi
sedikit. Pada tahun 1827, kiai Maja bersedia berunding dan mengadakan genjatan
senjata dengan belanda.
3.
Perang
aceh
Perang aceh merupakan perang yang terjadi
pada tahun 1873 sampai 1904.
Perang terjadi antara kesultanan aceh melawan kolonial, perang yang terjadi
lebih dari 30 tahun ini, menandakan bahwa bagaimana perlawanan yang dilakukan
umat islam di aceh dalam melawan penjajah yang ingin bebas dari kolonialisme.
Perang aceh sendiri berakhir karena adanya orang belanda yang masuk dalam sendi-sendi kehidupan kesultanan
aceh, yaitu Christiaan Snouck Hurgronje yang menyamar sebagai umat islam dalam
mempelajari kebudayaan di kesultanan aceh, sehingga pergerakan yang dilakukan
umat islam di aceh khususnya di kesultanan aceh akhirnya berhasil di taklukan
belanda.[4]
Pergerakan kebangsaan islam di nusantara yang bersifat
tradisional yang dilakukan melalui perang ini terus mengalami kekalahan dari
pemerintah belanda, maka memasuki abad-20 pergerakan kebangsaan umat islam
mengalami perkembangan, perkembangan corak pergerakan kebangsaan Indonesia ini
tidak lepas dari munculnya kaum intelektual dalam masyarakat Indonesia,
pergerakan kebangsaan yang tradisional kemudian diubah kea rah yang modern,
pergerakan kebangsaan yang dilakukan yakni pergerakan melalui pergerakan yang
bersifat organisasi, pergerakan organisasi islam yang kini tetap ada sampai
sekarang.
2.
Pergerakan
kebangsaan modern umat islam di Indonesia
Pergerakan kebangsaan umat islam yang
berlangsung sejak adanya bangsa asing masuk dan melakukan kolonialisme terus
mengalami kegagalan, hal ini lah membuat munculnya corak dan sifat baru umat
islam dalam melawan penjajah dalam menumbuhkan sikap kebangsaan rakyat
Indonesia. maka dibentuklah organisasi islam guna merangkul dan membentuk satu
kesatuan dalam melawan penjajah, organisasi pertama yang dibentuk adalah
Serikat Islam. Dalam membangun pergerakan kebangsaan, terdapat beberapa
organisasi yang membuat pergerakan kebangsaaan Indonesia tumbuh yakni
1.
Sarekat
Islam (SI)
Serikat Islam (SI) pada awalnya adalah
perkumpulan bagi para pedagang muslim yang didirikan pada akhir tahun 1911 di
Solo oleh H. Samanhudi. Nama semula adalah Sarekat Dagang Islam (SDI). Kemudian
tanggal 10 Nopember 1912 berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). H.Umar Said
Cokroaminoto diangkat sebagai ketua, sedangkan H.Samanhudi sebagai ketua
kehormatan. Latar belakang didirikannya organisasi ini pada awalnya untuk
menghimpun dan memajukan para pedagang Islam dalam rangka bersaing dengan para
pedagang asing, dan juga membentengi kaum muslimin dari gerakan penyebaran
agama Kristen yang semakin merajalela. Dengan nama Sarekat Islam dibawah
pimpinan H.O.S. Cokroaminoto organisasi ini semakin berkembang karena mendapat
sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Daya tarik utamanya adalah asas
keislamannya. Dengan SI mereka (umat Islam) yakin akan dibela kepentingannya.
Keanggotaan SI terbuka untuk semua golongan
dan suku bangsa yang beragama Islam. Secara lahir SI tidak menyatakan diri
sebagai organisasi partai politik. Tetapi dalam sepak terjangnya jelas
kelihatan sebagai organisasi politik. Kegiatan politik dilakukan dengan sangat
hati-hati dan bertahap. Dalam kongres tahun 1914, Cokroaminoto mengatakan bahwa
SI akan bekerjasama (kooperatif) dengan pemerintah dan tidak berniat melawan
pemerintah. Dua tahun kemudian dalam kongresnya di Bandung, dia melancarkan
kritik terhadap praktek kolonialisme yang telah menyengsarakan rakyat. Dalam
kongres itu SI menuntut supaya Indonesia diberi pemerintahan sendiri dan rakyat
diberi kesempatan untuk duduk dalam pemerintahan. Semakin lama sikap SI semakin
keras. Abdul Muis salah satu tokoh SI mengatakan, jika tuntutan-tuntutan itu
tidak diindahkan pemerintah (penjajah), anggota SI bersedia membalas kekerasan
dengan kekerasan. Pada waktu pemerintah mendirikan Volksraad (Dewan Rakyat), SI
mendudukkan wakilnya dalam dewan itu, antara lain Cokroaminoto dan H. Agus
Salim. Setelah ternyata Volksrad tidak bisa dipakai sebagai lembaga untuk
memperjuangkan kemerdekaan, SI pun menarik wakilnya. Demikian SI beralih ke
strategi non-kooperatif.
2. Muhammadiyah
Muhammadiyah secara etimologi artinya
pengikut Nabi Muhammad. Adalah sebuah organisasi non-politis yang bertujuan
mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw;
memberantas kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama (bid’ah) dan
memajukan ilmu agama Islam di kalangan anggotanya. Organisasi ini didirikan
oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 Nopember 1912
3. Nahdlatul Ulama
(NU) artinya kebangkitan para ulama. Adalah
sebuah Organisasi sosial keagamaan yang dipelopori oleh para ulama atau kiyai.
Mereka itu ialah K.H.Hasyim Asy’ari, K.H.Wahab Hasbullah, K.H.Bisri Syamsuri,
K.H.Mas Alwi , dan K.H.Ridwan. Lahir di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926
dan kini menjadi salah satu organisai dan gerakan Islam terbesar di tanah air.
Pada perkembangan selanjutnya, NU mengubah
haluannya. Selain sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang sosial
keagamaan, juga mulai ikut dalam kehidupan politik. Tahun 1937 bergabung dengan
Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI). Hal ini terus berlangsung sampai
dibubarkannya pada masa penjajahan Jepang tahun 1943, yang kemudian diganti
Masyumi. Dalam Masyumi, NU adalah bagian yang sangat penting sampai tahun 1952.
Dalam Muktamarnya yang ke 19 tanggal 1 Mei 1952 menyatakan diri keluar dari
Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri. Kemudian NU bersama dengan PSII
dan Perti membentuk Liga Muslim Indonesia sebagai wadah kerja sama partai politik
dan organisasi Islam..
4. Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI)
MIAI ini sebenarnya berdiri pada masa
pemerintahan Belanda, yaitu tanggal 21 September 1937 di Surabaya sebagai
organisasi federasi yang diprakarsai oleh K.H. Mas Mansur, K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah),
K.H. Wahab Hasbullah (NU) dan Wondoamiseno (PSII). Tujuan didirikan MIAI ini
adalah agar semua umat Islam mempunyai wadah tempat membicarakan dan memutuskan
semua soal yang dianggap penting bagi kemaslahatan umat dan agama Islam.
Keputusan yang diambil MIAI harus dilaksanakan oleh semua organisasi yang
menjadi anggotanya.
Pada akhir pemerintahan Hindia Belanda MIAI
memberikan dukungan terhadap aksi Indonesia berparlemen yang dicanangkan oleh
GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Pada waktu GAPI menyusun rencana konstitusi
untuk Indonesia, MIAI menghendaki agar yang menjadi kepala negara adalah orang
Indonesia yang beragama Islam dan dua pertiga dari menteri-menteri harus orang
Islam.
Ketika Jepang datang ke Indonesia seluruh
organisasi yang ada di Indonesia dibekukan, termasuk MIAI. Tapi khusus MIAI
tanggal 4 September 1942 diperbolehkan aktif kembali. Jepang melihat bahwa MIAI
bersifat kooperatif dan tidak membahayakan. Selain itu Jepang berharap dapat
memanfaatkan MIAI ini untuk memobilisasi gerakan umat Islam guna menopang
kepentingan penjajahannya. Selain itu, Jepang juga membantu perkembangan
kehidupan agama. Kantor urusan agama yang pada masa Belanda diketuai oleh
seorang orientalis Belanda, diubah oleh Jepang menjadi Shumubu (Kantor Urusan Agama)
yang dipimpin oleh orang Indonesia, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Umat Islam pada
saat itu juga diizinkan membentuk Hizbullah yang memberikan pelatihan
kemiliteran bagi para pemuda Islam, yang dipimpin oleh K.H.Zaenal Arifin.
Demikian pula diizinkan mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang
dipimpin oleh K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakir dan Moh. Hatta.
6. Masyumi
Masyumi kepanjangan dari Majlis Syura
Muslimin Indonesia berdiri tahun 1943. Dalam Muktamar Islam Indonesia tanggal 7
Nopember 1945 disepakati bahwa Masyumi adalah sebagai satu-satunya partai Islam
untuk rakyat Indonesia. Saat itu juga Masyumi mengeluarkan maklumat yang
berbunyi :” 60 Milyoen kaum muslimin Indonesia siap berjihad fi sabilillah “,
Pernyataan ini direkam dengan baik oleh harian Kedaulatan Rakyat pada tanggal 8
Nopember 1945. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dan didampingi
K.H.Hasyim Asy’ari. Tergabung dalam organisasi ini adalah Muhammadiyah,
Nahdlatul Ulama, Persis, dan Sarekat Islam. Tokoh-tokoh lain yang penting
misalnya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Wahab dan tokoh-tokoh muda lainnya misalnya
Moh. Natsir, Harsono Cokrominoto, dan Prawoto Mangunsasmito.
C.
Perbedaan modernisasi dan tradisional Pergerakan
Kebangsaan islam di Indonesia adalah sebagai berikut.
1-
Pergerakan
islam masa tradisional, dalam melakukan pergerakan kebangsaan lebih kedaerahan,
sedangkan pada masa modern sudah mencakup seluruh wilayah Indonesia
2-
Pergerakan
yang dilakukan masa tradisional, dilakukan memalui peperangan melawan
penjajahan yang terpusat pada peran kesultanan atau ulama, sedangkan pada masa
modern pergerakan kebangsaan islam berubah menjadi bersifat sebuah organisasi
dalam melawan penjajah.
3-
Pergerakan
kebangsaan pada masa tradisional dapat dikalahkan dengan mudah oleh kolonial,
karena adanya perbendaan dari senjata dan perang, sedangkan masa modern
pergerakan kebangsaan menggunakan organiasi yang tidak hanya dalam bentuk
politik tetapi dalam hal pendidikan,
Kesimpulan
Sepanjang sejarah Indonesia perkembangan
islam tidak bisa dikesampingkan, karena dalam pergerakan kebangsaan Indonesia
tidak lepas dari para ulama serta kerajaan islam yang berkembang di nusantara
dalam melawan penjajah, pergerakan kebangsaan Indonesia dalam melawan sudah
dilakukan sejak masuknya kolonial kedalam nusantara, kerajaan-kerajaan yang
bercorak islam melakukan pergerakan secara langsung terhadap penjajah dengan
melakukan perang, akan tetapi pergerakan perlawanan dilakukan terus mengalami
kegagalan, selain kalah dalam persenjataan kurang bersatunya elemen dalam
masyarakat Indonesia juga mempengaruhi gaglnya gerakan kebangsaan dalam melawan
penjajah, memasuki abad 20 corak pergerakan kebangsaan mengalami perubahan,
terutama setelah munculnya organisasi-organisasi islam seperti Serikat dagang
islam yamg merukan awal dibentuk organisasi pergerakan kebangsaan, dengan
adanya organisasi tersebut maka pergerakan kebangsaan yang dilakukan oleh
bangsa Indonesia pada umumnya serta umat islam khususnya mengalami perubahan
dari tradisional ke moder.
Daftar Pustaka
Sudirman,
Adi,2014. Sejarah Lengkap Indonesia.Jogjakarta
: DIVA Pres.
http://ilmusosial.net/perlawanan-kerajaan-islam-terhadap-voc.html
[1]
Sudirman,
Adi,2014. Sejarah Lengkap Indonesia.Jogjakarta
: DIVA Pres.
[2] Ibid.
Hal.294
[3]
Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang
dijuluki sebagai Kaum Padri terhadap kebiasaan-kebiasaan yang marak dilakukan
oleh kalangan masyarakat yang disebut Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung
dan sekitarnya. Kebiasaan yang dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam,
penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat
matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual
formal agama Islam. Tidak adanya kesepakatan dari Kaum Adat yang padahal telah
memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan tersebut memicu kemarahan Kaum
Padri, sehingga pecahlah peperangan pada tahun 1803.
[4]
Ibid hal 195
No comments:
Post a Comment