Friday, 14 April 2017

Modernisme pergerakan kebangsaan islam di Indonesia

Bab I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Pergerakan kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari umat islam, pergerakan kebangsaan Indonesia yang terus dijajah oleh bangsa asing. Pergerakan kebangsaan Indonesia muncul setelah adanya rasa keinginan untuk bisa bebas dari penjajah yang sudah lama menduduki Indonesia. Mulai dari masa VoC sampai masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kedatangan bangsa asing ke Indonesia khususnya bangsa Belanda pada awalnya hanya menjalin hubungan perdagangan dengan masyarakat pribumi, bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang mayoritas umat islam pada awalnya menerima dengan baik, kedatangan bangsa asing yang awal kedatangannya hanya untuk berdagang, namun lama-kelamaan memonopoli perdagangan serta melakukan kolonialisasi di Indonesia hal inilah yang membuat ada pergerakan yang dilakukan bangsa Indonesia khususnya umat islam yang ada di Indonesia. pada awal pergerakan kebangsaan alam melakukan pergerakan kebangsaan khusus gerakan kebangsaan, pergerakan kebangsaan Indonesia pada awal nya bersifat tradisional dalam membangkitkan kebangsaan khususnya melalui-melalui kerajaan yang bercorak islam, selain kerajaan-kerajaan islam[1] yang ada di Indonesia pergerakan masa tradisional ini dilakukan juga oleh alim ulama yang mempunyai peran penting didalam masyarakat.
Pergerakan kebangsaan umat islam di Indonesia mengalami perkembangan yang awalnya bersifat tradisional kemudian berkembang ke pergerakan kebangsaan yang bersifat modern. Perubahan ini terjadi memasuki awal abad-19 yang dibentuknya sebuah organisasi umat islam pertama yakni Serikat Dagang Islam[2]
Dengan hadirnya organisasi-organisasi yang dibentuk para ulama sehingga pergerakan kebangsaan umat islam di Indonesia dalam melawan penjajahan mengalami perubahan yang besar, dari coraknya tersebut. Untuk mengetahui secara detail mengenai pergerakan kebangsaaan umat islam di Indonesia kami mencoba mengangkat kembali mengenai bagaimana islam dalam membangun gerakan kebangsaan yang trasional dan modern dalam melawan kolonialisme bangsa asing, dari sumber-sumber yang ada sebelumnya.
B.     Rumusan Masalah
·         Dalam makalah ini akan memuat rumusan masalah mengenai bagaimana pergerakan kebangsaan islam di Indonesia masa tradisional
·         Bagaimana pergerakan kebangsaan islam di Indonesia secara modern
·         Serta bagaimana perbedaan pergerakan kebangsaan yang tradisional dengan pergerakan kebangsaan yang modern
C.     Tujuan
·         Tujuan dari makalah ini yang pertama adalah untuk menambah wawasan mengenai pergerakan kebangsaan islam di Indonesia
·         Mengetahui bagaimana pergerakan kebangsaan islam di Indonesia dengan corak tradisional dan modern
·         Mengetahuai bagaimana perbedaan dari kedua corak pergerakan kebangsaan tersebut





Bab II
Pembahasan
1.      Tradisional Pergerakan kebangsaan islam di Indonesia
Pergerakan kebangsaan umat islam sudah ada sejak masa masuknya kolonialisasi di nusantara, meski pergerakan kebangsaan yang dilakukan umat islam hanya bersifat kedaerahan, hal ini terjadi karena kuarang rasa persatuan dan kesatuan dalam melawan, penjajahan. Akan tetapi pergerakan akan kebebasan sudah didengungkan seperti yang dilakukan kerajaan-kerajaan islam dan para ulama dalam mengimpun kekuatan guna melawan kolonial untuk kebebasan dalam penjajahan. Pergerakan kebangsaan Indonesia yang tradisional tidak bisa dilepaskan dari pergerakan yang dilakukan memalui peperangan terhadap kolonialisme yang sejak lama ada di Nusantara, pergerakan kebangsaan tradisional ini bisa dilihat dari beberapa pergejolakan besar yang terjadi.  Berikut pergerakan yang dilakukan dalam melawan penjajahan.
1.      Perang paderi di minangkabau
 Perang paderi merupakan perang yang semula terjadi antara kaum paderi(ulama)n dengan kaum adat yang terjadi di minangkabau, akan tetapi dalam perkembangannya, kaum adat memintak bantuan kolonial belanda sehingga perang paderi tidak hanya terjadi antara kaum paderi (ulama islam) dengan kaum ada, tetapi juga dengan kolonial belanda[3]
2.      Perang diponegoro
Perang diponegoro adalah perang terbesar yang dihadapi pemerintah colonial belanda di jawa. Peristiwa yang memicu peperangan adalah rencana pemerintah hindia belanda untuk membuat jalan yang menerobos tanah milik pangeran diponegoro. Dalam perang, pangeran diponegoro menggunakan taktik grilya. Peperangan segera menyebar luas kemana-mana. Kota Yogya dikepung sehingga penduduk Belanda merasa terancam. Untuk memperkuat semangat, Pangeran diponegoro dinobatkan sebagai pimpinan tertinggi jawa dengan gelar sultan ngabdul humid herucakra kabril mukminin khalifatullah ing tanah jawa. Pada tahun 1826, jalan perang menunjukkan pasang surut. Banyak korban dipihak belanda, 1827, belanda memperkuat diri dengan melakukan benteng stelsel untuk mempersempit gerak tentara pangeran diponegoro. Belanda juga mengerahkan bantuan dari negri belanda sekitar  tiga ribu orang. hingga Pihak pangeran diponegoro mulai terdesak sedikit demi sedikit. Pada tahun 1827, kiai Maja bersedia berunding dan mengadakan genjatan senjata dengan belanda.
3.      Perang aceh
Perang aceh merupakan perang yang terjadi pada tahun 1873 sampai 1904. Perang terjadi antara kesultanan aceh melawan kolonial, perang yang terjadi lebih dari 30 tahun ini, menandakan bahwa bagaimana perlawanan yang dilakukan umat islam di aceh dalam melawan penjajah yang ingin bebas dari kolonialisme. Perang aceh sendiri berakhir karena adanya orang belanda yang  masuk dalam sendi-sendi kehidupan kesultanan aceh, yaitu Christiaan Snouck Hurgronje yang menyamar sebagai umat islam dalam mempelajari kebudayaan di kesultanan aceh, sehingga pergerakan yang dilakukan umat islam di aceh khususnya di kesultanan aceh akhirnya berhasil di taklukan belanda.[4]
Pergerakan kebangsaan islam di nusantara yang bersifat tradisional yang dilakukan melalui perang ini terus mengalami kekalahan dari pemerintah belanda, maka memasuki abad-20 pergerakan kebangsaan umat islam mengalami perkembangan, perkembangan corak pergerakan kebangsaan Indonesia ini tidak lepas dari munculnya kaum intelektual dalam masyarakat Indonesia, pergerakan kebangsaan yang tradisional kemudian diubah kea rah yang modern, pergerakan kebangsaan yang dilakukan yakni pergerakan melalui pergerakan yang bersifat organisasi, pergerakan organisasi islam yang kini tetap ada sampai sekarang.

2.      Pergerakan kebangsaan modern umat islam di Indonesia
Pergerakan kebangsaan umat islam yang berlangsung sejak adanya bangsa asing masuk dan melakukan kolonialisme terus mengalami kegagalan, hal ini lah membuat munculnya corak dan sifat baru umat islam dalam melawan penjajah dalam menumbuhkan sikap kebangsaan rakyat Indonesia. maka dibentuklah organisasi islam guna merangkul dan membentuk satu kesatuan dalam melawan penjajah, organisasi pertama yang dibentuk adalah Serikat Islam. Dalam membangun pergerakan kebangsaan, terdapat beberapa organisasi yang membuat pergerakan kebangsaaan Indonesia tumbuh yakni
1.      Sarekat Islam (SI)
Serikat Islam (SI) pada awalnya adalah perkumpulan bagi para pedagang muslim yang didirikan pada akhir tahun 1911 di Solo oleh H. Samanhudi. Nama semula adalah Sarekat Dagang Islam (SDI). Kemudian tanggal 10 Nopember 1912 berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). H.Umar Said Cokroaminoto diangkat sebagai ketua, sedangkan H.Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Latar belakang didirikannya organisasi ini pada awalnya untuk menghimpun dan memajukan para pedagang Islam dalam rangka bersaing dengan para pedagang asing, dan juga membentengi kaum muslimin dari gerakan penyebaran agama Kristen yang semakin merajalela. Dengan nama Sarekat Islam dibawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto organisasi ini semakin berkembang karena mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Daya tarik utamanya adalah asas keislamannya. Dengan SI mereka (umat Islam) yakin akan dibela kepentingannya.
Keanggotaan SI terbuka untuk semua golongan dan suku bangsa yang beragama Islam. Secara lahir SI tidak menyatakan diri sebagai organisasi partai politik. Tetapi dalam sepak terjangnya jelas kelihatan sebagai organisasi politik. Kegiatan politik dilakukan dengan sangat hati-hati dan bertahap. Dalam kongres tahun 1914, Cokroaminoto mengatakan bahwa SI akan bekerjasama (kooperatif) dengan pemerintah dan tidak berniat melawan pemerintah. Dua tahun kemudian dalam kongresnya di Bandung, dia melancarkan kritik terhadap praktek kolonialisme yang telah menyengsarakan rakyat. Dalam kongres itu SI menuntut supaya Indonesia diberi pemerintahan sendiri dan rakyat diberi kesempatan untuk duduk dalam pemerintahan. Semakin lama sikap SI semakin keras. Abdul Muis salah satu tokoh SI mengatakan, jika tuntutan-tuntutan itu tidak diindahkan pemerintah (penjajah), anggota SI bersedia membalas kekerasan dengan kekerasan. Pada waktu pemerintah mendirikan Volksraad (Dewan Rakyat), SI mendudukkan wakilnya dalam dewan itu, antara lain Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Setelah ternyata Volksrad tidak bisa dipakai sebagai lembaga untuk memperjuangkan kemerdekaan, SI pun menarik wakilnya. Demikian SI beralih ke strategi non-kooperatif.
2. Muhammadiyah
Muhammadiyah secara etimologi artinya pengikut Nabi Muhammad. Adalah sebuah organisasi non-politis yang bertujuan mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw; memberantas kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama (bid’ah) dan memajukan ilmu agama Islam di kalangan anggotanya. Organisasi ini didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 Nopember 1912
3. Nahdlatul Ulama
(NU) artinya kebangkitan para ulama. Adalah sebuah Organisasi sosial keagamaan yang dipelopori oleh para ulama atau kiyai. Mereka itu ialah K.H.Hasyim Asy’ari, K.H.Wahab Hasbullah, K.H.Bisri Syamsuri, K.H.Mas Alwi , dan K.H.Ridwan. Lahir di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 dan kini menjadi salah satu organisai dan gerakan Islam terbesar di tanah air.
Pada perkembangan selanjutnya, NU mengubah haluannya. Selain sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang sosial keagamaan, juga mulai ikut dalam kehidupan politik. Tahun 1937 bergabung dengan Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI). Hal ini terus berlangsung sampai dibubarkannya pada masa penjajahan Jepang tahun 1943, yang kemudian diganti Masyumi. Dalam Masyumi, NU adalah bagian yang sangat penting sampai tahun 1952. Dalam Muktamarnya yang ke 19 tanggal 1 Mei 1952 menyatakan diri keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri. Kemudian NU bersama dengan PSII dan Perti membentuk Liga Muslim Indonesia sebagai wadah kerja sama partai politik dan organisasi Islam..
4. Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI)
MIAI ini sebenarnya berdiri pada masa pemerintahan Belanda, yaitu tanggal 21 September 1937 di Surabaya sebagai organisasi federasi yang diprakarsai oleh K.H. Mas Mansur, K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), K.H. Wahab Hasbullah (NU) dan Wondoamiseno (PSII). Tujuan didirikan MIAI ini adalah agar semua umat Islam mempunyai wadah tempat membicarakan dan memutuskan semua soal yang dianggap penting bagi kemaslahatan umat dan agama Islam. Keputusan yang diambil MIAI harus dilaksanakan oleh semua organisasi yang menjadi anggotanya.
Pada akhir pemerintahan Hindia Belanda MIAI memberikan dukungan terhadap aksi Indonesia berparlemen yang dicanangkan oleh GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Pada waktu GAPI menyusun rencana konstitusi untuk Indonesia, MIAI menghendaki agar yang menjadi kepala negara adalah orang Indonesia yang beragama Islam dan dua pertiga dari menteri-menteri harus orang Islam.
Ketika Jepang datang ke Indonesia seluruh organisasi yang ada di Indonesia dibekukan, termasuk MIAI. Tapi khusus MIAI tanggal 4 September 1942 diperbolehkan aktif kembali. Jepang melihat bahwa MIAI bersifat kooperatif dan tidak membahayakan. Selain itu Jepang berharap dapat memanfaatkan MIAI ini untuk memobilisasi gerakan umat Islam guna menopang kepentingan penjajahannya. Selain itu, Jepang juga membantu perkembangan kehidupan agama. Kantor urusan agama yang pada masa Belanda diketuai oleh seorang orientalis Belanda, diubah oleh Jepang menjadi Shumubu (Kantor Urusan Agama) yang dipimpin oleh orang Indonesia, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Umat Islam pada saat itu juga diizinkan membentuk Hizbullah yang memberikan pelatihan kemiliteran bagi para pemuda Islam, yang dipimpin oleh K.H.Zaenal Arifin. Demikian pula diizinkan mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakir dan Moh. Hatta.
6. Masyumi
Masyumi kepanjangan dari Majlis Syura Muslimin Indonesia berdiri tahun 1943.  Dalam Muktamar Islam Indonesia tanggal 7 Nopember 1945 disepakati bahwa Masyumi adalah sebagai satu-satunya partai Islam untuk rakyat Indonesia. Saat itu juga Masyumi mengeluarkan maklumat yang berbunyi :” 60 Milyoen kaum muslimin Indonesia siap berjihad fi sabilillah “, Pernyataan ini direkam dengan baik oleh harian Kedaulatan Rakyat pada tanggal 8 Nopember 1945. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dan didampingi K.H.Hasyim Asy’ari. Tergabung dalam organisasi ini adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, dan Sarekat Islam. Tokoh-tokoh lain yang penting misalnya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Wahab dan tokoh-tokoh muda lainnya misalnya Moh. Natsir, Harsono Cokrominoto, dan Prawoto Mangunsasmito.
C.     Perbedaan  modernisasi dan tradisional Pergerakan Kebangsaan islam di Indonesia adalah sebagai berikut.
1-   Pergerakan islam masa tradisional, dalam melakukan pergerakan kebangsaan lebih kedaerahan, sedangkan pada masa modern sudah mencakup seluruh wilayah Indonesia
2-      Pergerakan yang dilakukan masa tradisional, dilakukan memalui peperangan melawan penjajahan yang terpusat pada peran kesultanan atau ulama, sedangkan pada masa modern pergerakan kebangsaan islam berubah menjadi bersifat sebuah organisasi dalam melawan penjajah.
3-      Pergerakan kebangsaan pada masa tradisional dapat dikalahkan dengan mudah oleh kolonial, karena adanya perbendaan dari senjata dan perang, sedangkan masa modern pergerakan kebangsaan menggunakan organiasi yang tidak hanya dalam bentuk politik tetapi dalam hal pendidikan,








Kesimpulan
Sepanjang sejarah Indonesia perkembangan islam tidak bisa dikesampingkan, karena dalam pergerakan kebangsaan Indonesia tidak lepas dari para ulama serta kerajaan islam yang berkembang di nusantara dalam melawan penjajah, pergerakan kebangsaan Indonesia dalam melawan sudah dilakukan sejak masuknya kolonial kedalam nusantara, kerajaan-kerajaan yang bercorak islam melakukan pergerakan secara langsung terhadap penjajah dengan melakukan perang, akan tetapi pergerakan perlawanan dilakukan terus mengalami kegagalan, selain kalah dalam persenjataan kurang bersatunya elemen dalam masyarakat Indonesia juga mempengaruhi gaglnya gerakan kebangsaan dalam melawan penjajah, memasuki abad 20 corak pergerakan kebangsaan mengalami perubahan, terutama setelah munculnya organisasi-organisasi islam seperti Serikat dagang islam yamg merukan awal dibentuk organisasi pergerakan kebangsaan, dengan adanya organisasi tersebut maka pergerakan kebangsaan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia pada umumnya serta umat islam khususnya mengalami perubahan dari tradisional ke moder.













                                Daftar Pustaka
Sudirman, Adi,2014. Sejarah Lengkap Indonesia.Jogjakarta : DIVA Pres.
http://ilmusosial.net/perlawanan-kerajaan-islam-terhadap-voc.html




[1] Sudirman, Adi,2014. Sejarah Lengkap Indonesia.Jogjakarta : DIVA Pres.
[2] Ibid. Hal.294
[3] Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang dijuluki sebagai Kaum Padri terhadap kebiasaan-kebiasaan yang marak dilakukan oleh kalangan masyarakat yang disebut Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya. Kebiasaan yang dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Tidak adanya kesepakatan dari Kaum Adat yang padahal telah memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan tersebut memicu kemarahan Kaum Padri, sehingga pecahlah peperangan pada tahun 1803.
[4] Ibid hal 195

No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...