Sunday, 15 May 2016

sejarah politik melayu jambi

Nama : Rudi Hartono
Nim : I1A114005
 Prodi Ilmu Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jambi

SEJARAH POLITIK MELAYU JAMBI  “
Perpolitikan di jambi sebelum kolonial belanda masuk, sistim politiknya berbentuk kesultanan dengan sultan sebagai raja atau  kepala pemerintahan.  Adapun kepala pemerintahan pertama di kesultanan yaitu Datuk paduka Berhalo/putri Selaro pinang masak pada 1460, hingga sampai sultan terakhir yaitu Sultan Thaha Syaifuddin Setelah kolonial belanda masuk maka kedudukan sultan melemah, sultan thaha melakukan perlawanan terhadap Belanda hingga beliau meninggal dalam  pertempuran di Betung berdarah tahun 1904. Setelah gugurnya Sultan Thaha, Belanda menguasai wilayah Jambi sepenuhnya. Tahun 1906, Belanda mulai membentuk administrasi pemerintahan di Jambi. Hal ini berarti bahwa Jambi yang sebelumnya ditangani oleh Keresidenan Palembang, menjadi keresidenan sendiri. Sebagai residen Jambi yang pertama adalah O.L. Helfrich, sebelumnya dia menjabat sebagai Asisten Residen Palembang.
Susunan pemerintahan Jambi pada zaman Belanda masih memperhatikan susunan adat seperti di zaman kesultanan, namun disertai dengan beberapa penyesuaian, disesuaikan dengan politik jajahannya. Singkatnya, pemerintahan Jambi di era penjajahan Belanda berturut-turut dari level teratas sampai terbawah adalah Residen-Kontrolir-Demang-Asisten Demang-Kepala Adat/Pasirah-Penghulu/kepala dusun-Rakyat. Hingga residen yang terakhir yaitu Reuvers pada 1940 sampai 1943, kemudian setelah jepang mengambil alih jajahan atas Indonesia maka kekuasaan belanda beralih ke jepang, sampai 1945 indonesia merdeka.
Pada awal kemerdekaan Indonesia terdiri dari 8 provinsi dan  provinsi jambi termasuk dalam provinsi Sumatra Tengah, Pada tanggal 9 Agustus 1957 Presiden RI Ir. Soekarno akhirnya menandatangani di Denpasar Bali. UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Dengan UU No. 61 tahun 1958 tanggal 25 Juli 1958 UU Darurat No. 19 Tahun 1957 Tentang Pembentukan Daerah Sumatera Tingkat I Sumatera Barat, Djambi dan Riau. (UU tahun 1957 No. 75) sebagai Undang-undang. Dalam UU No. 61 tahun 1958 disebutkan pada pasal 1 hurup b, bahwa daerah Swatantra Tingkat I Jambi wilayahnya mencakup wilayah daerah Swatantra Tingkat II Batanghari, Merangin, dan Kota Praja Jambi serta Kecamatan-Kecamatan Kerinci Hulu, Tengah dan Hilir.
Kelanjutan UU No. 61 tahun 1958 tersebut pada tanggal 19 Desember 1958 Mendagri Sanoesi Hardjadinata mengangkat dan menetapkan Djamin gr. Datuk Bagindo Residen Jambi sebagai Dienst Doend DD Gubernur (residen yang ditugaskan sebagai Gubernur Provinsi Jambi dengan SK Nomor UP/5/8/4). Pejabat Gubernur pada tanggal 30 Desember 1958 meresmikan berdirinya Provinsi Jambi atas nama Mendagri di Gedung Nasional Jambi (sekarang gedung BKOW). Kendati dejure Provinsi Jambi di tetapkan dengan UU Darurat 1957 dan kemudian UU No. 61 tahun 1958 tetapi dengan pertimbangan sejarah asal-usul pembentukannya oleh masyarakat Jambi melalui BKRD maka tanggal Keputusan BKRD 6 Januari 1957 ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jambi, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Djambi Nomor. 1 Tahun 1970 tanggal 7 Juni 1970 tentang Hari Lahir Provinsi Djambi.
Dengan di sah kannya UU tersebut maka provinsi jambi terpisah dari kerasiden Palembang dan melaksanakan sistim pemerintahan sendiri. Dan adapun nama-nama Gubernur  jambi setelah di sah kan UU tersebut yaitu sebagai berikut :
·         1.1957-1967 Gubernur M. Joesoef Songedikane.
·         1967-1968 PJ. Gubernur H. Abd. Manap
·         9. 1968 Pj. Gubernur RM. Noer Atmadibrata
·         10. 1968-1974 Gubernur RM. Noer ATmadibrata
·         11. 1974-1979 Gubernur Djamaluddin Tambunan, SH.
·         12. 1979 Pj Gubernur Eddy Sabara
·         13. 1979-1989 Gubernur Masychun Sofwan, SH
·         14. 1989-1999 Gubernur Drs. H. Abdurachman Sayoeti
·         15. 1999-2004 Gubernur Drs. H. Zulkifli Nurdin, MBA
·         16. 2004-2005 Pj. Gubernur Sudarsono.
·         17. 2005-2010 Gubernur Drs. H. Zulkifli Nurdin, M
·          2010 – 2015 H. Hasan Basri Agus, MM
·         2016 –sekarang H. Zumi Zola, S.TP, M.A
Sumber :
 Nama : Rudi Hartono
Nim : I1A114005
Prodi : Ilmu Sejarah
SEJARAH POLITIK MELAYU JAMBI KONTEMPORER “
Perpolitikan di jambi sebelum kolonial belanda masuk, sistim politiknya berbentuk kesultanan dengan sultan sebagai raja atau  kepala pemerintahan.  Adapun kepala pemerintahan pertama di kesultanan yaitu Datuk paduka Berhalo/putri Selaro pinang masak pada 1460, hingga sampai sultan terakhir yaitu Sultan Thaha Syaifuddin Setelah kolonial belanda masuk maka kedudukan sultan melemah, sultan thaha melakukan perlawanan terhadap Belanda hingga beliau meninggal dalam  pertempuran di Betung berdarah tahun 1904. Setelah gugurnya Sultan Thaha, Belanda menguasai wilayah Jambi sepenuhnya. Tahun 1906, Belanda mulai membentuk administrasi pemerintahan di Jambi. Hal ini berarti bahwa Jambi yang sebelumnya ditangani oleh Keresidenan Palembang, menjadi keresidenan sendiri. Sebagai residen Jambi yang pertama adalah O.L. Helfrich, sebelumnya dia menjabat sebagai Asisten Residen Palembang.
Susunan pemerintahan Jambi pada zaman Belanda masih memperhatikan susunan adat seperti di zaman kesultanan, namun disertai dengan beberapa penyesuaian, disesuaikan dengan politik jajahannya. Singkatnya, pemerintahan Jambi di era penjajahan Belanda berturut-turut dari level teratas sampai terbawah adalah Residen-Kontrolir-Demang-Asisten Demang-Kepala Adat/Pasirah-Penghulu/kepala dusun-Rakyat. Hingga residen yang terakhir yaitu Reuvers pada 1940 sampai 1943, kemudian setelah jepang mengambil alih jajahan atas Indonesia maka kekuasaan belanda beralih ke jepang, sampai 1945 indonesia merdeka.
Pada awal kemerdekaan Indonesia terdiri dari 8 provinsi dan  provinsi jambi termasuk dalam provinsi Sumatra Tengah, Pada tanggal 9 Agustus 1957 Presiden RI Ir. Soekarno akhirnya menandatangani di Denpasar Bali. UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Dengan UU No. 61 tahun 1958 tanggal 25 Juli 1958 UU Darurat No. 19 Tahun 1957 Tentang Pembentukan Daerah Sumatera Tingkat I Sumatera Barat, Djambi dan Riau. (UU tahun 1957 No. 75) sebagai Undang-undang. Dalam UU No. 61 tahun 1958 disebutkan pada pasal 1 hurup b, bahwa daerah Swatantra Tingkat I Jambi wilayahnya mencakup wilayah daerah Swatantra Tingkat II Batanghari, Merangin, dan Kota Praja Jambi serta Kecamatan-Kecamatan Kerinci Hulu, Tengah dan Hilir.
Kelanjutan UU No. 61 tahun 1958 tersebut pada tanggal 19 Desember 1958 Mendagri Sanoesi Hardjadinata mengangkat dan menetapkan Djamin gr. Datuk Bagindo Residen Jambi sebagai Dienst Doend DD Gubernur (residen yang ditugaskan sebagai Gubernur Provinsi Jambi dengan SK Nomor UP/5/8/4). Pejabat Gubernur pada tanggal 30 Desember 1958 meresmikan berdirinya Provinsi Jambi atas nama Mendagri di Gedung Nasional Jambi (sekarang gedung BKOW). Kendati dejure Provinsi Jambi di tetapkan dengan UU Darurat 1957 dan kemudian UU No. 61 tahun 1958 tetapi dengan pertimbangan sejarah asal-usul pembentukannya oleh masyarakat Jambi melalui BKRD maka tanggal Keputusan BKRD 6 Januari 1957 ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jambi, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Djambi Nomor. 1 Tahun 1970 tanggal 7 Juni 1970 tentang Hari Lahir Provinsi Djambi.
Dengan di sah kannya UU tersebut maka provinsi jambi terpisah dari kerasiden Palembang dan melaksanakan sistim pemerintahan sendiri. Dan adapun nama-nama Gubernur  jambi setelah di sah kan UU tersebut yaitu sebagai berikut :
·         1.1957-1967 Gubernur M. Joesoef Songedikane.
·         1967-1968 PJ. Gubernur H. Abd. Manap
·         9. 1968 Pj. Gubernur RM. Noer Atmadibrata
·         10. 1968-1974 Gubernur RM. Noer ATmadibrata
·         11. 1974-1979 Gubernur Djamaluddin Tambunan, SH.
·         12. 1979 Pj Gubernur Eddy Sabara
·         13. 1979-1989 Gubernur Masychun Sofwan, SH
·         14. 1989-1999 Gubernur Drs. H. Abdurachman Sayoeti
·         15. 1999-2004 Gubernur Drs. H. Zulkifli Nurdin, MBA
·         16. 2004-2005 Pj. Gubernur Sudarsono.
·         17. 2005-2010 Gubernur Drs. H. Zulkifli Nurdin, M
·          2010 – 2015 H. Hasan Basri Agus, MM
·         2016 –sekarang H. Zumi Zola, S.TP, M.A
Sumber :

No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...