Monday, 2 May 2016

sejarah perdagangan kopi di indonesia masa kolonial

Makalah
Sejarah Ekonomi Indonesia
“Perdagangan kopi di Indonesia masa kolonial Belanda”

Description: lambang-unja.jpg
Dosen Pengampu : Siti Suhada, Spd M.E

                                      Di Susun oleh       :
Rudi Hartono                          I1A114005



PRODI ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2016

Daftar isi :
Daftar isi…………………………………………………………………………….....
Kata pengantar………………………………………………………………………ii
BAB I : Pendahuluan
1.1.Latar Belakang Masalah…………….………………….....................................………………1
1.2. Rumusan Masalah    ………………….………………....................................…......………..…2
1.3. Tujuan………………………………….……………………………...................................……2
1.4. Metode Pustaka ……………………….…………………………..............................……………2
BAB II : Isi
2.1 Perkembangan tanaman kopi di Indonesia masa kolonial....………...……….............................…3
2.2 Proses perdagangan Kopi di Indonesia masa kolonial………………………….............................8
2.3 Kopi sebagai komoditas ekspor di Indonesia masa kolonial……..................................................10
BAB III : Penutup
3.1.kesimpulan ………………………………………………….....................................……………12
Daftar Pustaka ……………………………………………..............................……………………13




KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kepada allah swt karena kami telah selesai membuat makalah ini dengan waktu yang telah di jadwalkan. Dalam makalah ini yang berjudul ‘Perdagangan kopi di Indonesia masa kolonial Belanda’ semoga siapapun yang membacanya dapat mengambil manfaatnya. Dan kami ucapkan terima kasih pada teman-teman dan dosen yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
            Demikian makalah ini kami buat, semoga berguna dan bermanfaat bagi kita semua,. Sekian terimakasih.


                                               

Jambi, 2 mei 2016
                                                                                                            Penulis ,

 


Bab I
Pendahuluan
A.    Latar belakang
Kehadiran pemerintah colonial Belanda dengan berbagai kebijakan politiknya memberikan aspek ekonomi di Negara kepulauan Indonesia, terutama di sektor perdagangan kawasan pantai, yaitu pantai barat sumatra[1]. Kehadiran bangsa  belanda telah menggiring aktivitas perdagangan Indonesia umumnya dan daerah-daerah di Indonesia pada khususnya, ke sebuah tatanan ekonomi, pada tahap selanjutnya tidak hanya daerah Indonesia yang menjadi sebagai tatanan dari ekonomi belanda, tetapi Belanda juga menjadi tatanan ekonomi interasional.
Salah satu tatanan ekonomi Belanda yaitu perdagangan kopi, yang merupakan salah satu komuditas dagang yang terpenting bagi pemerintahan Belanda di pantai barat. Tanaman kopi mulai di perkenalkan di Indonesia oleh VOC pada abad 17[2], pada kurun waktu itu VOC mencoba membudidayakan di berapa tempat di pulau jawa, usaha pembudidayaan kopi di pulau jawa oleh VOC ini berkaitan dengan adanya permintaan akan komuditas ini di pasaran internasional terutama di eropa, kopi terbukti sangat menguntungkan di pasaran eropa, begitu besar perdagangan kopi di Indonesia hingga sampai menembus pasar eropa pada masa colonial, ini perlu kita kaji lebih dalam bagaimana perdagangan kopi pada colonial Belanda.
B.     Rumusan masalah
a.       Bagaimana perkembangan tanaman kopi di Indonesia
b.      Bagaimana proses perdagangan kopi di Indonesia masa kolonial Belanda.
c.       Apa penyebab kopi menjadi komoditas ekspor bagi Indonesia masa kolonial Belanda
C.     Tujuan
a.       Mengetahui perkembangan tanaman  kopi di Indonesia
b.      Mengetahui proses perdagangan kopi di Indonesia masa kolonial Belanda
c.       Mengetahui penyebab kopi menjadi komoditas ekspor di Indonesia
D.    Metode Pustaka
Dalam metode ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan denga penulisan makalah ini yaitu  buku sejarah Ekonomi Indonesia yang di tulis oleh Anne Booth, buku ini sangat membantu dalam pembuatan makalah ini karena buku ini menceritakan tentang perekonomian Indonesia dan perdagangan masa kolonial Belanda di Indonesia, selain itu penulis juga membaca buku karangan Gustiasnan tentang Dunia maritim pantai Barat Sumatra yang memuat bagaimana perdagangan di Indonesia dalam bidang kemaritiman serta menulis juga membaca buku Adi Sudirman tentang Sejarah lengkap Indonesia , buku yang menceritakan sejarah lengkap Indonesia dari pra sejarah-sejarah-pra kolonial-kolonial sampai merdeka yang sangat membantu dalam pembuatan makalah ini selain itu penulis juga mengambil sumber dari internet.
Bab II
Pembahasan
A.    Perkembangan tanaman kopi di Indonesia
kopi pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1696 dari jenis kopi Arabika. Kopi ini masuk melalui Batavia (sekarang Jakarta) yang dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar - India, yang kemudian ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi -Jakarta Timur, dengan menggunakan tanah partikelir Kedaung. Sayangnya tanaman ini kemudian mati semua oleh banjir, maka tahun 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru, yang kemudian berkembang di sekitar Jakarta dan Jawa Barat antara lain di Priangan, dan akhirnya menyebar ke berbagai bagian dikepulauan Indonesia seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor.
Kopi pun kemudian menjadi komoditas dagang yang sangat diandalkan oleh VOC. Tahun 1706 Kopi Jawa diteliti oleh Belanda di Amsterdam, yang kemudian tahun 1714 hasil penelitian tersebut oleh Belanda diperkenalkan dan ditanam di Jardin des Plantes oleh Raja Louis XIV.
Ekspor kopi Indonesia pertama kami dilakukan pada tahun 1711 oleh VOC, dan dalam kurun waktu 10 tahun meningkat sampai 60 ton / tahun. Hindia Belanda saat itu menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia, yang menjadikan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 – 1780. Kopi Jawa saat itu sangat tekenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan “ secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad ke 19 Kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia.
Produksi  kopi  di Jawa mengalami peningkatan yang cukup siginificant, tahun 1830 – 1834 produksi kopi Arabika mencapai 26.600 ton, dan 30 tahun kemudian meningkat menjadi 79.600 ton dan puncaknya tahun 1880 -1884 mencapai 94.400 ton.
Selama 1 3/4 (Satu – tiga perempat) abad kopi Arabika merupakan satu-satunya jenis kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Tapi kemudian perkembangan budidaya kopi Arabika di Indonesia mengalami kemunduran hebat, dikarenakan serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) , yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876.  Akibatnya kopi Arabika yang dapat bertahan hidup hanya yang berada pada ketinggian 1000 m ke atas dari permukaan laut,  dimana serangan penyakit ini tidak begitu hebat.  Sisa-sisa tanaman kopi Arabika ini masih dijumpai di  dataran tinggi ijen (Jawa Timur) , Tanah Tinggi Toraja ( Sulawesi Selatan), lereng bagian atas Bukit Barisan ( Sumatera) seperti Mandhailing, Lintong dan Sidikalang di Sumatera Utara dan dataran tinggi Gayo di Nangroe Aceh Darussalam.
Untuk mengatasi serangan hama karat daun kemudian Pemerintah Belanda mendatangkan Kopi Liberika (Coffea Liberica) ke Indonesia pada tahun 1875. Namun ternyata jenis ini pun juga mudah diserang penyakit karat daun dan kurang bisa diterima di pasar karena rasanya yang terlalu asam. Sisa tanaman Liberica saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi, Jawa Tengah dan Kalimantan.
Usaha selanjutnya dari Pemerintah Belanda adalah dengan mendatangkan kopi jenis Robusta ( Coffea Canephora) tahun 1900, yang ternyata tahan terhadap penyakit karat daun dan memerlukan syarat tumbuh serta pemeliharaan yang ringan , sedangkan produksinya jauh lebih tinggi . Maka kopi Robusta menjadi cepat berkembang menggantikan jenis Arabika khususnya di daerah – daerah dengan ketinggian di bawah 1000 m dpl dan mulai menyebar ke seluruh daerah baik di Jawa, Sumatera maupun ke Indonesia bagian timur.
Semenjak Pemerintah Hindia Belanda meninggalkan Indonesia, perkebunan rakyat terus tumbuh dan berkembang, sedangkan perkebunan swasta hanya bertahan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di Sumatera; dan perkebunan negara (PTPN) hanya tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.Pada tahun 1878 terjadi tragedi yang memilukan. Hampir seluruh perkebunan kopi yang ada di Indonesia terutama di dataran rendah rusak terserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV). Kala itu semua tanaman kopi yang ada di Indonesia merupakan jenis Arabika (Coffea arabica). Untuk menanggulanginya, Belanda mendatangkan spesies kopi liberika (Coffea liberica) yang diperkirakan lebih tahan terhadap penyakit karat daun.
Sampai beberapa tahun lamanya, kopi liberika menggantikan kopi arabika di perkebunan dataran rendah. Di pasar Eropa kopi liberika saat itu dihargai sama dengan arabika. Namun rupanya tanaman kopi liberika juga mengalami hal yang sama, rusak terserang karat daun. Kemudian pada tahun 1907 Belanda mendatangkan spesies lain yakni kopi robusta (Coffea canephora). Usaha kali ini berhasil, hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta yang ada di dataran rendah bisa bertahan.
Tanaman kopi di kawasan pantai barat Sumatra pertama kali berkembang di kawasan pedalaman, tepatnya di luhak agam.[3] Dari luhak agam tanaman kopi menyebar ke kawasan limapuluh kota dan tanah datar, jenis kopi pertama yaitu jenis kopi Arabica, yang merupakan tanaman kopi dari arab, yang mungkin tanaman ini di di perkenalkan setalah penduduk setempat pulang dari Mekka. kopi yang semula di perdagangkan oleh penduduk adalah dalam bentuk daun kopi, masyarakat menjual daun kopi dalam keadaan masih segar tapi ada juga dalam keadaan yang sudah di olah sehingga seperti teh.
Kopi mulai muncul menjadi komoditas perdagangan pada abad ke 18.[4]sumber pertama mengenai kegiatan perdagangan kopi ini mengatakan bahwa kopi mulai di perdagangkan di kota padang sejak tahun 1789[5]. Kopi pada masa ini belum sebagai komoditas ekspor hanya diperjual belikan di pasar-pasar local untuk konsumsi masyarakat setempat, namun tahun 1882 tahun pertama pemerintah membeli kopi penduduk dan pembelian ini dilakukan oleh NHM[6], kemudian  kopi berkembang tidak hanya di perdagangkan di daerah setempat melainkan berkembang secara nasional bahkan internasional. Namun kemudian adanya Perubahan sosial ekonomi di wilayah Indonesia khususnya di wilayah pedesaan di jawa pada abad ke 19 dan awal abad 20 sangat terpengaruh oleh kebijakan ekonomi kolonial, terutama yang beroreantasi pada produksi tanaman ekspor, untuk pasar dunia. Berbagai usaha yang dijalankan pemerintah belanda pada tahun 1830 an untuk meningkat penerimaan kopi dari petani tidak membuahkan hasil yang berarti,bahkan permulaan tahun 1840 jumlah kopi yang diserahkan semakin sedikit, inilah dasar munculnya tanam paksa kopi.
Tanam paksa kopi ini dimuat dalam surat keputusan Gubernur micheals tanggal 1 november 1847 ini mewajibkan setiap keluarga menanam skurang-kurangnya 150 batang[7], karena produksi kopi terus merosot, maka pada tahun1880 pembudidayayaan kopi diperluas sampai 50 % dari semua rumah tangga petani.








B.     Proses perdagangan kopi di Indonesia
Dalam menjalankan proses perdagangan luar negeri khususnya perdagangan kopi terdapat lembaga yang menjadi pelantara atau sebagai perusahaan jasa  antara petani, pemerintah belanda dengan  pedagang luar negeri yang dikenal dengan rumah dagang, barang dagang yang ditangani oleh rumah dagang adalah barang yang di ekspor terutama tujuan ke eropa, rumah dagang membeli langsung ke para petani dan pemerintah belanda yang kemudian di jual kembali ke eropa, salah satu rumah dagang yang aktif dalam perdagangan luar negeri dan menjalin kerjasama dengan pasar luar negeri  yaitu Purvis & CO.[8]
Selain menjalin perdagangan dengan lembaga pasar perdagangan dunia, terdapat pula peran saudagar dalam proses perdagangan kopi di Indonesia masa kolonial belanda terutama saudagar-saudagar asing. Saudagar yang menjadi pelaku kegiatan perdagangan yaitu Saudagar eropa , Saudagar timur asing.
1.      Saudara Eropa
Saudagar eropa yang melakukan perdagangan dengan Indonesia adalah saudagar dari inggris, belanda dan Jerman. Saudagar- saudagar ini mempunyai peran penting dalam kegiatan perdagangangan. Saudagar dari inggris inggris yang kenal yaitu Townsend, Ingram, W. Purvis, saudagar inggris ini mempunyai peran penting di eropa, mereka mempunyai peran ganda selain pedagang juga sebagai jabatan dalam pemerintahan inggris.
Sama hal nya dengan saudagar inggris, saudagar belanda juga mempunyai peran penting dalam perdagangan. Salah satu saudagar Belanda yang mempunyai pengaruh besar bagi perdagangan adalah A,F. van Berg. Ia tercatat sebagai salah satu partikulir belanda yang terbesar, dan juga merupakan mantan pegawai dari VOC.
2.      Saudagar timur asing.
Disamping saudagar eropa, ada juga saudagar dari asia dalam kegiatan perdagangan di Indonesia yaitu pedagang dari cina, India, dan arab. Kelompok dagang ini sering
Disebut dengan timur asing. Pada awal abad 20 saudagar cina telah menjadi sebagai pedagang besar dalam kegiatan impor ekspor.[9] Para saudagar cina yang menjadi pedagang yang mempunyai pengaruh besar bagi perdagangan Indonesia dan eropa di antaranya adalah Lie Gieng, Lie Sing, dan Hoi Atjouw. Selain dari cina, saudagar timur asing juga berasal dari india dan arab sebagian besar para saudagar kedua ini bergerak dalam perdagangan kain, akan tetapi mereka juga mempunyai pengaruh dalam perdagangan kopi di Indonesia salah satunya saudagar dari arab Muhammad Saleh Ensoof Angullia yang sejak tahun 1888 mempunyai kebun kopi seluas 361 bahu di daerah gadut, di timur kota padang.




C.     Kopi sebagai komoditas ekspor bagi Indonesia masa kolonial Belanda
Kopi mulai muncul menjadi komoditas perdagangan pada abad ke 18. sumber pertama mengenai kegiatan perdagangan kopi ini mengatakan bahwa kopi mulai di perdagangkan di kota padang sejak tahun 1789 . pada masa ini kopi hanya di perdagangkan hanya di masyarakat setempat, mereka menjual kopi dalam bentuk daun, pada  tahun 1882, kopi yang semula hanya diperdagangkan di masyarakati padang berkembang yang kemudian di perjual belikan oleh pemerintah Belanda setelah bangsa eropa dan amerika mencari kopi, maka dari itu pada tahun ini merupakan  tahun pertama pemerintah membeli kopi penduduk dan pembelian ini dilakukan oleh NHM[10].
 kemudian  kopi berkembang tidak hanya di perdagangkan di daerah setempat melainkan berkembang secara nasional bahkan internasional yang menempatkan kopi sebagai komoditas ekspor di indonesia. Karena kopi menjadi komoditas ekspor maka perintah menerapkan sistem tanam paksa terhadap pribumi untuk menanam kopi, guna memenuhi permintaan pasar dunia.
Para pembeli utama dari perdagangan kopi adalah Van Houten & Co,B.Person, F.Mac Creery, W.V. bueren & Co, leo Company Ltd, Peet & Co H.Eilbrecht[11]. umumnya mereka merupakan padagang besar di kawasan Sumatra, sebagian besar kopi yang dibeli mereka jual kembali kepada saudagar asing lainnya, terutama amerika, Belanda, inggris. Dan sejak inilah kopi jadi komoditas ekspor, pada tahun 1969-1905 sekitar 3.093.000 pikul kopi dari Indonesia di ekspor ke Amerika, 1.400.000 pikul ke belanda, 22.000 pikul di ekspor ke perancis, dan 42.000 di ekspor ke pelabuhan – pelabuhan pulau penang dan singapura.
Berikut ini data ekspor kopi antara tahun 1876-1906
Tahun
Jumlah (Pikul)
Tahun
Jumlah (Pikul)
Tahun
Jumlah (Pikul)
1876
102.891
1887
83.627
1898
40.342
1877
175.034
1888
99.125
1899
48.555
1878
82.351
1889
48.336
1900
30.377
1879
112.030
1890
65.050
1901
44.138
1880
123.347
1891
44.834
1902
34.254
1881
109.985
1892
59.766
1903
24.984
1882
98.309
1893
56.724
1904
31.415
1883
150.127
1894
24.038
1905
69.939
1884
98.309
1895
49.895
1906
39.259
1885
102.127
1896
47.045


1886
48.241
1897
33.387



 (sumber: Gustiasnan, dnia maritime pantai barat Sumatra) hal.109


Bab III
Penutup
A.kesimpulan
Masuknya kolonial Belanda mempunyai pengaruh besar terhadap sistem sosial dan ekonomi di Indonesia. Salah satunya yaitu sistem perdagangan, bangsa barat yang datang ke Indonesia mengetahui geografis Indonesia yang subur maka mereka membudidayakan tanaman yang menjadi pasar dunia, yaitu salah  kopi, yang pertama kali di bawah oleh bangsa belanda pada tahun 1696 ketika Belanda membawa kopi dari Malabar, India, ke Jawa. Mereka membudidayakan tanaman kopi tersebut di Kedawung. Maka mulai penanaman kopi di Indonesia yang pada awalnya hanya diperjualbelikan masyarakat local, kemudian pada tahun 1882 kopi para petani di beli oleh pemerintah kolonial untuk di perdagangkan di luar negeri.
Dalam menjalankan perdagangan ada nama nya rumah dagang yang menanmpung hasil kopi masyarakat sebelum di jual ke luar negeri, dan dalam transaksi perdagangan ini ada para saudagar dari yangmenjadi penghubung antara pedagang di Indonesia dengan pembeli di luar negeri, saudagar itu berasal dari orang eropa ( inggris, belanda, Jerman) dan orang timur asing (arab,dan india). pada tahun 1969-1905 sekitar 3.093.000 pikul kopi dari Indonesia di ekspor ke Amerika, 1.400.000 pikul ke belanda, 22.000 pikul di ekspor ke perancis, dan 42.000 di ekspor ke pelabuhan – pelabuhan pulau penang dan singapura.
Daftar Pustaka :
Boot, Anne. Dkk .1988. Sejarah Ekonomi Indonesia. Jakarta : LP3ES.
Gustiasnan.2008. Dunia Maritim pantai barat Sumatra. Jogyakarta : Ombak.
Sudirman, Adi. 2014. Sejarah lengkap Indonesia. Jogyakata : Diva Press.
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:4q1YO65mkyUJ:ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/files/content/4/ICO__ORGANISASI_KOPI_INTERNASIONAL20060109120016.doc+&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id  Di akses pada 30 April 2016
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:qLHYfH769skJ:www.aeki-aice.org/page/sejarah/id+&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id di akses pada 30 April 2016





[1] Pesisir Barat Sumatera (bahasa Belanda: Sumatra's Westkust) ialah keresidenan di pesisir barat Sumatera semasa penjajahan Belanda. Daerah ini terdiri atas Dataran Tinggi Padang; bagian tengah yang terbagi oleh pesisir Sumatera; dan Kepulauan Mentawai dan Batu. Ibukotanya adalah Padang.
[2] Anne Booth, dkk. Sejarah Ekonomi Indonesia (Jakarta : LP3ES, IkAPI.1988), hal.238.
[3] Ibid,hal, 203
[4] Op. cit
[5] Ibid.hal 204
[6] NHM (Nederlands Handel Maatschappij) adalah perusahaan yang diberikan pemerintah wewenang oleh pemerintah belanda untuk mengatur perdagangan di Indonesia.
[7] Ibid hal 103
[8] Ibid hal. 115.
[9] Ibid, hal 120.
[10] Ibid hal.201
[11] Gustiasnan,Dunia maritim pantai barat Sumatra, (Yogyakarta : ombak,2007) hal.107

No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...