Nama : Rudi Hartono
Nim : I1A114005
Prodi : Ilmu sejarah
Fakultas Ilmu Bbudaya
Universitas Jambi
“SEJARAH PERTANIAN KARET DI MELAYU
JAMBI”
Masuknya
biji karet dari Malaka ke Jambi adalah berkat jasa tenaga kerja dan jemaah
haji. Pada awal masuknya biji karet di Jambi tersiar khabar yang bernada mitos
bahwa karet Malaka sangat mahal dan mendatangkan banyak uang. Sedangkan
masyarakat Jambi pada waktu itu (akhir abad 19 M) hanya mengenal / menyadap
pohon Balam Merah, Jelutung dan Jernang. Dalam waktu relatif singkat mitos
sekitar karet Malaka menyebar ke seluruh masyarakat Jambi. Inilah salah satu
motivasi masyarakat Jambi mulai menanam karet dari Malaka. Laporan Dinas
Pertanian Hindia Belanda, Keresidenan Jambi tahun 1918 M, menyebutkan bahwa
pada tahun 1922 petani karet Jambi mengalami masa sulit karena harga karet di
pasar Singapore mencapai titik terendah ± 25 Golden setiap pikul (100 Kg).
Penurunan harga karet diikuti pula dengan turunnya ekspor karet. Kondisi ini
menjadi semakin sulit lagi dengan adanya isu bahwa karet Jambi bermutu rendah
karena tercemar dengan tatal, pasir, sepatu buruk, bahkan ada bangkai
labi-labi. Selain itu bentuk karet slabs dari Jambi lebih tebal dan kotor. Melihat
mutu karet Jambi di tahun awal berdirinya Keresidenan Jambi sangat rendah, maka
pemerintah Hindia Belanda melakukan program perbaikan. Dalam laporan penelitian
Badan Pemalsuan Karet (De Rubbervervalshingskuer) Pemerintah Keresidenan Jambi
tanggal 2 Mei 1928 langkah-langkah perbaikan mutu antara lain sebagai berikut.
·
Pencetakan getah (slabs) itu tidak lebih
dari 3 cm tebalnya.
·
Getah karet itu dikirim harus dalam
keadaan kering.
·
Getah tersebut pengadukannya hanya
dibenarkan dengan tawas, tidak dibenarkan dengan campuran lain seperti tatal
ataupun sisa-sisa karet itu.
Dampak
dari program perbaikan mutu tersebut secara berangsur-angsur mutu karet Jambi
mengalami perbaikan (peningkatan), hal ini dilihat dari adanya peningkatan
harga karet Jambi di Singapore meningkat. Pada periode 1925 – 1928 merupakan
zaman kejayaan bagi petani karet Jambi, di mana harga karet ada mencapai angka
tertinggi ƒ 52,50 setiap pikul (100 kg). Selang waktu singkat kurang lebih
selama 4 tahun masa kejayaan itu disebut sebagai zaman menyenangkan atau Hujan
Emas Di Negeri Awak.
Sampai
tahun 1935 dapat dikatakan bahwa tanaman karet telah merata ditanam di seluruh
daerah Jambi, kecuali di beberapa wilayah marga seperti di Marga Serampas,
Pembarap, Pangkalan Jambu, Sungai Tenang, Pratin Tuo, dan daerah Tungkal bagian
Ilir (Tungkal Ilir). Pada periode 1930-1935, terjadi perubahan besar di mana
petani kebun karet Jambi mulai menggunakan tenaga buruh penyadap karet dari
Jawa, Sumatera Barat, Banjar, dll. Pengupahan tenaga penyadap karet ini berlaku
menurut pola tradisional Jambi yakni model Induk Semang. Banyaknya penggunaan
tenaga pekerja penyadap karet ini menyebabkan kebutuhan masyarakat Jambi akan
beras, gula, garam, dan rokok, dll, menjadi meningkat.
Pemerintah
Hindia Belanda, tercatat Pada tahun 1941 ekspor karet Jambi ke Singapore
mencapai 90.197 ton. Sedangkan luas tanaman karet pada tahun 1942 di Jambi
mencapai 188.578 Ha. Angka ini melampaui ekspor dan luas tanaman karet dari
daerah Riau Kepulauan, Bengkalis, Indragiri, dan. Sumatera BaratSedangkan
ekspor karet Jambi tahun 1941 menurut jenisnya jauh lebih banyak dari pada
ekspor karet dari daerah Riau Kepulauan, Bengkalis, Indragiri, dan. Sumatera
Barat. Setelah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia, maka ekspor karet
Jambi pada tahun 1952 menurut di bawah riau,bengkalis,Indragiri dan Sumatra
Barat.
Pada
tahun 2010 Perkebunan Karet di Jambi mempuyai luas
sekitar 588.043 Ha, dengan hasil karet 312.925 ton, Hasil olahan perkebunan
karet pada umumnya diolah menjadi bokar ( bahan olahan karet rakyat) untuk
kemudian ijual ke pabrik crumb disekitar
kota Jambi. Produk karet adalah penyumbang devisa terbesar di Jambi menggeser
produk kayu lapis dan kayu olahan. Data realisasi ekspor komoditi migas dan non
migas Jambi yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)
Provinsi Jambi, ekspor non migas Jambi terbesar produk karet mencapai 127,684
ton dengan nilai 432,052 juta dolar Amerika Serikat. Sementara realisasi ekspor
kayu lapis 187,313 ton dengan nilai 178.945 dolar AS. Provinsi Jambi kembali
menjadikan karet sebagai komoditi primadona ekspor setelah produk ekspor kayu
lapis dan kayu olahan kian terpuruk akibat keterbatasan bahan baku. Sementara
itu untuk meningkatkan ekspor karet selain perluasan areal tanaman juga
meremajakan perkebunan karet rakyat.
Sumber
:
https://melangun.wordpress.com/2000/02/06/sejarah-karet-di-jambi/
di akses pada 09 mei 2016 pukul 11 : 19 WIB
http://www.jambiprov.go.id/index.php?karet
di akses pada 09 mei 2016 pukul 11 : 25 WIB
silakan di baca, kritikan dan saran diharapkan
ReplyDeletesalam wong kito galo