Sunday, 15 May 2016

sejarah pertanian melayu jambi

Nama : Rudi Hartono
Nim : I1A114005
Prodi : Ilmu sejarah
 Fakultas Ilmu Bbudaya
Universitas Jambi
“SEJARAH PERTANIAN KARET DI MELAYU JAMBI”
Masuknya biji karet dari Malaka ke Jambi adalah berkat jasa tenaga kerja dan jemaah haji. Pada awal masuknya biji karet di Jambi tersiar khabar yang bernada mitos bahwa karet Malaka sangat mahal dan mendatangkan banyak uang. Sedangkan masyarakat Jambi pada waktu itu (akhir abad 19 M) hanya mengenal / menyadap pohon Balam Merah, Jelutung dan Jernang. Dalam waktu relatif singkat mitos sekitar karet Malaka menyebar ke seluruh masyarakat Jambi. Inilah salah satu motivasi masyarakat Jambi mulai menanam karet dari Malaka. Laporan Dinas Pertanian Hindia Belanda, Keresidenan Jambi tahun 1918 M, menyebutkan bahwa pada tahun 1922 petani karet Jambi mengalami masa sulit karena harga karet di pasar Singapore mencapai titik terendah ± 25 Golden setiap pikul (100 Kg). Penurunan harga karet diikuti pula dengan turunnya ekspor karet. Kondisi ini menjadi semakin sulit lagi dengan adanya isu bahwa karet Jambi bermutu rendah karena tercemar dengan tatal, pasir, sepatu buruk, bahkan ada bangkai labi-labi. Selain itu bentuk karet slabs dari Jambi lebih tebal dan kotor. Melihat mutu karet Jambi di tahun awal berdirinya Keresidenan Jambi sangat rendah, maka pemerintah Hindia Belanda melakukan program perbaikan. Dalam laporan penelitian Badan Pemalsuan Karet (De Rubbervervalshingskuer) Pemerintah Keresidenan Jambi tanggal 2 Mei 1928 langkah-langkah perbaikan mutu antara lain sebagai berikut.
·         Pencetakan getah (slabs) itu tidak lebih dari 3 cm tebalnya.
·         Getah karet itu dikirim harus dalam keadaan kering.
·         Getah tersebut pengadukannya hanya dibenarkan dengan tawas, tidak dibenarkan dengan campuran lain seperti tatal ataupun sisa-sisa karet itu.
Dampak dari program perbaikan mutu tersebut secara berangsur-angsur mutu karet Jambi mengalami perbaikan (peningkatan), hal ini dilihat dari adanya peningkatan harga karet Jambi di Singapore meningkat. Pada periode 1925 – 1928 merupakan zaman kejayaan bagi petani karet Jambi, di mana harga karet ada mencapai angka tertinggi ƒ 52,50 setiap pikul (100 kg). Selang waktu singkat kurang lebih selama 4 tahun masa kejayaan itu disebut sebagai zaman menyenangkan atau Hujan Emas Di Negeri Awak.
Sampai tahun 1935 dapat dikatakan bahwa tanaman karet telah merata ditanam di seluruh daerah Jambi, kecuali di beberapa wilayah marga seperti di Marga Serampas, Pembarap, Pangkalan Jambu, Sungai Tenang, Pratin Tuo, dan daerah Tungkal bagian Ilir (Tungkal Ilir). Pada periode 1930-1935, terjadi perubahan besar di mana petani kebun karet Jambi mulai menggunakan tenaga buruh penyadap karet dari Jawa, Sumatera Barat, Banjar, dll. Pengupahan tenaga penyadap karet ini berlaku menurut pola tradisional Jambi yakni model Induk Semang. Banyaknya penggunaan tenaga pekerja penyadap karet ini menyebabkan kebutuhan masyarakat Jambi akan beras, gula, garam, dan rokok, dll, menjadi meningkat.
Pemerintah Hindia Belanda, tercatat Pada tahun 1941 ekspor karet Jambi ke Singapore mencapai 90.197 ton. Sedangkan luas tanaman karet pada tahun 1942 di Jambi mencapai 188.578 Ha. Angka ini melampaui ekspor dan luas tanaman karet dari daerah Riau Kepulauan, Bengkalis, Indragiri, dan. Sumatera BaratSedangkan ekspor karet Jambi tahun 1941 menurut jenisnya jauh lebih banyak dari pada ekspor karet dari daerah Riau Kepulauan, Bengkalis, Indragiri, dan. Sumatera Barat. Setelah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia, maka ekspor karet Jambi pada tahun 1952 menurut di bawah riau,bengkalis,Indragiri dan Sumatra Barat.
Pada tahun 2010 Perkebunan Karet di Jambi mempuyai luas sekitar 588.043 Ha, dengan hasil karet 312.925 ton, Hasil olahan perkebunan karet pada umumnya diolah menjadi bokar ( bahan olahan karet rakyat) untuk kemudian  ijual ke pabrik crumb disekitar kota Jambi. Produk karet adalah penyumbang devisa terbesar di Jambi menggeser produk kayu lapis dan kayu olahan. Data realisasi ekspor komoditi migas dan non migas Jambi yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jambi, ekspor non migas Jambi terbesar produk karet mencapai 127,684 ton dengan nilai 432,052 juta dolar Amerika Serikat. Sementara realisasi ekspor kayu lapis 187,313 ton dengan nilai 178.945 dolar AS. Provinsi Jambi kembali menjadikan karet sebagai komoditi primadona ekspor setelah produk ekspor kayu lapis dan kayu olahan kian terpuruk akibat keterbatasan bahan baku. Sementara itu untuk meningkatkan ekspor karet selain perluasan areal tanaman juga meremajakan perkebunan karet rakyat.
                                               Sumber :
https://melangun.wordpress.com/2000/02/06/sejarah-karet-di-jambi/ di akses pada 09 mei 2016 pukul 11 : 19 WIB
http://www.jambiprov.go.id/index.php?karet di akses pada 09 mei 2016 pukul 11 : 25 WIB


1 comment:

  1. silakan di baca, kritikan dan saran diharapkan

    salam wong kito galo

    ReplyDelete

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...