Wednesday, 18 May 2016

perdagangan di jambi

Sejarah perdagangan di Melayu Jambi
Perdagangan dimelayu Jambi mulai berkembang sejak awal kejayaan kesultanan jambi pada abad 16 sampai abad 17. Sekitar tahun 1550 sampai akhir abad 17, perdagangan di kesultanan jambi mengalami keemasan, kesultanan jambi menjalin perdagangan dengan berbagai daerah bahkan ke bangsa asing yakni bangsa portugis, inggris, dan hindia timur belanda terutama penjualan rempah-rempah bahkan pelabuhan jambi  menjadi terkaya kedua di Sumatra setelah Aceh terutama lada yang menjadi komuditas dagang tertinggi . Pada abad ke-18 M, lada telah menjadi komoditas ekspor penting Kesultanan Jambi.
Berdasarkan laporan VOC (Vereenige Oost Indische Compagnie), sultan Jambi mendapat keuntungan sebanyak 30-35% dari penjualan lada . Pada periode tersebut, daerah huluan Jambi juga dikenal sebagai penyalur merica. Khusus aktivitas pendulangan emas, umumnya dilakukan oleh orang Minangkabau. Daerah huluan penghasil emas utama adalah Koto Kandis, bukti aktivitas pendulangan emas di sana dapat dilihat dari benda-benda arkeologis yang ditemukan seperti pecahan keramik dan batuan berbentuk botol yang biasa dipakai untuk menyimpan cairan merkuri sebagai salah satu bahan baku pembuatan emas. Sejak abad ke-17, Kesultanan Jambi sudah melakukan perdagangan atas biji emas sampai ke Eropa. Semua hasil pertanian, perikanan, perkebunan, hasil hutan, kerajinan, dan emas menjadi komoditas ekspor Kesultanan Jambi yang dijual sampai ke Malaka dan Singapura dan Eropa melalui Pelabuhan Jambi. Komoditas ekspor tersebut ditukar oleh sultan-sultan Jambi dengan beras, garam, kain/tekstil, dan perkakas dari logam dan besi. Khusus untuk kain sutera dan mori, dibeli langsung dari pedagang Eropa/Belanda dan Cina untuk membuat tenun ikat, sulam benang emas, dan kain bermotif bunga atau batik. Oleh karena itu, perdagangan menjadi satu-satunya aktivitas penduduk yang tinggal di daerah ibukota kesultanan jambi . Kegiatan perdagangan ekspor-impor tersebut melibatkan sultan dan bangsawan, serta pedagang lokal (dari huluan), pedagang Nusantara lainnya, serta pedagang asing.
Ketika wilayah jambi di kuasai oleh Belanda maka perdagangan dan komuditas perdagangan di kendalikan oleh Belanda. sistem ekonomi subsistensi berganti menjadi sistem ekonomi komersial. Penduduk mulai mengenal dan menanam karet setelah pemerintah Hindia Belanda mewajibkan penanaman karet di beberapa afdeeling dan onderfdeeling di Keresidenan Jambi, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat Eropa akan karet. Karet menjadi tanaman komersial penting satu-satunya di Keresidenan Jambi sampai periode kolonial akhir Selama dasawarsa 1920-an, Jambi menjadi produsen karet rakyat terbesar di Hindia Belanda, dilihat dari jumlah pohon karet yang ditanam.
Pemerintah Hindia Belanda juga menganjurkan penanaman tanaman perkebunan lainnya seperti kopi dan tembakau di Afdeeling Kerinci, Sarolangun, Tebo, dan Bangko yang hasilnya dijual sampai ke luar negeri, selain pertanian perdagangan di melayu jambi juga bergerak di bidang tambang seperti minyak dan emas. Pemerintah Hindia Belanda bahkan membangun permanen Pelabuhan Jambi tahun 1926 seiring dengan meningkatnya aktivitas perdagangan ekspor khususnya karet.
Pemerintah Hindia Belanda juga mulai mendirikan pasar di sekitar pelabuhan tahun 1930. Tidak hanya pasar, juga ada pertokoan yang dibangun. Bangunan pasar pada saat itu masih berupa los-los atau kedai-kedai dari papan dan kayu, sedangkan pertokoan dibangun berderet memanjang sesuai jalur-jalur yang ada Di pasar dijual bahan-bahan kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan, garam, sayuran, ikan, dan lain-lain. Sedangkan di pertokoan menjual barang-barang kelontong perabot rumah tangga, emas, kain, dan barang mewah lainnya yang didatangkan langsung dari Cina dan Singapura. Namun terdapat perbedaan dalam hal realitas kesibukan antara pasar dan pertokoan yaitu transaksi perdagangan di pasar hanya berlangsung mulai pagi sampai siang hari sedangkan aktivitas di pertokoan tidak dibatasi waktu dan dibuka setiap hari tergantung penjualnya saja.
 Pasca kemerdekaan perdagangan di jambi di jambi berpusat pada pasar tradisional yang dibangun Pemda Jambi  seperti Pasar Angso Duo, Pasar Lopak, Pasar Buah yang lokasinya dengan Pelabuhan Jambi. Selain itu juga ada pasar lain yang dibangun di kecamatan lain yang jauh dari Pelabuhan Jambi yaitu Pasar Talang Banjar di Kecamatan Jambi Timur, Pasar Inpres TAC di Kecamatan Telanaipura, dan Pasar Kebun Handil di Kecamatan Kota Baru, serta Pasar Olak Kemang di kawasan Jambi seberang di Kelurahan Olak Kemang. Bangunan pertokoan di kawan pasar lama sudah dibangun permanendan lebih teratur dari segi tata ruangnya. Beberapa penduduk bahkan mendirikan bangunan tempat tinggal bertingkat (ket : ruko) di sekitar pertokoan. Barang yang dijual semakin beragam seiring dengan kebutuhan penduduk yang terus meningkat, mulai dari barang sandang (dasar kain dan pakaian jadi), barang pecah belah, barang elektronik, perhiasan, dan lain-lain





Sumber :

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:H5QWRDsuieQJ:journal.unbari.ac.id/index.php/JIP/article/view/108+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://melayuonline.com/ind/history/dig/447/kesultanan-jambi

No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...