Sejarah perdagangan di Melayu Jambi
Perdagangan dimelayu Jambi mulai
berkembang sejak awal kejayaan kesultanan jambi pada abad 16 sampai abad 17.
Sekitar tahun 1550 sampai akhir abad 17, perdagangan di kesultanan jambi
mengalami keemasan, kesultanan jambi menjalin perdagangan dengan berbagai
daerah bahkan ke bangsa asing yakni bangsa portugis, inggris, dan hindia timur
belanda terutama penjualan rempah-rempah bahkan pelabuhan jambi menjadi terkaya kedua di Sumatra setelah Aceh
terutama lada yang menjadi komuditas dagang tertinggi . Pada abad ke-18 M, lada
telah menjadi komoditas ekspor penting Kesultanan Jambi.
Berdasarkan laporan VOC (Vereenige Oost
Indische Compagnie), sultan Jambi mendapat keuntungan sebanyak 30-35% dari
penjualan lada . Pada periode tersebut, daerah huluan Jambi juga dikenal
sebagai penyalur merica. Khusus aktivitas pendulangan emas, umumnya dilakukan
oleh orang Minangkabau. Daerah huluan penghasil emas utama adalah Koto Kandis,
bukti aktivitas pendulangan emas di sana dapat dilihat dari benda-benda
arkeologis yang ditemukan seperti pecahan keramik dan batuan berbentuk botol
yang biasa dipakai untuk menyimpan cairan merkuri sebagai salah satu bahan baku
pembuatan emas. Sejak abad ke-17, Kesultanan Jambi sudah melakukan perdagangan
atas biji emas sampai ke Eropa. Semua hasil pertanian, perikanan, perkebunan,
hasil hutan, kerajinan, dan emas menjadi komoditas ekspor Kesultanan Jambi yang
dijual sampai ke Malaka dan Singapura dan Eropa melalui Pelabuhan Jambi.
Komoditas ekspor tersebut ditukar oleh sultan-sultan Jambi dengan beras, garam,
kain/tekstil, dan perkakas dari logam dan besi. Khusus untuk kain sutera dan
mori, dibeli langsung dari pedagang Eropa/Belanda dan Cina untuk membuat tenun
ikat, sulam benang emas, dan kain bermotif bunga atau batik. Oleh karena itu,
perdagangan menjadi satu-satunya aktivitas penduduk yang tinggal di daerah
ibukota kesultanan jambi . Kegiatan perdagangan ekspor-impor tersebut
melibatkan sultan dan bangsawan, serta pedagang lokal (dari huluan), pedagang
Nusantara lainnya, serta pedagang asing.
Ketika wilayah jambi di kuasai oleh
Belanda maka perdagangan dan komuditas perdagangan di kendalikan oleh Belanda. sistem
ekonomi subsistensi berganti menjadi sistem ekonomi komersial. Penduduk mulai
mengenal dan menanam karet setelah pemerintah Hindia Belanda mewajibkan
penanaman karet di beberapa afdeeling dan onderfdeeling di Keresidenan Jambi,
seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat Eropa akan karet. Karet
menjadi tanaman komersial penting satu-satunya di Keresidenan Jambi sampai
periode kolonial akhir Selama dasawarsa 1920-an, Jambi menjadi produsen karet
rakyat terbesar di Hindia Belanda, dilihat dari jumlah pohon karet yang
ditanam.
Pemerintah Hindia Belanda juga
menganjurkan penanaman tanaman perkebunan lainnya seperti kopi dan tembakau di
Afdeeling Kerinci, Sarolangun, Tebo, dan Bangko yang hasilnya dijual sampai ke
luar negeri, selain pertanian perdagangan di melayu jambi juga bergerak di
bidang tambang seperti minyak dan emas. Pemerintah Hindia Belanda bahkan
membangun permanen Pelabuhan Jambi tahun 1926 seiring dengan meningkatnya
aktivitas perdagangan ekspor khususnya karet.
Pemerintah Hindia Belanda juga mulai
mendirikan pasar di sekitar pelabuhan tahun 1930. Tidak hanya pasar, juga ada
pertokoan yang dibangun. Bangunan pasar pada saat itu masih berupa los-los atau
kedai-kedai dari papan dan kayu, sedangkan pertokoan dibangun berderet
memanjang sesuai jalur-jalur yang ada Di pasar dijual bahan-bahan kebutuhan
sehari-hari seperti bahan makanan, garam, sayuran, ikan, dan lain-lain.
Sedangkan di pertokoan menjual barang-barang kelontong perabot rumah tangga,
emas, kain, dan barang mewah lainnya yang didatangkan langsung dari Cina dan
Singapura. Namun terdapat perbedaan dalam hal realitas kesibukan antara pasar
dan pertokoan yaitu transaksi perdagangan di pasar hanya berlangsung mulai pagi
sampai siang hari sedangkan aktivitas di pertokoan tidak dibatasi waktu dan
dibuka setiap hari tergantung penjualnya saja.
Pasca
kemerdekaan perdagangan di jambi di jambi berpusat pada pasar tradisional yang
dibangun Pemda Jambi seperti Pasar Angso
Duo, Pasar Lopak, Pasar Buah yang lokasinya dengan Pelabuhan Jambi. Selain itu
juga ada pasar lain yang dibangun di kecamatan lain yang jauh dari Pelabuhan
Jambi yaitu Pasar Talang Banjar di Kecamatan Jambi Timur, Pasar Inpres TAC di
Kecamatan Telanaipura, dan Pasar Kebun Handil di Kecamatan Kota Baru, serta
Pasar Olak Kemang di kawasan Jambi seberang di Kelurahan Olak Kemang. Bangunan
pertokoan di kawan pasar lama sudah dibangun permanendan lebih teratur dari
segi tata ruangnya. Beberapa penduduk bahkan mendirikan bangunan tempat tinggal
bertingkat (ket : ruko) di sekitar pertokoan. Barang yang dijual semakin
beragam seiring dengan kebutuhan penduduk yang terus meningkat, mulai dari
barang sandang (dasar kain dan pakaian jadi), barang pecah belah, barang
elektronik, perhiasan, dan lain-lain
Sumber :
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:H5QWRDsuieQJ:journal.unbari.ac.id/index.php/JIP/article/view/108+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://melayuonline.com/ind/history/dig/447/kesultanan-jambi
No comments:
Post a Comment