Nama : Rudi Hartono
Nim : I1A114005
Prodi
: Ilmu Sejarah.
Mata
kuliah : Sejarah Melayu
Jambi kontemporer
Perjuangan
rakyat jambi setelah kemerdekaan
Walaupun
Indonesia telah merdeka pada 17 agustus
1945, bukan berarti perjuangan bangsa Indonesia telah berakhir, masih banyak
perjuangan dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang
berusaha menduduki Indonesia kembali.
Belanda
masih ingin mengusai Indonesia sebab merasa bahwa Indonesia adalah miliknya.
Sehingga dia melakukan berbagai upaya guna mendapakan kembali Indonesia, Perjuangan
di daerah Jambi begitu gencar, setelah Indonesia merdeka banyak terjadi
pergerakan-pergerakan yang dilakukan dalam mempertahankan kemerdekaan.Di awal
kemerdekaan, Jambi yang waktu itu berbentuk keresidenan, tidak pernah tenang.
Kondisi ini disebabkan oleh adanya berbagai rongrongan keamanan, yaitu, dari
Belanda yang berkeinginan menjajah kembali. Tanggal 28 Desember 1948, Belanda
membombardir Jambi. Residen dan staf pemerintahan menyingkir ke dusun
Rantaumajo.Sementara itu para pejuang melakukan perlawanan sengit terhadap
Belanda.
Pada
masa awal kemerdekaan daerah Bangko membentuk organisasi perjuangan seperti
API, PRI, BKR, BPKM dan juga membentuk staf pertempuran gerilya, yaitu wilayahnya
Bangko, Sarolangun, Batang Asai dan Lubuk Resam. Pada Agresi Militer pertama, daerah
Bangko tidak mendapatkan serangan yang berarti, hal ini dikarenakan karena pada
saat itu Belanda memperkirakan Jambi mempunyai persenjataan lengkap yang didatangkan
dari luar negeri, yang didapatkan dari hasil perdagangan barternya dengan
Singapura, seperti Anti Air Craft (AAC), senapan mesin 12,7 di samping senjata-senjata
ringan. Pada masa perjuangan daerah Bangko merupakan bagian dari Divisi VIII Garuda
Sumatera Selatan (Lahat), dengan markas
di Sarolangun yang tergabung dalam Dan yon III Sarolangun dipimpin oleh Kapten
M. Teguh, sedangkan di Bangko dibentuk Batalyon Gajah Mada. Setelah Belanda
menduduki kota Jambi dan melancarakan operasi militernya ke berbagai tempat
dalam Keresidenan Jambi, maka pasukan TNI yang tersebar di berbagai tempat melakukan
konsolidasi kesatuannya untuk melakukan serangan balasan dengan menggunakan
taktik perang gerilya. Demikian juga dengan pasukan-pasukan pejuang rakyat
dalam kesatuan laskar rakyat dan barisan perjuangan. Oleh sebab itu Tentara STD
(Sub Teritorium Djambi) Membagi wilayah Keresidenan Jambi menjadi dua front,
yaitu front Utara dipimpin oleh letnan Kolonel Harun Sohar dengan wilayah Kuala
Tungkal, Merlung dan Muara Tembesi. dan front Selatan dipimpin langsung Kolonel
Abunjani dengan wilayah Merangin (Muara Tebo, Muara Bungo, Bangko dan
Sarolangun). Pada agresi militer Belanda kedua banyak pertempuran yang terjadi
di daerah Bangko yang menimbulkan korban dari rakyat sipil maupun anak-anak. Seperti
pertempuran di Mandiangin, Sarolangun, Dusun Tanjung, Dusun Kubang Ujo, Sungai Pinang,
Rantau Panjang dimana posisinya terdesak karena berada di tengah-tengah, di sebelah
Utara adalah Muara Tebo dan Muara Bungo, yang mana keduanya sudah jatuh ke tangan
Belanda, dan sebelah selatan adalah Sarolangun dan Bangko yang juga sudah
diduduki Belanda. Kemudian pertempuran di Merkeh Gedang. Peperangan itu
berakhir setelah terjadi perjanjian Roem
Royen yang direalisasikan melalui konferensi meja Bundar (KMB) di Den Haag pada
23 agustus sampai 2 November 1949 antara pemerintah Indonesia dengan Belanda
yang menghasilkan Republik Indonesia Serikat (RIS) .
Namun
bentuk negara serikat ini tidak lama karena rakyat Indonesia tidak setuju
dengan bentuk negara serikat dan berkeinginan untuk kembali kebentuk kesatuan.
Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1950, Republik Indonesia kembali berdiri.Setelah
Jambi menjadi provinsi, terpisah dari provinsi lama, yaitu, provinsi Sumatera
Tengah, rakyat dan pemerintah Jambi mulai menata administrasi pemerintahannya.
Referensi : https://history1978.wordpress.com/2013/05/12/konflik-indonesia-belanda-1945-1950/
http://www.academia.edu/10649864/Sejarah_perjuangan_rakyat_Jambi
Penelitian
AREA
PERTEMPURAN BANGKO PADA MASA PERJUANGAN
MEMPERTAHANKAN
KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-1949
Oleh :
Jepmi
Nopfrilian,1 Kaksim, M.Pd,2Drs. Kharles, M.Hum,3
Program
Studi Pendidikan Sejarah
Sekolah
Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
STKIP PGRI
Sumatera Barat
No comments:
Post a Comment