Tuesday, 9 February 2016

perjuangan rakyat jambi setelah kemerdekaan

Nama                           : Rudi Hartono
Nim                             : I1A114005
Prodi                            : Ilmu Sejarah.
Mata kuliah                 : Sejarah Melayu Jambi kontemporer















Perjuangan rakyat jambi setelah kemerdekaan
Walaupun Indonesia  telah merdeka pada 17 agustus 1945, bukan berarti perjuangan bangsa Indonesia telah berakhir, masih banyak perjuangan dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang berusaha menduduki Indonesia kembali.
Belanda masih ingin mengusai Indonesia sebab merasa bahwa Indonesia adalah miliknya. Sehingga dia melakukan berbagai upaya guna mendapakan kembali Indonesia, Perjuangan di daerah Jambi begitu gencar, setelah Indonesia merdeka banyak terjadi pergerakan-pergerakan yang dilakukan dalam mempertahankan kemerdekaan.Di awal kemerdekaan, Jambi yang waktu itu berbentuk keresidenan, tidak pernah tenang. Kondisi ini disebabkan oleh adanya berbagai rongrongan keamanan, yaitu, dari Belanda yang berkeinginan menjajah kembali. Tanggal 28 Desember 1948, Belanda membombardir Jambi. Residen dan staf pemerintahan menyingkir ke dusun Rantaumajo.Sementara itu para pejuang melakukan perlawanan sengit terhadap Belanda.
Pada masa awal kemerdekaan daerah Bangko membentuk organisasi perjuangan seperti API, PRI, BKR, BPKM dan juga membentuk staf pertempuran gerilya, yaitu wilayahnya Bangko, Sarolangun, Batang Asai dan Lubuk Resam. Pada Agresi Militer pertama, daerah Bangko tidak mendapatkan serangan yang berarti, hal ini dikarenakan karena pada saat itu Belanda memperkirakan Jambi mempunyai persenjataan lengkap yang didatangkan dari luar negeri, yang didapatkan dari hasil perdagangan barternya dengan Singapura, seperti Anti Air Craft (AAC), senapan mesin 12,7 di samping senjata-senjata ringan. Pada masa perjuangan daerah Bangko merupakan bagian dari Divisi VIII Garuda Sumatera Selatan (Lahat), dengan  markas di Sarolangun yang tergabung dalam Dan yon III Sarolangun dipimpin oleh Kapten M. Teguh, sedangkan di Bangko dibentuk Batalyon Gajah Mada. Setelah Belanda menduduki kota Jambi dan melancarakan operasi militernya ke berbagai tempat dalam Keresidenan Jambi, maka pasukan TNI yang tersebar di berbagai tempat melakukan konsolidasi kesatuannya untuk melakukan serangan balasan dengan menggunakan taktik perang gerilya. Demikian juga dengan pasukan-pasukan pejuang rakyat dalam kesatuan laskar rakyat dan barisan perjuangan. Oleh sebab itu Tentara STD (Sub Teritorium Djambi) Membagi wilayah Keresidenan Jambi menjadi dua front, yaitu front Utara dipimpin oleh letnan Kolonel Harun Sohar dengan wilayah Kuala Tungkal, Merlung dan Muara Tembesi. dan front Selatan dipimpin langsung Kolonel Abunjani dengan wilayah Merangin (Muara Tebo, Muara Bungo, Bangko dan Sarolangun). Pada agresi militer Belanda kedua banyak pertempuran yang terjadi di daerah Bangko yang menimbulkan korban dari rakyat sipil maupun anak-anak. Seperti pertempuran di Mandiangin, Sarolangun, Dusun Tanjung, Dusun Kubang Ujo, Sungai Pinang, Rantau Panjang dimana posisinya terdesak karena berada di tengah-tengah, di sebelah Utara adalah Muara Tebo dan Muara Bungo, yang mana keduanya sudah jatuh ke tangan Belanda, dan sebelah selatan adalah Sarolangun dan Bangko yang juga sudah diduduki Belanda. Kemudian pertempuran di Merkeh Gedang. Peperangan itu berakhir setelah terjadi  perjanjian Roem Royen yang direalisasikan melalui konferensi meja Bundar (KMB) di Den Haag pada 23 agustus sampai 2 November 1949 antara pemerintah Indonesia dengan Belanda yang menghasilkan Republik Indonesia Serikat (RIS) .
Namun bentuk negara serikat ini tidak lama karena rakyat Indonesia tidak setuju dengan bentuk negara serikat dan berkeinginan untuk kembali kebentuk kesatuan. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1950, Republik Indonesia kembali berdiri.Setelah Jambi menjadi provinsi, terpisah dari provinsi lama, yaitu, provinsi Sumatera Tengah, rakyat dan pemerintah Jambi mulai menata administrasi pemerintahannya.
Referensi : https://history1978.wordpress.com/2013/05/12/konflik-indonesia-belanda-1945-1950/
http://www.academia.edu/10649864/Sejarah_perjuangan_rakyat_Jambi
 Penelitian
AREA PERTEMPURAN BANGKO PADA MASA PERJUANGAN
MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-1949
Oleh :
Jepmi Nopfrilian,1 Kaksim, M.Pd,2Drs. Kharles, M.Hum,3
Program Studi Pendidikan Sejarah
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

STKIP PGRI Sumatera Barat

No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...