Tuesday, 29 December 2015

makalah perrbedaan melayu di Brunei dengan Singapura

Makalah
Sejarah Melayu
“ Melayu di Brunei dan di Singapura”

       
Dosen Pengampu : Dr.Supyan S.Ag M.A
DI SUSUN OLEH   :

 Rudi Hartono                 I1A114005  

Sisca Oktiveni             I1A114037

Saut Wardiman            I1A114013

PRODI ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI

2015








BAB I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
            Alam Melayu dapat di artikan sebagai kawasan geografi yang meliputi seluruh wilayah kependudukan manusia berbahasa dan berbudaya rumpun Melayu di seluruh Asia Tenggara. berlandaskan bahasa dan budaya  karena faktor bahasa dan budaya ini adalah satu-satunya tinggalan sejarah kuno yang masih kekal menjadi pertanda dan bukti keberadayaan Melayu.Perkembangan sejarah politik kawasan Asia Tenggara terutama di Negara-negara yang lebih mengedepakan budaya barat telah menghilangkan kemelayuaannya seperti  Negara Singapura, namun masih ada juga Negara Asia tenggara yang sangat kental kebudayaan melayu nya yaitu Brunei Darussalam. Maka dari itu sangat penting mengetahui mengapa hal ini bias terjadi antara Negara Singapura yang budaya melayunya mulai hilang sedangkan di Brunei Darussalam masih eksis sampai sekarang.
1.2 Rumusan Masalah
a)      Bagaimana Melayu di Brunei Darussalam
b)      Bagaimana  Melayu di Singapura
c)      Apa perbedaan  melayu di Brunei Darussalam dengan Melayu di Singapura
1.3 Tujuan
a)      Untuk mengetahui   melayu di Brunei Darussalam
b)      Untuk mengetahui Sejarah Melayu di Singapura
c)      Mengetahui Perbedaan antara melayu di Brunei dengan Melayu di Singapura


BAB II
Pembahasan
2.1.Melayu di Brunei Darussalam
A. Sejarah  Brunei
Brunei adalah sebuah negara tua di antara kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Keberadaan Brunei Tua ini diperoleh berdasarkan kepada catatan Arab, Cina dan tradisi lisan. Dalam catatan Sejarah Cina dikenal dengan nama Po-li, Po-lo, Poni atau Puni dan Bunlai. Dalam catatan Arab dikenali dengan Dzabaj atau Randj. Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair Awang Semaun yang menyebutkan Brunei berasal dari perkataan baru nah yaitu setelah rombongan klan atau suku Sakai yang dipimpin Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan sangat strategis yaitu diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka mereka pun mengucapkan perkataan baru nah yang berarti tempat itu sangat baik, berkenan dan sesuai di hati mereka untuk mendirikan negeri seperti yang mereka inginkan. Kemudian perkataan baru nah itu lama kelamaan berubah menjadi Brunei.
Setelah Merdeka Brunei menjadi sebuah negara Melayu Islam Beraja. “Melayu” diartikan dengan negara melayu yang mengamalkan nilai-nilai tradisi atau kebudayaan melayu yang memiliki unsur-unsur kebaikan dan menguntungkan. “Islam” diartikan Waljamaah sesuai dengan konstitusi dan cita-cita  kemerdekaannya.“Baraja” adalah suatu sistem sebagai suatu kepercayaan yang dianut negara yang bermazhab Ahlussunnah tradisi melayu yang telah lama ada.
Brunei merdeka sebagai negara Islam di bawah pimpinan sultan ke-29, yaitu Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah. Panggilan resmi kenegaraan sultan adalah “ke bawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda dan yang dipersatukan negeri. Gelar “Muizaddin Waddaulah” (pinata agama dan negara) menunjukkan ciri keislaman yang selalu melekat pada setiap raja yang memerintah.
 langkah-langkah yang dilakukan kesultanan untuk menguatkan islam di Brunei    Darussalam yaitu sebagai berikut:
a.       mendirikan lembaga-lembaga modern yang selaras dengan tuntutan Islam.
b.       menerapkan hukum syariah dalam perundangan negara,
c.       mendirikan Pusat Kajian Islam serta lembaga keuangan Islam
d.      menjadikan Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat Brunei dan satu-satunya ideologi negara..











B.kerajaan Brunei Darussalam
Kerajaan Brunei Darussalam adalah negara yang memiliki corak pemerintahan monarki konstitusional dengan Sultan yang menjabat sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, merangkap sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan dengan dibantu oleh Dewan Penasihat Kesultanan dan beberapa Menteri, yang dipilih dan diketuai oleh Sultan sendiri. Sultan Hassanal Bolkiah yang gelarnya diturunkan dalam wangsa yang sama sejak abad ke-15, ialah kepala negara serta pemerintahan Brunei. Baginda dinasihati oleh beberapa majelis dan sebuah kabinet menteri. Pemilu, menurut kontitusi, harus diadakan setiap 5 tahun. Namun sejak 1965 tidak pernah lagi diadakan pemerintahan umum. Partai Demokrasi Nasional Brunei, partai politik satu-satunya dinegara ini, dibentuk pada tahun 1985.
.Raja-raja Brunai Darussalam yang memerintah sejak didirikannya kerajaan pada tahun 1363 M yakni:
1 Sultan Muhammad Shah (1383 – 1402)
2. Sultan Ahmad (1408 - 1425)
3. sultan Syarif Ali (1425 - 1432)       
4. Sultan Sulaiman (1432 - 1485)
5. Sultan Bolkiah (1485 - 1524)
6. Sultan Abdul Kahar (1524 - 1530)
7. Sultan Saiful Rizal (1533 - 1581)
8. Sultan Shah Brunei (1581 - 1582)
9. Sultan Muhammad Hasan (1582 - 1598)
10. Sultan Abdul Jalilul Akbar (1598 - 1659)
11. Sultan Abdul Jalilul Jabbar (1669 - 1660)
12. Sultan Haji Muhammad Ali (1660 - 1661)
13. Sultan Abdul Hakkul Mubin (1661 - 1673)
14. Sultan Muhyiddin (1673 - 1690)
15. Sultan Nasruddin (1690 - 1710)
16. Sultan Husin Kamaluddin (1710 - 1730) (1737 - 1740)
17. Sultan Muhammad Alauddin (1730 - 1737)
18. Sultan Omar Ali Saifuddien I (1740-1795)
19. Sultan Muhammad Tajuddin (1795-1804) (1804-1807)
20. Sultan Muhammad Jamalul Alam I (1804)
21. Sultan Muhammad Kanzul Alam (1807-1826)
22. Sultan Muhammad Alam (1826-1828)
23. Sultan Omar Ali Saifuddin II (1828-1852)
24. Sultan Abdul Momin (1852-1885)
25. Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin (1885-1906)
26. Sultan Muhammad Jamalul Alam II (1906-1924)                                      
27. Sultan Ahmad Tajuddin (1924-1950)
28. Sultan Omar 'Ali Saifuddien III (1950-1967)
29. Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah (1967-kini)




.2.2 Sejarah Melayu di Singapura
A.sejarah Singapura
Pada tahap awal proses Islamisasi, Islam diidentikan dengan agamanya orang Melayu. Dalam hal ini karena Islam menjadi agama yang dianut oleh sultan di Malaka, yang juga pernah singgah di Singapura ketika lari dari Palembang, dan kemudian mendirikan kesultanan Malaka dan menjadi Muslim. Identifikasi Melayu dan Sultan ini memberikan kemungkinan awal dari perkembangan Islam di Singapura. Sekalipun demikian dalam beberapa abad kemudian (kurang lebih 4 abad), Singapura menjadi daerah yang tidak bertuan. Dan penghuni pulau Singapura adalah para perompak laut.  Pada tahap kedua, proses Islamisasi terjadi terutama setelah Singapura menjadi pilihan Raffles sebagai basis perdagangan Inggris di belahan timur. Singapura kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang menarik minat Muslim Melayu di sekitarnya dan juga pedagang-pedagang Muslim Arab dan India untuk bermigran ke Singapura. Sejak itulah, awal abad 19, proses pembentukan peradaban Islam di Singapura berlangsung sampai sekarang.  Dengan dimotori oleh migran Arab dan India, juga dukungan Muslim Melayu, Islam berkembang di Singapura membangun citra dirinya. Seiring dengan perjalan sejarahnya, komunitas Muslim memainkan peran dalam perkembangan pembaharuan Islam di kawasan Asia Tenggara. Tercatat penerbitan majalah dan buku yang memiliki muatan refomis dipublikasikan dari Singapura. Bersamaan dengan itu, untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan ajaran Islam, Muslim Singapura telah mendapatkan perhatian dari pemerintah dengan sejumlah kelembagaan Muslimnya, yang dewasa ini kita kenal seperti AMLA (The Administration of Muslim Law Act). dan MUIS.( Majlis Ugama Islam Singapura-Islamic Religious Council of Singapore) Di bawah MUIS itulah dikoordinasikan berbagai kelembagaan yang menunjang kelangsungan kehidupan umat Islam Singapura.

B.  Posisi Melayu-Muslim di Singapura
1. Ekonomi
Dibanding dengan Negara-negara minoritas muslim lainnya di kawasan Asia-Tenggara, Singapura merupakan sebuah Negara yang relative kaya. Hal ini secara teoritis tentunya berdampak pula pada kondisi umat islamnya.Sejarah Melayu Singapura menunjukkan pada awalnya kondisi ekonomi masyarakat Melayu-Muslim sangat berbeda dengan kondisi hari ini. Mereka bekerja pada sektor-sektor strategis dan 70% bekerja dikawasan kota, hanya 30% saja yang bekerja di kawasan kampung. Hal ini sebagai bukti bahwa sejak awal orang Melayu-muslim telah menjadi etnis yang memiliki tingkat ekonomi yang memuaskan. Dengan demikian, orang Melayu identik dengan nuansa hidup kota. Kondisi ini amat berbeda dengan yang terjadi saat ini. Sekarang, secara umum tingkat perekonomian Melayu-muslim berada jauh di bawah etnis lain. Bahkan, mereka selalu disebutkan kelompok marjinal secara ekonomi. Ini disebabkan arus imigran Cina terus meningkat dan leluasa memasuki kawasan Singapura.
2. Seni dan Budaya
Sebuah tesis Ph.d oleh Betts, seorang ahli sains politik Amerika, mengklaim bahwa masyarakat melayu gagal untuk merubah dirinya sebelum tahun 1959. Ia menuliskan bahwa banyak perkara tentang cara hidup orang melayu diakui umumnya tidak selaras dengan keadaan dan kemajuan yang pesat di Singapura. Disisi lain, factor-faktor intrinsik dalam masyarakat Melayu menghalangi penerimaan ataupun internalisasi secara pesat akan perubahan. Dia menganggap bahwa kampung-kampung dipinggiran Singapura pada Hakikatnya bersifat perdesaan. Faktanya Banyak orang melayu yang merasa puas hanya dengan bermata pencarian menangkap ikan, bertani, dan aktivitas lain yang bercorak tradisional tanpa mempedulikan perkembangan zaman. Hal senada juga diungkapkan oleh Badlington dalam desertasinya (1974) bahwa masyarakat Melayu belum dapat merubah dirinya sebelum tahun 1959.Masyarakat melayu selalu dihalangi oleh kekangan-kekangan budaya yang mendefinisikan menurut garis etnis. Orang bukan Melayu telah bejaya memutuskan diri sama sekali dari pada kokongan tradisi yang menghalang pembangunan ekonomi, akan tetapi masyarakat Melayu terus terpengaruh oleh gerak budaya yang bertentangan. Badlington juga menjelaskan bahwa pandangan orang Melayu tentang rezeki mengakibatkan fatalisme (menyerah pada takdir) dan tidak ada usaha untuk meraihnya.
Bagi Badlington, kaum-kaum lain di Singapura telah berubah sedangkan orang melayu tinggal beku dan tinggal sejarah, dikekang oleh nilai-nilai budaya mereka. Nilai-nilai yang dibincangkan oleh Badlington terdiri hanya dari pada yang dianggapnya sebagai negative bagi kemajuan orang Melayu. Nilai-nilai ini digambarkan sebagai cirri-ciri budaya yang kekal dan diretifikasi secara abstrak dari pada konteks social dan materialnya Menanggapi isi dari pada desertasi Badlington, yang secara umum memarginalkan kertepurukan ekonomi orang Melayu dilator belakangi oleh adanya budaya yang kaku yang nota bene bersumber dari syariat Islam berupa Al-Qur’an dan Hadist, perlu disanggah keabsahannya. Justru sebenarnya penjelasan-penjelasan kemunduran Melayu bukan semata-mata berasal dari sumber budaya Melayu yang juga melibatkan tafsiran Al-Qur’an.Akan tetapi juga berasal dari diskriminasi dan perbedaan kesempatan yang diberikan kepada orang Melayu dan etnis Cina pada awal 1970-an.
Memang harus diakui bahwa mundurnya social budaya orang Melayu dan minimnya semangat untuk bekerja, khususnya menyoroti kaum wanitanya disebabkan masih dangkalnya pemikiran dan interfretasi umat dalam memahami syariat. Khususnya tafsiran yang salah kaprah terhadap Islam, dimana pada masa ini banyak sikap pasif terhadap agama yang dilihat orang Melayu sebagai menjamin masa depan tanpa perlu berusaha, cukup menyerah pada takdir dan usaha untuk mengembangkan karir hidupnya, hanya dengan mencukupi biaya hidup dalam jangka pendek. Bila diteliti pula tentang budaya Melayu yang ingin menjalin antara etnis, biasanya perkawinan yang dianggap paling selaras adalah pekawinan antara dua komponen yang berbeda suku namun masih dalam satu agama. Perkawinan semacam ini dianggap selaras atau sekupu, karena antara dua belah pihak masih memiliki satu visi dan misi, seiman dan seagama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
3. Politik
Mencermati akar persoalan yang sering muncul dikalangan minoritas muslim, mengingat serangkaian konflik antara pihak minoritas dengan mayoritas biasanya terletak pada tarik-menarik kepentingan di tingkat politik. Umat Islam pada umumnya menyakini bahwa agama mereka diturunkan oleh tuhan untuk mengatur kehidupan umat manusia baik ditingkat individu maupun kolektif. Oleh sebab itu, umat Islam Singapura menginginkan agar pendirian sebuah partai disesuaikan dengan kepentingan-kepetingan berdasarkan keyakinan dan keimanan yang dipegangi bersama, yang di yakinin memancarkan identitas,kesatuan, dan solidaritas kepada sesama muslim.
Ada dua partai politik yang berdasarkan etnis melayu yaitu Persatuan Melayu Singapura dan Pertumbuhan Kebangsaan Melayu-Singapura. Namun dalam perjalanannya, kedua partai ini tidak mendapatkan tempat dihati pemilih,temasuk dimayoritas Melayu-Muslim sendiri. Partai yang berbasis agama dan etnis di Singapura tidak dapat berkembang dengan baik, apalagi berharap menjadi pemenang..



2.3. Perbedaan melayu di Brunei dengan di Singapura
1.Di bidang politik
a)      Di Brunei melayu mempunyai peran yang sangat penting Karena Negara brunei memakai system kesultanan hingga saat ini yang berarti melayu sangat mempengaruhi Negara Brunei. Sedangkan
b)      Di Singapura melayu atau islam dalam bidang politik , sangat minim perannya karena selain menjadi minoritas di singapura juga karena dikitnya etnis melayu yang menjadi anggota legislatip dalam parleman singapura.
2.Di bidang budaya
a)      Di brunei budaya melayu  sangat di utama karena budaya melayu atau islam sudah dijadikan sebagai dasar hukum ,serta menjadikan melayu sebagai pandangan hidup masyarakat sehingga kebudayaan melayu sampai saat ini masih bertahan dan berkembang di Brunei,sedangkan
b)      Di Singapura budaya melayu sangat sulit berkembang karena masyarakat melayu di singapura masih belum mampu berkembang serta mengubah pola lama seperti mata pencaharian yang masih mengandalkan system agraris atau budaya tradisioanal sehingga budaya melayu di singapura kalah bersaing dengan budaya asing .
3.Di bidang ekonomi
a)      Meskipun negara brunei jauh tertinggal dari singapura jika dilihat dari bidang ekonomi saat ini, namun masyarakat melayu di brunei lebih baik karena masyarakat melayu brunei mengusai perekonomian dalam artian ekonomi masyarakat brunei di dikelolah oleh masyarakat melayu sendiri , tidak ada etnis asing yang mengusai secara utuh.sedangkan
b)      Di Singapura meskipun termasuk salah satu macan asia,yang kaya   serta maju dari Negara-negara lain di kawasan asia tenggara tetapi sistem ekonomi di singapura dikuasai oleh etnis asing terutama china ,sehingga meskipun kaya tetapi untuk masyarakat melayu kalah bersaing dengan para imigran dari china.


















BAB III
Kesimpulan
Melayu di Brunei mulai berkembang setelah merdeka, dari awal merdeka sampai sekarang,melayu mempunyai peran penting sebagai dasar hokum selain itu system kesultanan yang di gunakan oleh Negara Brunei membuktikan bahwa melayu di brunei ,sedangkan melayu di Singapura eksistensi sangat kurang karena singapura
Masih ada kesamaran mengenai kepan pertama kali Singapura ditemukan. Ada sejumlah legenda yang berkembang tentang mengapa pulau itu kemudian bernama Singapura. Pernah pulau itu menjadi wilayah kekuasaan Majapahit, dan pernah pula menjadi vassal Kerajaan Siam dan Pahang. Tetapi perkembangan yang pesat atas Singapura adalah setelah pulau itu menjadi bagian dari koloni Inggris. Perkembangan Islam di Singapura tidak bisa dilepaskan dari proses Islamisasi yang terjadi di Nusantara dan Semenanjung Malaysia. Proses awal Islamisasi ini terjadi sekitar abad 15, ketika Malaka menjadi pusat penting kekuatan Islam. Intensitas Islamisasi di Singapura juga terjadi setelah ia berada di bawah koloni Inggris. Penduduk Muslim Singapura terbagi kepada dua golongan, yaitu Muslim-pribumi dan Muslim-migran. Pribumi adalah orang Melayu, sedang migran adalah orang-orang Jawa, Bugis, Sumatera, Riau, Arab dan India. Dalam perkembangan selanjutnya, peran yang menonjol dipegang oleh para Muslim-migran. Untuk pembangunan masjid-masjid banyak dipelopori oleh migran-Arab. Mereke juga punya peran penting dalam penerbitan buku-buku Islam, terutama sekali buku-buku keagamaan yang bercirikan pemikiran reformis. Peran-peran politik umat Islam di Singapura ternyata juga banyak dipelopori oleh kaum migran ini. Mengingat keberadaannya sebagai kaum minoritas, umat Islam Singapura lebih bersikap adaptasionis, melakukan kerjasama yang menguntungkan dengan pemerintah Singapura.



Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Brunei
http://www.sejarah-negara.com/2015/09/perkembangan-islam-di-brunei-darussala.html
https://ms.wikipedia.org/wiki/Orang_Melayu_di_Singapura
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu
http://kyotoreview.org/issue-13/brunei-darussalam-kesultanan-absolut-dan-negara-modern/


No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...