Makalah
Sejarah Melayu
“ Melayu di Brunei dan di Singapura”
Dosen Pengampu : Dr.Supyan
S.Ag M.A
DI
SUSUN OLEH :
Rudi Hartono I1A114005
Sisca Oktiveni
I1A114037
Saut Wardiman
I1A114013
PRODI
ILMU SEJARAH
FAKULTAS
ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
JAMBI
2015
BAB
I
Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang
Alam Melayu dapat di artikan sebagai
kawasan geografi yang meliputi seluruh wilayah kependudukan manusia berbahasa
dan berbudaya rumpun Melayu di seluruh Asia Tenggara. berlandaskan bahasa dan
budaya karena faktor bahasa dan budaya
ini adalah satu-satunya tinggalan sejarah kuno yang masih kekal menjadi pertanda
dan bukti keberadayaan Melayu.Perkembangan sejarah politik kawasan Asia
Tenggara terutama di Negara-negara yang lebih mengedepakan budaya barat telah
menghilangkan kemelayuaannya seperti
Negara Singapura, namun masih ada juga Negara Asia tenggara yang sangat
kental kebudayaan melayu nya yaitu Brunei Darussalam. Maka dari itu sangat
penting mengetahui mengapa hal ini bias terjadi antara Negara Singapura yang
budaya melayunya mulai hilang sedangkan di Brunei Darussalam masih eksis sampai
sekarang.
1.2 Rumusan
Masalah
a)
Bagaimana Melayu di Brunei Darussalam
b)
Bagaimana Melayu di Singapura
c)
Apa perbedaan melayu di Brunei Darussalam dengan Melayu di
Singapura
1.3 Tujuan
a) Untuk
mengetahui melayu di Brunei Darussalam
b) Untuk
mengetahui Sejarah Melayu di Singapura
c) Mengetahui
Perbedaan antara melayu di Brunei dengan Melayu di Singapura
BAB
II
Pembahasan
2.1.Melayu
di Brunei Darussalam
A.
Sejarah Brunei
Brunei
adalah sebuah negara tua di antara kerajaan-kerajaan di tanah Melayu.
Keberadaan Brunei Tua ini diperoleh berdasarkan kepada catatan Arab, Cina dan
tradisi lisan. Dalam catatan Sejarah Cina dikenal dengan nama Po-li, Po-lo,
Poni atau Puni dan Bunlai. Dalam catatan Arab dikenali dengan Dzabaj atau
Randj. Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair Awang Semaun yang menyebutkan
Brunei berasal dari perkataan baru nah yaitu setelah rombongan klan atau suku
Sakai yang dipimpin Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk
mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki
kedudukan sangat strategis yaitu diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali
serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan yang banyak di
sungai, maka mereka pun mengucapkan perkataan baru nah yang berarti tempat itu
sangat baik, berkenan dan sesuai di hati mereka untuk mendirikan negeri seperti
yang mereka inginkan. Kemudian perkataan baru nah itu lama kelamaan berubah
menjadi Brunei.
Setelah
Merdeka Brunei menjadi sebuah negara Melayu Islam Beraja. “Melayu” diartikan
dengan negara melayu yang mengamalkan nilai-nilai tradisi atau kebudayaan
melayu yang memiliki unsur-unsur kebaikan dan menguntungkan. “Islam” diartikan
Waljamaah sesuai dengan konstitusi dan cita-cita kemerdekaannya.“Baraja” adalah suatu sistem
sebagai suatu kepercayaan yang dianut negara yang bermazhab Ahlussunnah tradisi
melayu yang telah lama ada.
Brunei
merdeka sebagai negara Islam di bawah pimpinan sultan ke-29, yaitu Sultan
Hassanal Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah. Panggilan resmi kenegaraan sultan adalah
“ke bawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda dan yang dipersatukan
negeri. Gelar “Muizaddin Waddaulah” (pinata agama dan negara) menunjukkan ciri
keislaman yang selalu melekat pada setiap raja yang memerintah.
langkah-langkah yang dilakukan kesultanan
untuk menguatkan islam di Brunei Darussalam
yaitu sebagai berikut:
a. mendirikan
lembaga-lembaga modern yang selaras dengan tuntutan Islam.
b. menerapkan hukum syariah dalam perundangan
negara,
c. mendirikan
Pusat Kajian Islam serta lembaga keuangan Islam
d. menjadikan
Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat Brunei dan
satu-satunya ideologi negara..
B.kerajaan
Brunei Darussalam
Kerajaan
Brunei Darussalam adalah negara yang memiliki corak pemerintahan monarki
konstitusional dengan Sultan yang menjabat sebagai Kepala Negara dan Kepala
Pemerintahan, merangkap sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan dengan
dibantu oleh Dewan Penasihat Kesultanan dan beberapa Menteri, yang dipilih dan
diketuai oleh Sultan sendiri. Sultan Hassanal Bolkiah yang gelarnya diturunkan
dalam wangsa yang sama sejak abad ke-15, ialah kepala negara serta pemerintahan
Brunei. Baginda dinasihati oleh beberapa majelis dan sebuah kabinet menteri.
Pemilu, menurut kontitusi, harus diadakan setiap 5 tahun. Namun sejak 1965
tidak pernah lagi diadakan pemerintahan umum. Partai Demokrasi Nasional Brunei,
partai politik satu-satunya dinegara ini, dibentuk pada tahun 1985.
.Raja-raja
Brunai Darussalam yang memerintah sejak didirikannya kerajaan pada tahun 1363 M
yakni:
1
Sultan Muhammad Shah (1383 – 1402)
2.
Sultan Ahmad (1408 - 1425)
3.
sultan Syarif Ali (1425 - 1432)
4.
Sultan Sulaiman (1432 - 1485)
5.
Sultan Bolkiah (1485 - 1524)
6.
Sultan Abdul Kahar (1524 - 1530)
7.
Sultan Saiful Rizal (1533 - 1581)
8.
Sultan Shah Brunei (1581 - 1582)
9.
Sultan Muhammad Hasan (1582 - 1598)
10.
Sultan Abdul Jalilul Akbar (1598 - 1659)
11.
Sultan Abdul Jalilul Jabbar (1669 - 1660)
12.
Sultan Haji Muhammad Ali (1660 - 1661)
13.
Sultan Abdul Hakkul Mubin (1661 - 1673)
14.
Sultan Muhyiddin (1673 - 1690)
15.
Sultan Nasruddin (1690 - 1710)
16.
Sultan Husin Kamaluddin (1710 - 1730) (1737 - 1740)
17.
Sultan Muhammad Alauddin (1730 - 1737)
18.
Sultan Omar Ali Saifuddien I (1740-1795)
19.
Sultan Muhammad Tajuddin (1795-1804) (1804-1807)
20.
Sultan Muhammad Jamalul Alam I (1804)
21.
Sultan Muhammad Kanzul Alam (1807-1826)
22.
Sultan Muhammad Alam (1826-1828)
23.
Sultan Omar Ali Saifuddin II (1828-1852)
24.
Sultan Abdul Momin (1852-1885)
25.
Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin (1885-1906)
26.
Sultan Muhammad Jamalul Alam II (1906-1924)
27.
Sultan Ahmad Tajuddin (1924-1950)
28.
Sultan Omar 'Ali Saifuddien III (1950-1967)
29.
Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah (1967-kini)
.2.2
Sejarah Melayu di Singapura
A.sejarah
Singapura
Pada
tahap awal proses Islamisasi, Islam diidentikan dengan agamanya orang Melayu.
Dalam hal ini karena Islam menjadi agama yang dianut oleh sultan di Malaka,
yang juga pernah singgah di Singapura ketika lari dari Palembang, dan kemudian
mendirikan kesultanan Malaka dan menjadi Muslim. Identifikasi Melayu dan Sultan
ini memberikan kemungkinan awal dari perkembangan Islam di Singapura. Sekalipun
demikian dalam beberapa abad kemudian (kurang lebih 4 abad), Singapura menjadi
daerah yang tidak bertuan. Dan penghuni pulau Singapura adalah para perompak
laut. Pada tahap kedua, proses
Islamisasi terjadi terutama setelah Singapura menjadi pilihan Raffles sebagai
basis perdagangan Inggris di belahan timur. Singapura kemudian berkembang
menjadi pusat perdagangan yang menarik minat Muslim Melayu di sekitarnya dan
juga pedagang-pedagang Muslim Arab dan India untuk bermigran ke Singapura.
Sejak itulah, awal abad 19, proses pembentukan peradaban Islam di Singapura
berlangsung sampai sekarang. Dengan
dimotori oleh migran Arab dan India, juga dukungan Muslim Melayu, Islam
berkembang di Singapura membangun citra dirinya. Seiring dengan perjalan sejarahnya,
komunitas Muslim memainkan peran dalam perkembangan pembaharuan Islam di
kawasan Asia Tenggara. Tercatat penerbitan majalah dan buku yang memiliki
muatan refomis dipublikasikan dari Singapura. Bersamaan dengan itu, untuk
memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan ajaran Islam, Muslim Singapura telah
mendapatkan perhatian dari pemerintah dengan sejumlah kelembagaan Muslimnya,
yang dewasa ini kita kenal seperti AMLA (The Administration of Muslim Law Act).
dan MUIS.( Majlis Ugama Islam Singapura-Islamic Religious
Council of Singapore) Di bawah MUIS itulah dikoordinasikan berbagai kelembagaan
yang menunjang kelangsungan kehidupan umat Islam Singapura.
B. Posisi Melayu-Muslim di Singapura
1.
Ekonomi
Dibanding
dengan Negara-negara minoritas muslim lainnya di kawasan Asia-Tenggara,
Singapura merupakan sebuah Negara yang relative kaya. Hal ini secara teoritis
tentunya berdampak pula pada kondisi umat islamnya.Sejarah Melayu Singapura
menunjukkan pada awalnya kondisi ekonomi masyarakat Melayu-Muslim sangat
berbeda dengan kondisi hari ini. Mereka bekerja pada sektor-sektor strategis
dan 70% bekerja dikawasan kota, hanya 30% saja yang bekerja di kawasan kampung.
Hal ini sebagai bukti bahwa sejak awal orang Melayu-muslim telah menjadi etnis
yang memiliki tingkat ekonomi yang memuaskan. Dengan demikian, orang Melayu
identik dengan nuansa hidup kota. Kondisi ini amat berbeda dengan yang terjadi
saat ini. Sekarang, secara umum tingkat perekonomian Melayu-muslim berada jauh
di bawah etnis lain. Bahkan, mereka selalu disebutkan kelompok marjinal secara
ekonomi. Ini disebabkan arus imigran Cina terus meningkat dan leluasa memasuki
kawasan Singapura.
2.
Seni dan Budaya
Sebuah
tesis Ph.d oleh Betts, seorang ahli sains politik Amerika, mengklaim bahwa
masyarakat melayu gagal untuk merubah dirinya sebelum tahun 1959. Ia menuliskan
bahwa banyak perkara tentang cara hidup orang melayu diakui umumnya tidak
selaras dengan keadaan dan kemajuan yang pesat di Singapura. Disisi lain,
factor-faktor intrinsik dalam masyarakat Melayu menghalangi penerimaan ataupun
internalisasi secara pesat akan perubahan. Dia menganggap bahwa kampung-kampung
dipinggiran Singapura pada Hakikatnya bersifat perdesaan. Faktanya Banyak orang
melayu yang merasa puas hanya dengan bermata pencarian menangkap ikan, bertani,
dan aktivitas lain yang bercorak tradisional tanpa mempedulikan perkembangan
zaman. Hal senada juga diungkapkan oleh Badlington dalam desertasinya (1974) bahwa
masyarakat Melayu belum dapat merubah dirinya sebelum tahun 1959.Masyarakat
melayu selalu dihalangi oleh kekangan-kekangan budaya yang mendefinisikan
menurut garis etnis. Orang bukan Melayu telah bejaya memutuskan diri sama
sekali dari pada kokongan tradisi yang menghalang pembangunan ekonomi, akan
tetapi masyarakat Melayu terus terpengaruh oleh gerak budaya yang bertentangan.
Badlington juga menjelaskan bahwa pandangan orang Melayu tentang rezeki mengakibatkan
fatalisme (menyerah pada takdir) dan tidak ada usaha untuk meraihnya.
Bagi
Badlington, kaum-kaum lain di Singapura telah berubah sedangkan orang melayu
tinggal beku dan tinggal sejarah, dikekang oleh nilai-nilai budaya mereka.
Nilai-nilai yang dibincangkan oleh Badlington terdiri hanya dari pada yang
dianggapnya sebagai negative bagi kemajuan orang Melayu. Nilai-nilai ini digambarkan
sebagai cirri-ciri budaya yang kekal dan diretifikasi secara abstrak dari pada
konteks social dan materialnya Menanggapi isi dari pada desertasi Badlington,
yang secara umum memarginalkan kertepurukan ekonomi orang Melayu dilator belakangi
oleh adanya budaya yang kaku yang nota bene bersumber dari syariat Islam berupa
Al-Qur’an dan Hadist, perlu disanggah keabsahannya. Justru sebenarnya
penjelasan-penjelasan kemunduran Melayu bukan semata-mata berasal dari sumber
budaya Melayu yang juga melibatkan tafsiran Al-Qur’an.Akan tetapi juga berasal
dari diskriminasi dan perbedaan kesempatan yang diberikan kepada orang Melayu
dan etnis Cina pada awal 1970-an.
Memang
harus diakui bahwa mundurnya social budaya orang Melayu dan minimnya semangat
untuk bekerja, khususnya menyoroti kaum wanitanya disebabkan masih dangkalnya
pemikiran dan interfretasi umat dalam memahami syariat. Khususnya tafsiran yang
salah kaprah terhadap Islam, dimana pada masa ini banyak sikap pasif terhadap
agama yang dilihat orang Melayu sebagai menjamin masa depan tanpa perlu
berusaha, cukup menyerah pada takdir dan usaha untuk mengembangkan karir
hidupnya, hanya dengan mencukupi biaya hidup dalam jangka pendek. Bila diteliti
pula tentang budaya Melayu yang ingin menjalin antara etnis, biasanya
perkawinan yang dianggap paling selaras adalah pekawinan antara dua komponen
yang berbeda suku namun masih dalam satu agama. Perkawinan semacam ini dianggap
selaras atau sekupu, karena antara dua belah pihak masih memiliki satu visi dan
misi, seiman dan seagama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
3.
Politik
Mencermati
akar persoalan yang sering muncul dikalangan minoritas muslim, mengingat
serangkaian konflik antara pihak minoritas dengan mayoritas biasanya terletak
pada tarik-menarik kepentingan di tingkat politik. Umat Islam pada umumnya
menyakini bahwa agama mereka diturunkan oleh tuhan untuk mengatur kehidupan
umat manusia baik ditingkat individu maupun kolektif. Oleh sebab itu, umat
Islam Singapura menginginkan agar pendirian sebuah partai disesuaikan dengan
kepentingan-kepetingan berdasarkan keyakinan dan keimanan yang dipegangi
bersama, yang di yakinin memancarkan identitas,kesatuan, dan solidaritas kepada
sesama muslim.
Ada
dua partai politik yang berdasarkan etnis melayu yaitu Persatuan Melayu
Singapura dan Pertumbuhan Kebangsaan Melayu-Singapura. Namun dalam
perjalanannya, kedua partai ini tidak mendapatkan tempat dihati pemilih,temasuk
dimayoritas Melayu-Muslim sendiri. Partai yang berbasis agama dan etnis di
Singapura tidak dapat berkembang dengan baik, apalagi berharap menjadi
pemenang..
2.3.
Perbedaan melayu di Brunei dengan di Singapura
1.Di
bidang politik
a) Di
Brunei melayu mempunyai peran yang sangat penting Karena Negara brunei memakai
system kesultanan hingga saat ini yang berarti melayu sangat mempengaruhi
Negara Brunei. Sedangkan
b)
Di Singapura melayu atau islam dalam
bidang politik , sangat minim perannya karena selain menjadi minoritas di
singapura juga karena dikitnya etnis melayu yang menjadi anggota legislatip
dalam parleman singapura.
2.Di bidang budaya
a)
Di brunei
budaya melayu sangat di utama karena
budaya melayu atau islam sudah dijadikan sebagai dasar hukum ,serta menjadikan
melayu sebagai pandangan hidup masyarakat sehingga kebudayaan melayu sampai
saat ini masih bertahan dan berkembang di Brunei,sedangkan
b)
Di Singapura
budaya melayu sangat sulit berkembang karena masyarakat melayu di singapura
masih belum mampu berkembang serta mengubah pola lama seperti mata pencaharian
yang masih mengandalkan system agraris atau budaya tradisioanal sehingga budaya
melayu di singapura kalah bersaing dengan budaya asing .
3.Di bidang ekonomi
a)
Meskipun
negara brunei jauh tertinggal dari singapura jika dilihat dari bidang ekonomi
saat ini, namun masyarakat melayu di brunei lebih baik karena masyarakat melayu
brunei mengusai perekonomian dalam artian ekonomi masyarakat brunei di
dikelolah oleh masyarakat melayu sendiri , tidak ada etnis asing yang mengusai
secara utuh.sedangkan
b)
Di Singapura
meskipun termasuk salah satu macan asia,yang kaya serta maju dari Negara-negara lain di kawasan
asia tenggara tetapi sistem ekonomi di singapura dikuasai oleh etnis asing
terutama china ,sehingga meskipun kaya tetapi untuk masyarakat melayu kalah
bersaing dengan para imigran dari china.
BAB III
Kesimpulan
Melayu di Brunei mulai berkembang setelah merdeka,
dari awal merdeka sampai sekarang,melayu mempunyai peran penting sebagai dasar
hokum selain itu system kesultanan yang di gunakan oleh Negara Brunei
membuktikan bahwa melayu di brunei ,sedangkan melayu di Singapura eksistensi
sangat kurang karena singapura
Masih ada kesamaran mengenai kepan pertama kali
Singapura ditemukan. Ada sejumlah legenda yang berkembang tentang mengapa pulau
itu kemudian bernama Singapura. Pernah pulau itu menjadi wilayah kekuasaan
Majapahit, dan pernah pula menjadi vassal Kerajaan Siam dan Pahang. Tetapi
perkembangan yang pesat atas Singapura adalah setelah pulau itu menjadi bagian
dari koloni Inggris. Perkembangan Islam di Singapura tidak bisa dilepaskan dari
proses Islamisasi yang terjadi di Nusantara dan Semenanjung Malaysia. Proses
awal Islamisasi ini terjadi sekitar abad 15, ketika Malaka menjadi pusat
penting kekuatan Islam. Intensitas Islamisasi di Singapura juga terjadi setelah
ia berada di bawah koloni Inggris. Penduduk Muslim Singapura terbagi kepada dua
golongan, yaitu Muslim-pribumi dan Muslim-migran. Pribumi adalah orang Melayu,
sedang migran adalah orang-orang Jawa, Bugis, Sumatera, Riau, Arab dan India.
Dalam perkembangan selanjutnya, peran yang menonjol dipegang oleh para
Muslim-migran. Untuk pembangunan masjid-masjid banyak dipelopori oleh
migran-Arab. Mereke juga punya peran penting dalam penerbitan buku-buku Islam,
terutama sekali buku-buku keagamaan yang bercirikan pemikiran reformis.
Peran-peran politik umat Islam di Singapura ternyata juga banyak dipelopori
oleh kaum migran ini. Mengingat keberadaannya sebagai kaum minoritas, umat
Islam Singapura lebih bersikap adaptasionis, melakukan kerjasama yang
menguntungkan dengan pemerintah Singapura.
Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Brunei
http://www.sejarah-negara.com/2015/09/perkembangan-islam-di-brunei-darussala.html
https://ms.wikipedia.org/wiki/Orang_Melayu_di_Singapura
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu
http://kyotoreview.org/issue-13/brunei-darussalam-kesultanan-absolut-dan-negara-modern/
