Abstrak
Pada
tahun 1913 berdiri suatu organisasi yang berhaluan sosialis, yang bernama
Indische Sosial Demokratische Vereninging (ISVD), yang didirikan oleh orang
Belanda yaitu Sneevliet, Brandsteder Dekker dan orang Indonesia Semaun. Pada
tanggal 23 Mei 1920 ISDV berubah menjadi Partai komunis Hindia, dengan Semaun
sebagai Ketuanya, dan pada bulan maret 1923 namanya diubah menjadi Partai
Komunis Indonesia (PKI).
Dan
dengan terpilihnya Semaun sebagai ketua Partai komunis Indonesia yang notabene
juga sebagai ketua serekat islam lokal di semarang, maka paham komunis mulai
melakukan infiltrasi ke Serikat islam (SI) guna memperluas pengaruhnya. Setelah
pengaruh PKI sudah masuk ke SI maka PKI mulai memanfaatkan pengaruhnya untuk menggerakan masa, dengan mengunakan
bendera SI untuk melawan pemerintah Belanda. Meskipun dasarnya ideologi paham
komunis sangat bertolak belakang dengan SI, karena banyak anggota PKI yang ada
dalam SI maka PKI mulai berasimilasi dengan SI melawan Kolonial Belanda.
Apa yang di inginkan PKI untuk melakukan
pergerakan fisik terhadap kolonial belanda berhasil dengan adanya pergolakan di
berbagai daerah yakni di kerasidenan Jakarta, Banten, Priangan, Surakarta, dan
Kediri serta yang daerah diluar jawa, di silungkang, Sumtra barat pada periode
1926-1927 meskipun dapat di atasi oleh Belanda tapi pergerakan komunis sudah
menjadi bagian jaringan dunia.
Kata Kunci : PKI, Pemberontakan, Paham Komunis
Bab I
A. Pendahuluan
Pergerakan
rakyat Indonesia melawan para penjajah yang datang ke Indonesia dilakukan mulai dari masa VOC[1]
sampai masa kedudukan jepang. Dalam kurun waktu yang sangat lama ini berbagai
pergerakan dilakukan oleh bangsa Indonesia dengan berbagai bentuk. Pergerakan
rakyat tampil dalam bentuk seperti surat
kabar, nyanyian, pertemuan, serikat
buruh, dan pemogokan kerja serta Organisasi.[2] Jika
sebelum lahirnya organisasi pergerakan yang dilakukan masih bersifat
daerah-daerah maka setelah terbentuknya organisasi[3]
maka bangsa Indonesia mempunyai tempat atau wadah sebagai penampung.
Salah
satu organisasi yang mempunyai peran aktif dalam pergerakan Indonesia adalah PKI
(Perserikatan
Kommunist di Hindia yang kemudian menjadi partai komunis Indonesia).[4] PKI
mempunyai sejarah yang panjang dalam pergerakan Indonesia tercatat tiga kali
melakukan pergerakan atau pemberontakan pertama dilakukan pada periode
kebangkitan Nasional yakni 1926-1927, kedua terjadi pada awal kemerdekaan pada
1948 di madiun dan yang ketiga, yakni pemberontakan yang di kenal dengan G 30 S
PKI pada tahun 1965[5].
Dari ketiga pergerakan atau pemberontakan mempunyai perbedaan antara gerakan pertama dengan gerakan kedua dan
ketiga, jika pada 1948 dan 1965 pemberontakan yang dilakukan PKI dianggap
sebagai Pengkhianat karena lawan yang mereka hadapi adalah NKRI yang mempunyai
konsep yang berlawanan dengan ideologi Bangsa yang pemerintah Republik Indonesia sendiri, maka
apa yang dilakukan PKI itu sebagai
tindakan pengkhianatan sehingga PKI layak bahkan wajib dihancurkan dan
dipandang sebagai musuh bangsa. Sementara itu, bagaimana dengan pergerakan yang
dilakukan PKI pertama yakni pada tahun1926-1927 yang melawan para Kolonial Belanda, pertanyaan ini lah yang terlintas disetiap
penulisan sejarah Indonesia , jika membahas Pergerakan PKI, apakah di pandang
sebagai pahlwan atau pengkhianat, untuk itulah perlu diketahui konsep dari
pergerakan yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia ) pada tahun 1926-1927.
A. Munculnya Pergerakan PKI di Hindia Belanda
Lahirnya
pergerakan komunis di Hindia Belanda tidak lepas dari pengaruh Politik seorang
aktivis yang berhaluan Marxis dari Belanda bernama H.J.F.M.Sneevliet. Pada
tahun 1913, menjelang perang dunia pertama Sneevliet tiba di Hindia belanda dan
menjadi staf Redaksi Warta Perdagangan Soerabajasche Handelsblad.[6]
Kemudian dia menjadi sekretaris di Semarangsche Handels Vareniging dan berhasil
menanamkan pengaruhnya kedalam
Vereniging van Spoor en Tramsweg personeel (VSTP)[7]
dan membawa VSTP ke aktivitas radikal, dan sebagai wadah penyebar luasan
marxisme di Hindia Belanda.
Kemudian pada 1914, Henk Sneevliet dengan nama
Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) (atau Persatuan Sosial
Demokrat Hindia Belanda)[8].
Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai
sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai
Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda Pada Oktober 101 SM ISDV mulai
aktif dalam penerbitan dalam bahasa Belanda, "Het Vrije Woord" (Kata
yang Merdeka). Editornya adalahAdolf Baars. Pada saat pembentukannya, ISDV
tidak menuntut kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100
orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga
pribumi Indonesia. Namun demikian, partai ini dengan cepat berkembang menjadi
radikal dan anti kapitalis. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak
puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV.
Pada 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri dan membentuk partainya
sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia. Pada 1917 ISDV mengeluarkan
penerbitannya sendiri dalam bahasa Melayu, "Soeara Merdeka"[9].
Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti yang
terjadi di Rusia harus diikuti Indonesia.
Kelompok ini berhasil mendapatkan pengikut di
antara tentara-tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda.
Dibentuklah "Pengawal Merah" dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka
telah mencapai 3.000 orang[10].
Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di Surabaya, sebuah
pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk sebuah dewan
soviet. Para penguasa kolonial menindas dewan-dewan soviet di Surabaya dan
ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para
pemimpin pemberontakan di kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara
hingga 40 tahun. ISDV terus melakukan kegiatannya, meskipun dengan cara
bergerak di bawah tanah. Organisasi ini kemudian menerbitkan sebuah terbitan
yang lain, Soeara Ra’jat. Setelah sejumlah kader Belanda dikeluarkan dengan
paksa, ditambah dengan pekerjaan di kalangan Sarekat Islam, keanggotaan
organisasi ini pun mulai berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas
orang Indonesia. ISDV kemudian berubah nama menjadi Perserikatan Komunis
Hindia-Belanda dipimpin oleh Semaun, Darsono dan Baars yang merupakan keturunan
Belanda, Perserikatan komunis Hindia-Belanda kemudian berubah menjadi PKI
(Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1923, dengan Semaun sebagai Ketuanya.[11]
B. Infiltrasi
komunis ke dalam Sarekat Islam
Sejak
kebangkitan nasional, 1908 Serekat Islam (SI) atau sebelumnya bernama Sarekat
Dagang Islam (SDI), merupakan sebuah Organisasi yang mempunyai pengaruh dan
perkembangan yang besar di Indonesia. Sneevliet sebagai ketua ISDV menyadari bahwa adanya hambatan bagi ISDV
untuk menyebarkan paham Marxisme di Hindia Belanda, untuk melaksanakan tujuan
nya itulah, Sneevliet menggunakan organisasi SI dengan cara memasukan anggota
ISDv menjadi anggota SI dengan sistem keanggotaan rangkap dan dengan
keanggotaan yang rangkap inilah, ISDV menyebarkan pengaruhnya di dalam SI.[12]
Kemudian ISDV berhasil membawa beberapa
tokoh muda SI untuk Bergabung menjadi anggota ISDV yakni Samaoen[13],
dan seorang wartawan yakni Darsono, kedua orang ini menjadi penyebar Marxisme
di kalangan masyarakat Indonesia.
Masuknya
anggota ISDV ke dalam Sarekat Islam
mencapai puncaknya dengan munculnya sikap pro-kontra di dalam Sarekat
Islam, ketika pelaksanaan kongres VI SI
di Surabaya, pada oktober 1921.[14]
Kongres tersebut di hadiri oleh berbagai kalangan terutama fraksi komunis yang
dipimpin oleh Semaun dan Tan Malaka, yang berupaya menguasai jalannya Kongres,
namun keduanya di patahkan oleh seorang pimpinan SI, yaitu Haji Agus Salim yang
nasionalis dan moderat dalam berargumen. Dan adanya pertentangan dalam
organisasi sarekat islam ini menimbulkan dua golongan di dalam SI yakni
anggota yang beraliran Marxis dengan
sebutan si Merah dan Si putih bagi yang menentang komunis.
Pada
tahun 1923 Tan Malaka kepada komintern, bahwa 30.000 dari 100, 000 anggota
sarekat Islam adalah Komunis.[15]
Dengan semakin menajamnya komunis di sarekat Islam maka pada 1922, pemerintah
Hindia Belanda mengusir pentolan komunis tersebut ke luar negeri sebagai upaya
meredam komunis. Akibat pengusiran tersebut menyebabkan kelemahan kepemimpinan
, namun pada tahun 1923, pentolan komunis masuk kembali yakni Semaun dan
Darsono, yang menghimpun kekuatan yang pro-Moskow, dan pada juni 1924 PKI
mengadakan kongres di Jakarta.
Setelah
pulang kembali ke Indonesia, tidak serta merta bisa menguat kembali organisasi
dan ideologi karena tidakan tegas yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda,
untuk itu pada kongres PKI desember 1924 di kota Gede, Yogyakarta, Sarekat
rakyat sayap kiri sarekat islam, di satukan ke dalam PKI.[16]
Dengan bersatunya tersebut maka PKI menmanfaatkan Bendera SI untuk mempengaruhi
massa rakyat.
C. Pergerakan
Komunis PKI sebagai jaringan komunis internasional
Ketika
SDAP di negeri Belanda pada tahun 1918 mengalami perubahan partai menjadi
partai Komunis Belanda.[17]sangat
erat kaitannya dengan keberhasilan Revolusi Bolsjewik di rusia 1 oktober 1917.[18]Revolusi
yang membuat penganut Marxisme diseluruh dunia ingin mengikuti revolusi
tersebut dalam meraih keberhasilan, termasuk penganut paham Marxisme di Hindia
Belanda, dan pada kongres ISDV VII pada tanggal 23 mei 1920 di Semarang ISDV di
ubah menjadi partai komunis Hinda belanda sebagai bagian dari jaringan Komunis
Internasional Komintern).
Pada
kongres ke II komintern pada juli-agustus 1920 di Petrograd dan moskow, partai
komunis Hindia Belanda yang di wakili oleh Sneevliet, hadir dan menyakinkan komintern menyetujui kerja sama komunis
dengan SI sebagai taktik memenangkan Komunis. Dan pada Desember 1920
Perserikatan komunis di Hindia Belanda menjadi anggota Komintern dengan syarat
yaitu :
a. Pengakuan
secara konsisten terhadap dictator protetariat dengan perjuangn untuk
mengamankan dan mempertahanknnya.
b. Pemutusan
kerja sama secara menyeluruh dengan kaum
reformis dan centris serta penyingkiran mereka dari partai.
c. Melaksanakan
perjuangan dengan metode kombinasi legal dan illegal.
d. Bekerja
secara sistematis di dalam Negara, militer, organisasi buruh reformis dan parlemen borjuis.
e. Setiap
partai anggota komintern adalah partai komunis dan dibentuk atas prinsip
sentralisme demokrasi.
f. Semua
keputusan dari kongres komintern dan Exucutive committee of communist internasional
(ECCI), yang merupakan komite pelaksana keputusan kongres komintern, akan
mengikat terhadap semua partai yang berafilliansi dengan komintern.
g. Komintern
dan ECCI juga terlibat untuk mempertimbangkan adaya perbedaan kondisi dari
setiap partai yang berbeda tempat bekerja dan perjuangannya dan secara umum resolusi yang diajukan mengenai
suatu masalah hanya akan diterima apabila resolusi itu memungkinkan
Dengan
menerima secara mutlak syarat komintern ini, maka pada Desember 1920
Perserikatan Komunis di Hindia Belanda menjadi anggota komintern.
Bab
II
Kesimpulan
Sejak
lahirnya kebangkitan nasional 1908, pergerakan di Hindia Belanda mulai giat
dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat dan organisasi. Salah satu
organisasi yang mempunyai peran aktif dalam pergerakan Indonesia adalah PKI
(Perserikatan
Kommunist di Hindia yang kemudian menjadi partai komunis Indonesia), yang
menjadi organisasi yang berpaham Marxisme , pada tahun 1923, dalam melakukan
pergerakan Partai Komunis Indonesia tidak hanya melakukannya sendiri , mereka
melakukan infiltrasi dalam Sarekat Islam. karena pada saat itu Sarekat islam
mempunyai massa yang besar dan anggota PKI di perbolehkan memiliki keanggotaan
ganda, namun dalam melakukan infiltrasi PKI ke dalam SI mengalami hambatan karena
adanya pertentangan didalam SI terhadap paham komunis yang di ajarakan PKI.
Serta PKI juga menjalin atau menjadi anggota komunis internasional atau
komitern untuk mendapatkan dukungan dari dunia internasional.
Daftar Pustaka :
Kemendibud. 1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta
: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan daerah.
Kementriatneg. 1994. Gerakan 30 September ; Pemberontakan Partai
Komunis Indonesia. Jakarta : PD.Besar.
Manafe, Aco. 2007. TERPU ; Mengungkap pengkhianatan PKI pada tahun 1965 dan Proses hukum
bagi para pelakunya. Jakarta : PT
Pustaka Sinar Harapan.
Shiraishi, Takashi. 2005. Zaman
Bergerak Radikalisme rakyat di jawa 1912- 1926.Jakarta : Graffiti.
Sudirman,
Adi. 2014. Sejarah Lengkap Indonesia.Jogjakarta
: DIVA Pres.
[1] VOC ( Verenigde Oost Indische
Compagnie ) adalah suatu kongsi dagang perhimpunan pengusaha Belanda
yang di bentuk pada tanggal 20 maret 201602, dengan tujuan menghindarkan
persaingan antar pengusaha Belanda , serta persaingan dengan Negara lain yakni
Spayol dan Portugal , ( Sudirman, 2014, hal.215)
[2]
Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak ; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (
Disertasi Prasyarat Kesarjanaan) (Farid, Hilmar, 2015). Hal.2
[3]
Organisasi pertama yang terbentuk adalah Organisasi Budi Utomo (BU) didirikan
pada tanggal 20 Mei 1908 oleh para mahasiswa STOVIA di Batavia dengan Sutomo
sebagai ketuanya.
[4] Ibid hlm 247
[5]
Aco Manafe, TERPU ; Mengungkap pengkhianatan PKI pada tahun 1965 dan Proses
hokum bagi para
pelakunya.( Jakarta : PT Pustaka Sinar Harapan, 2007), hlm,1-2
[6] Sekretariat Negara Republik Indonesia :
Gerakan 30 September ; pemberontakan partai komunis Indonesia, (Jakarta : PD Besar, 1994) hlm 7
[7] VSTP (Vereniging van Spoor en Tramsweg
Personeel ) adalah organisasi buruh kereta api di semarang
[8] Op.cit
[9] Ibid hlm.7
[10]
Op.cit.
[11]
Op.cit
[12] Ibid, Hal.8
[13]
Semaoen adalah pimpinan SI cabang semarang, yang menjadi anggota ISDV pada
tahun 1917 dan dia menjadi ketua PKI tahun 1923 setelah PKI di ambil ahli oleh
orang-orangindonesia.
[14]
Ibid, Hal. 2
[15]Op.cit,
[16]
Ibid. hlm 8
[17]
SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) adalah partai Demokrat Pekerja Sosial Belanda yang di bentuk pada 26
agustus 1894.
[18]
Ibid. hlm 10
No comments:
Post a Comment