Monday, 15 August 2016

perekonomian Indonesia masa VOC, Tanam Paksa, dan Krisis Ekonomi Dunia


Sejarah Ekonomi
“Perekonomian Indonesia masa VOC, Tanam Paksa, dan Krisis Ekonomi Dunia“



A.   Ekonomi Indonesia masa VOC
Wilayah Indonesia atau dulunya dikenal sebagai Hindia Belanda, sudah terkenal akan sumber daya alamnya terutama rempah-rempahnya. Ini lah yang mendorong  bangsa-bangsa eropa datang ke Indonesia, yang dipelopori oleh bangsa Portugis dan Spanyol. Portugis masuk ke Indonesia tepatnya di Maluku pada tahun 1512, sedangkan Spanyol di Tidore pada tahun 1521 yang bertujuan mencari rempah-rempah. Dan pada tahun 1596, pedagang Belanda datang dibawah pimpinan Cornelis de Houtman dengan empat buah kapal berlabuh di Banten, hingga berdirilah kumpulan datang belanda dengan nama VOC.
VOC yang dibentuk pada 1606 hanya sebagai kongsi dagang bangsa belanda, sistem ekonomi VOC yaitu Dominasi, Eksploitasi  dan Diskriminasi.
1.      Dominasi
VOC melakukan dominasi ekonomi di nusantara dengan melakukan monopoli perdagangan yang sangat merugikan  rakyat, Hongi Tochten ( pelayaran hongi)  pelayaran menyusuri pantai yang dilengkapi dengan  angkatan perang untuk mengawasi  para pedagang Maluku  agar tidak menjual rempah – rempahnya selain VOC, Ekstiparsi  yaitu menebang tanaman rempah – rempah milik penduduk  supaya produksi rempah – rempah tidak berlebihan,  Contigenten yaitu rakyat diwajibkan mmbayar pajak berupa hasil bumi,  Leverentie yaitu rakyat wajb menyerahkan pajak berupa hasil bumi  didaerah yang tidak dikuasai VOC, Preanger Stesel yaitu kewajiban bagi rakyat untuk menanam  kopi didaerah pariangan , hasil kopinya nanti dibeli dengan harga yang telah ditentukan oleh VOC.

2.      Eksploitasi
VOC menerapkan sebuah sistem eksploitasi yang khusus berlaku di Sunda, khususnya Priangan, yang dikenal dengan istilah Preanger Stelsel. Sistem ini dipahami sebagai sebuah sistem dimana rakyat Priangan diwajibkan menanam kopi dalam jumlah tertentu, sebagai kompensasi dari pembebasan membayar pajak dalam bentuk uang, rakyat Priangan diwajibkan menyetor kopi dalam jumlah tertentu, rakyat Priangan pun hanya bisa menjual kopi kepada VOC dengan harga yang mereka tentukan sendiri. Penerapan sistem ini sangat menguntungkan VOC, yang pada gilirannya berdampak positif bagi surplus perekonomian pemerintah Belanda. Produksi kopi dari Priangan sangat berpengaruh penting bagi produksi kopi dunia.  Produksi kopi Priangan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Jika dibandingkan dengan keresidenan-keresidenan lain di Pulau Jawa, produksi kopi Priangan adalah yang paling tinggi
3.      Diskriminasi
Masa VOC terjadi diskriminasi ekonomi, rakyat pribumi hanya menjadi golongan miskin, yang terus bekerja demi kepentingan orang-orang belanda sehingga perekonomian hanya di kuasa oleh orang eropa yang mempunyai kekayaan sedangkan pribumi hanya sebagai pekerja atau kelas ekonomi bawah. sistim Ekonomi yang diterapkan voc dalam masyarakat Indonesia menimbulkan diskriminasi terhadap pribumi yang sangat menyesengsarakan rakyat.



B.   Ekonomi Indonesia masa Tanam paksa
Pada tahun 1830 pada saat pemerintah penjajah hampir bangkrut setelah terlibat perang Jawa terbesar (Perang Diponegoro 1825-1830), dan Perang Paderi di Sumatera Barat (1821-1837), Gubernur Jendral Van den Bosch mendapat izin khusus melaksanakan sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) dengan tujuan utama mengisi kas pemerintahan jajahan yang kosong, atau menutup defisit anggaran pemerintah penjajahan yang besar. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya pada harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Maka tidak ada perkembangan yang bebas dari sistem pasar.

 Sistem Tanam Paksa di Jawa Sistem tanam paksa diterapkan oleh pemerintah jajahan Belanda merupakan contoh klasik tentang penindasan kaum penjajah. Tujuan pokoknya ialah meningkatkan secara pokok kapasitas produksi pertanian orang-orang Jawa demi keuntungan perbendaharaan Kerajaan Belanda. Jika dipandang dari segi ini ,sistem tersebut memang berhasil baik, dengan dihasilkannya sejumlah besar komoditi ekspor, yang penjualannya di Eropa semakin banyak menghasilkan dana untuk menopang posisi keuangan Belanda yang sedang sulit sekali. Melonjaknya produksi dan laba ini hampir seluruhnya bersumber pada kerja paksa kaum tani Jawa. Pengandalan dari Tanam Paksa itu untuk memperoleh pendapatan lebih daripada hal lain mengakibatkan reputasi sistem Tanam paksa sangat buruk.
 Dalam sistem Tanam Paksa ini kaum tani diwajibkan untuk menggarap sawahnya dan para petani wajib menyerahkan hasil panen tersebut pada pemerintah Belanda. Sistem tanam paksa menuntut agar kaum tani melakukan kerja rodi. Kaum tani diharuskan bekerja 4 atau 5 kali lebih lama daripada jam kerja yang dituntut dalam masa sebelum 1830. Pada umumnya, imbalan yang diterima oleh kaum tani itu dalam bentuk hasil budidaya atau upah yang sama sekali tidak seimbang denga tambahan waktu dan jerih payah yang dituntut dari mereka.

C.   Krisis Ekonomi Dunia
1)      Kepanikan Bank, 1907
Kepanikan pada tahun 1907 terjadi karena terjun bebasnya pasar saham Dow lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya. Pemicunya adalah over-ekspansi dan spekulasi pasar yang buruk. Pasar saham jatuh pada Maret dan terulang kembali pada bulan Oktober, menyebabkan hilangnya kepercayaan pada Bank disusul bangkrutnya Bank Amerika Utara. Departemen Keuangan AS dengan bantuan luar biasa dari JP Morgan kemudian membuat suatu "pengarahan" moneter yang kreatif. Pada Februari 1908 kepercayaan publik mulai pulih dan pada Mei Kongress menyetujui Undang-undang Aldrich-Vreeland Act dan membentuk Komisi Moneter Nasional untuk meredam setiap kepanikan pasar yang akan terjadi di masa datang.

2)      Hiperinflasi Jerman, 1918-1924
Meskipun hiperinflasi yang melanda Jerman bukanlah yang terburuk dalam sejarah, tapi memiliki dampak yang paling hebat. Pada tahun 1914, nilai tukar Dolar AS terhadap Mark Jerman sekitar 1 berbanding 4. Namun pada 1923, angka tersebut meledak hingga menjadi 1 Dolar AS setara dengan 1 triliun (1.000.000.000.000) Mark Jerman. Ibu Jerman membakar uang untuk memasak karena nilainya lebih murah dibanding harga minyak Seorang Ibu membakar uang Mark untuk memasak  karena nilainya lebih murah dari pada minyak. Sebagai buntut dari Perang Dunia Pertama, "sang pemenang" membebankan biaya rekonstruksi akibat perang kepada Jerman, nilainya mencapai sepertiga dari seluruh defisit anggaran Jerman. Beberapa pihak menuduh Jerman sengaja menyabotase ekonominya sendiri untuk menghindari kewajiban pembayaran tersebut. Dengan memperkenalkan jenis baru mata uang pada tahun 1923, yang Rentenmark diikuti kemudian Reichsmark pada tahun 1924, Jerman akhirnya dapat mengontrol inflasi tersebut. Tapi periode ini hampir pasti penting dalam kebangkitan Sosialisme Nasional dan menjadi jalan  bagi sejarah kelam yang lebih mengerikan; lahirnya NAZI.
3)      Krisis minyak 1907
Di bayang-bayangi oleh Perang Yom Kippur antara Suriah dan Mesir melawan Israel, OPEC menjadikan minyak sebagai senjata dengan cara melakukan embargo Minyak terhadap pihak yang mendukung Israel. Biaya minyak mentah meningkat sementara produksi dipangkas, terutama untuk AS dan Belanda. Embargo hanya berlangsung selama lima bulan, namun efeknya terus dirasakan hingga kini. Pasar Saham New York kehilangan hingga 97 miliar Dolar AS. Produsen mobil jepang mulai membuat mobil  dengan ukuran kecil, dan AS memberlakukan pembatasan kecepatan maksimum 55 mil/jam untuk penghematan BBM. Presiden Carter akhirnya membentuk Departemen Energi untuk mengembangkan cadangan minyak negara tersebut
4)      Senin Hitam (Black Monday), 1987
Suasana Pasar Saham New York pada Black Monday 1987  Tidak ada yang tahu pasti apa yang menyebabkan terjadinya Senin Hitam pada 19 Oktober 1987. Yang pasti adalah tiba-tiba hilangnya miliaran dolar dari pasar saham seluruh dunia. Hong Kong kehilangan 45,8% dari total nilai sahamnya, Inggris kehilangan 26,4%, Australia lenyap 41,8% dan Selandia Baru drop hingga 60%. Berapa orang meyakini kejadian ini bakal terulang di masa datang. Perdagangan program, perselisihan kebijakan moneter serta kekhawatiran akan inflasi, semuanya ditengarai menjadi penyebabnya. Bahkan kepanikan pasar bisa saja datang tiba-tiba tanpa sebab yang jelas dan rasional. Akibat yang pasti adalah akan kembali lenyapnya banyak uang tanpa jejak.
5)      "Dekade yang Hilang" dari Jepang, 1990-2000
Runtuhnya gelembung aset (asset bubble) di Jepang pada tahun 1991 menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang rendah dan berkepanjangan hingga tahun 2000. Penyebab sebenarnya dari krisis ini adalah akibat tidak sehatnya spekulasi, tingginya angka kredit dan rendahnya tingkat suku bunga. Ketika pemerintah mencoba untuk mengendalikannya, kredit semakin sulit didapat, dan penyertaan modal turun drastis. Inilah yang menyebabkan melemahnya ekspansi ekonomi sepanjang tahun 1990an, menjadikannya satu dekade yang hilang. Jepang beruntung dapat menghindari depresi, tapi efek di tahun 1991 tersebut masih terasa sampai hari ini. Beberapa pengamat meyakini kejadian ini akan terulang pada dunia barat bila sistem ekonominya tidak segera dibenahi.
6)      krisis Moneter Asia Tenggara, 1997
Awalnya perkembangan luar biasa di Asia disebut sebagai "Keajaiban Ekonomi Asia". Banyak pengamat menyebut Macan dan Naga Asia sedang bangkit dan akan segera menggantikan dominasi ekonomi barat. Namun tak butuh waktu lama untuk membalikkan pujian tersebut menjadi bencana besar, dimulai pada Bulan Juli 1997. Ini berawal dari hilangnya kepercayaan investor pada mata uang Asia. Tingginya imbal balik membuat pasar Asia sebenarnya menarik, tapi ketika AS mencoba untuk mengatasi resesinya sendiri dengan ikut menurunkan tingkat suku bunga, membuat investor lebih tertarik pada Amerika, dan memandang pasar Asia terlalu beresiko.
Lalu terjadilah efek domino, dimulai dari Thailand dan meluas ke Filipina, Hong Kong, Malaysia dan Indonesia dan terus menyebar hingga memicu krisis global. Pasar saham Thailand terkoreksi 75%, Hong Kong 23% dan Singapura anjlok hingga 60%. Tak satupun pasar dunia yang tidak terimbas. Nilai tukar Rupiah terdevaluasi hingga 90%, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13,7%, harga makanan melambung sampai 118% dan inflasi mencapai 78%. Krisis moneter inilah yang memicu terjadinya kerusuhan massa pada Mei 1998, yang akhirnya melengserkan kekuasaan Suharto dari kursi kepresidenan yang telah di genggamnya selama 32 tahun.



7)      Krisis Rubel, 1998
Korupsi, kebijakan reformasi ekonomi yang tidak efektif, devaluasi nilai Rubel, dan ketidakstabilan politik  membawa Rusia kedalam krisis moneter yang masif. Selain itu, posisi Rusia sebagai eksportir sepertiga dari jumlah minyak dan gas di dunia, menyebabkan Rusia sangat rentan terhadap terjadinya fluktuasi harga minyak. Ketika investor asing menarik uangnya keluar Rusia, Bank menjadi lumpuh dan dengan terpaksa meminjam pada IMF. Dan semua tahu, meminjam kepada IMF sama sekali tidak efektif. Imbal hasil obligasi tahunan secara mengejutkan meningkat sebesar 200%. Krisis ini juga menghantam pasar saham Dow, pasar saham ini mengalami penurunan nilai terendah sepanjang sejarah
8)      Resesi hebat 2008
Pada tahun 2008, bangkrutnya Bank Lehman Brothers yang memiliki aset bernilai 600 miliar dolar, menjadi simbol dimulainya krisis moneter paling dramatis sejak masa Depresi Hebat. Penyebabnya berkaitan dengan dideregulasinya beberapa kebijakan sektor keuangan, kebijakan moneter yang buruk dan runtuhnya ekonomi internasional akibat tingkat hutang yang tinggi di sektor publik dan swasta.

Efek yang disebabkan krisis ini begitu hebat. Meskipun Pemerintah AS berjuang untuk mengatasi krisis tetap saja terjadi kredit macet, runtuhnya pasar saham dan pertumbuhan melambat yang menyebabkan jumlah pengangguran membludak dan banyak orang harus kehilangan rumah akibat tidak mampu membayar kreditnya. Diperkirakan hingga Maret 2009, 45% dari kekayaan global telah lenyap, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikannya.

No comments:

Post a Comment

GLOBALIZATION, INTERNATIONAL EDUCATION, AND COMPARATIVE EDUCATION

A.     PENDAHULUAN Pergeseran pola kehidupan Masyarakat global akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat Masyara...