Sejarah
Ekonomi
“Perekonomian
Indonesia masa VOC, Tanam Paksa, dan Krisis Ekonomi Dunia“
A. Ekonomi
Indonesia masa VOC
Wilayah
Indonesia atau dulunya dikenal sebagai Hindia Belanda, sudah terkenal akan
sumber daya alamnya terutama rempah-rempahnya. Ini lah yang mendorong bangsa-bangsa eropa datang ke Indonesia, yang
dipelopori oleh bangsa Portugis dan Spanyol. Portugis masuk ke Indonesia
tepatnya di Maluku pada tahun 1512, sedangkan Spanyol di Tidore pada tahun 1521
yang bertujuan mencari rempah-rempah. Dan pada tahun 1596, pedagang Belanda
datang dibawah pimpinan Cornelis de Houtman dengan empat buah kapal berlabuh di
Banten, hingga berdirilah kumpulan datang belanda dengan nama VOC.
VOC
yang dibentuk pada 1606 hanya sebagai kongsi dagang bangsa belanda, sistem
ekonomi VOC yaitu Dominasi, Eksploitasi
dan Diskriminasi.
1. Dominasi
VOC melakukan
dominasi ekonomi di nusantara dengan melakukan monopoli perdagangan yang sangat
merugikan rakyat, Hongi Tochten (
pelayaran hongi) pelayaran menyusuri
pantai yang dilengkapi dengan angkatan
perang untuk mengawasi para pedagang
Maluku agar tidak menjual rempah –
rempahnya selain VOC, Ekstiparsi yaitu
menebang tanaman rempah – rempah milik penduduk
supaya produksi rempah – rempah tidak berlebihan, Contigenten yaitu rakyat diwajibkan mmbayar
pajak berupa hasil bumi, Leverentie
yaitu rakyat wajb menyerahkan pajak berupa hasil bumi didaerah yang tidak dikuasai VOC, Preanger
Stesel yaitu kewajiban bagi rakyat untuk menanam kopi didaerah pariangan , hasil kopinya nanti
dibeli dengan harga yang telah ditentukan oleh VOC.
2. Eksploitasi
VOC menerapkan
sebuah sistem eksploitasi yang khusus berlaku di Sunda, khususnya Priangan,
yang dikenal dengan istilah Preanger Stelsel. Sistem ini dipahami sebagai
sebuah sistem dimana rakyat Priangan diwajibkan menanam kopi dalam jumlah
tertentu, sebagai kompensasi dari pembebasan membayar pajak dalam bentuk uang,
rakyat Priangan diwajibkan menyetor kopi dalam jumlah tertentu, rakyat Priangan
pun hanya bisa menjual kopi kepada VOC dengan harga yang mereka tentukan
sendiri. Penerapan sistem ini sangat menguntungkan VOC, yang pada gilirannya
berdampak positif bagi surplus perekonomian pemerintah Belanda. Produksi kopi
dari Priangan sangat berpengaruh penting bagi produksi kopi dunia. Produksi kopi Priangan terus meningkat pada
tahun-tahun berikutnya. Jika dibandingkan dengan keresidenan-keresidenan lain
di Pulau Jawa, produksi kopi Priangan adalah yang paling tinggi
3. Diskriminasi
Masa VOC terjadi
diskriminasi ekonomi, rakyat pribumi hanya menjadi golongan miskin, yang terus
bekerja demi kepentingan orang-orang belanda sehingga perekonomian hanya di
kuasa oleh orang eropa yang mempunyai kekayaan sedangkan pribumi hanya sebagai
pekerja atau kelas ekonomi bawah. sistim Ekonomi yang diterapkan voc dalam
masyarakat Indonesia menimbulkan diskriminasi terhadap pribumi yang sangat
menyesengsarakan rakyat.
B. Ekonomi
Indonesia masa Tanam paksa
Pada tahun 1830
pada saat pemerintah penjajah hampir bangkrut setelah terlibat perang Jawa
terbesar (Perang Diponegoro 1825-1830), dan Perang Paderi di Sumatera Barat
(1821-1837), Gubernur Jendral Van den Bosch mendapat izin khusus melaksanakan
sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) dengan tujuan utama mengisi kas
pemerintahan jajahan yang kosong, atau menutup defisit anggaran pemerintah
penjajahan yang besar. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam
dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara
yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual
komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus
menjualnya pada harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Maka tidak ada
perkembangan yang bebas dari sistem pasar.
Sistem Tanam Paksa di Jawa Sistem tanam paksa
diterapkan oleh pemerintah jajahan Belanda merupakan contoh klasik tentang
penindasan kaum penjajah. Tujuan pokoknya ialah meningkatkan secara pokok
kapasitas produksi pertanian orang-orang Jawa demi keuntungan perbendaharaan
Kerajaan Belanda. Jika dipandang dari segi ini ,sistem tersebut memang berhasil
baik, dengan dihasilkannya sejumlah besar komoditi ekspor, yang penjualannya di
Eropa semakin banyak menghasilkan dana untuk menopang posisi keuangan Belanda
yang sedang sulit sekali. Melonjaknya produksi dan laba ini hampir seluruhnya
bersumber pada kerja paksa kaum tani Jawa. Pengandalan dari Tanam Paksa itu
untuk memperoleh pendapatan lebih daripada hal lain mengakibatkan reputasi
sistem Tanam paksa sangat buruk.
Dalam sistem Tanam Paksa ini kaum tani
diwajibkan untuk menggarap sawahnya dan para petani wajib menyerahkan hasil
panen tersebut pada pemerintah Belanda. Sistem tanam paksa menuntut agar kaum
tani melakukan kerja rodi. Kaum tani diharuskan bekerja 4 atau 5 kali lebih
lama daripada jam kerja yang dituntut dalam masa sebelum 1830. Pada umumnya,
imbalan yang diterima oleh kaum tani itu dalam bentuk hasil budidaya atau upah
yang sama sekali tidak seimbang denga tambahan waktu dan jerih payah yang
dituntut dari mereka.
C. Krisis
Ekonomi Dunia
1) Kepanikan
Bank, 1907
Kepanikan pada
tahun 1907 terjadi karena terjun bebasnya pasar saham Dow lebih dari 50%
dibanding tahun sebelumnya. Pemicunya adalah over-ekspansi dan spekulasi pasar
yang buruk. Pasar saham jatuh pada Maret dan terulang kembali pada bulan
Oktober, menyebabkan hilangnya kepercayaan pada Bank disusul bangkrutnya Bank
Amerika Utara. Departemen Keuangan AS dengan bantuan luar biasa dari JP Morgan
kemudian membuat suatu "pengarahan" moneter yang kreatif. Pada
Februari 1908 kepercayaan publik mulai pulih dan pada Mei Kongress menyetujui
Undang-undang Aldrich-Vreeland Act dan membentuk Komisi Moneter Nasional untuk
meredam setiap kepanikan pasar yang akan terjadi di masa datang.
2) Hiperinflasi
Jerman, 1918-1924
Meskipun
hiperinflasi yang melanda Jerman bukanlah yang terburuk dalam sejarah, tapi
memiliki dampak yang paling hebat. Pada tahun 1914, nilai tukar Dolar AS
terhadap Mark Jerman sekitar 1 berbanding 4. Namun pada 1923, angka tersebut
meledak hingga menjadi 1 Dolar AS setara dengan 1 triliun (1.000.000.000.000)
Mark Jerman. Ibu Jerman membakar uang untuk memasak karena nilainya lebih murah
dibanding harga minyak Seorang Ibu membakar uang Mark untuk memasak karena nilainya lebih murah dari pada minyak.
Sebagai buntut dari Perang Dunia Pertama, "sang pemenang" membebankan
biaya rekonstruksi akibat perang kepada Jerman, nilainya mencapai sepertiga
dari seluruh defisit anggaran Jerman. Beberapa pihak menuduh Jerman sengaja
menyabotase ekonominya sendiri untuk menghindari kewajiban pembayaran tersebut.
Dengan memperkenalkan jenis baru mata uang pada tahun 1923, yang Rentenmark
diikuti kemudian Reichsmark pada tahun 1924, Jerman akhirnya dapat mengontrol
inflasi tersebut. Tapi periode ini hampir pasti penting dalam kebangkitan
Sosialisme Nasional dan menjadi jalan
bagi sejarah kelam yang lebih mengerikan; lahirnya NAZI.
3) Krisis
minyak 1907
Di
bayang-bayangi oleh Perang Yom Kippur antara Suriah dan Mesir melawan Israel,
OPEC menjadikan minyak sebagai senjata dengan cara melakukan embargo Minyak
terhadap pihak yang mendukung Israel. Biaya minyak mentah meningkat sementara
produksi dipangkas, terutama untuk AS dan Belanda. Embargo hanya berlangsung
selama lima bulan, namun efeknya terus dirasakan hingga kini. Pasar Saham New
York kehilangan hingga 97 miliar Dolar AS. Produsen mobil jepang mulai membuat
mobil dengan ukuran kecil, dan AS
memberlakukan pembatasan kecepatan maksimum 55 mil/jam untuk penghematan BBM.
Presiden Carter akhirnya membentuk Departemen Energi untuk mengembangkan
cadangan minyak negara tersebut
4)
Senin
Hitam (Black Monday), 1987
Suasana Pasar Saham New
York pada Black Monday 1987 Tidak ada
yang tahu pasti apa yang menyebabkan terjadinya Senin Hitam pada 19 Oktober
1987. Yang pasti adalah tiba-tiba hilangnya miliaran dolar dari pasar saham
seluruh dunia. Hong Kong kehilangan 45,8% dari total nilai sahamnya, Inggris
kehilangan 26,4%, Australia lenyap 41,8% dan Selandia Baru drop hingga 60%. Berapa
orang meyakini kejadian ini bakal terulang di masa datang. Perdagangan program,
perselisihan kebijakan moneter serta kekhawatiran akan inflasi, semuanya
ditengarai menjadi penyebabnya. Bahkan kepanikan pasar bisa saja datang tiba-tiba
tanpa sebab yang jelas dan rasional. Akibat yang pasti adalah akan kembali
lenyapnya banyak uang tanpa jejak.
5) "Dekade
yang Hilang" dari Jepang, 1990-2000
Runtuhnya
gelembung aset (asset bubble) di Jepang pada tahun 1991 menyebabkan pertumbuhan
ekonomi yang rendah dan berkepanjangan hingga tahun 2000. Penyebab sebenarnya
dari krisis ini adalah akibat tidak sehatnya spekulasi, tingginya angka kredit
dan rendahnya tingkat suku bunga. Ketika pemerintah mencoba untuk
mengendalikannya, kredit semakin sulit didapat, dan penyertaan modal turun
drastis. Inilah yang menyebabkan melemahnya ekspansi ekonomi sepanjang tahun
1990an, menjadikannya satu dekade yang hilang. Jepang beruntung dapat
menghindari depresi, tapi efek di tahun 1991 tersebut masih terasa sampai hari
ini. Beberapa pengamat meyakini kejadian ini akan terulang pada dunia barat
bila sistem ekonominya tidak segera dibenahi.
6) krisis
Moneter Asia Tenggara, 1997
Awalnya
perkembangan luar biasa di Asia disebut sebagai "Keajaiban Ekonomi
Asia". Banyak pengamat menyebut Macan dan Naga Asia sedang bangkit dan
akan segera menggantikan dominasi ekonomi barat. Namun tak butuh waktu lama
untuk membalikkan pujian tersebut menjadi bencana besar, dimulai pada Bulan
Juli 1997. Ini berawal dari hilangnya kepercayaan investor pada mata uang Asia.
Tingginya imbal balik membuat pasar Asia sebenarnya menarik, tapi ketika AS
mencoba untuk mengatasi resesinya sendiri dengan ikut menurunkan tingkat suku
bunga, membuat investor lebih tertarik pada Amerika, dan memandang pasar Asia
terlalu beresiko.
Lalu terjadilah
efek domino, dimulai dari Thailand dan meluas ke Filipina, Hong Kong, Malaysia
dan Indonesia dan terus menyebar hingga memicu krisis global. Pasar saham
Thailand terkoreksi 75%, Hong Kong 23% dan Singapura anjlok hingga 60%. Tak
satupun pasar dunia yang tidak terimbas. Nilai tukar Rupiah terdevaluasi hingga
90%, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13,7%, harga makanan melambung sampai
118% dan inflasi mencapai 78%. Krisis moneter inilah yang memicu terjadinya kerusuhan
massa pada Mei 1998, yang akhirnya melengserkan kekuasaan Suharto dari kursi
kepresidenan yang telah di genggamnya selama 32 tahun.
7) Krisis
Rubel, 1998
Korupsi,
kebijakan reformasi ekonomi yang tidak efektif, devaluasi nilai Rubel, dan
ketidakstabilan politik membawa Rusia
kedalam krisis moneter yang masif. Selain itu, posisi Rusia sebagai eksportir
sepertiga dari jumlah minyak dan gas di dunia, menyebabkan Rusia sangat rentan
terhadap terjadinya fluktuasi harga minyak. Ketika investor asing menarik
uangnya keluar Rusia, Bank menjadi lumpuh dan dengan terpaksa meminjam pada
IMF. Dan semua tahu, meminjam kepada IMF sama sekali tidak efektif. Imbal hasil
obligasi tahunan secara mengejutkan meningkat sebesar 200%. Krisis ini juga
menghantam pasar saham Dow, pasar saham ini mengalami penurunan nilai terendah
sepanjang sejarah
8) Resesi
hebat 2008
Pada tahun 2008,
bangkrutnya Bank Lehman Brothers yang memiliki aset bernilai 600 miliar dolar,
menjadi simbol dimulainya krisis moneter paling dramatis sejak masa Depresi
Hebat. Penyebabnya berkaitan dengan dideregulasinya beberapa kebijakan sektor
keuangan, kebijakan moneter yang buruk dan runtuhnya ekonomi internasional
akibat tingkat hutang yang tinggi di sektor publik dan swasta.
Efek yang
disebabkan krisis ini begitu hebat. Meskipun Pemerintah AS berjuang untuk
mengatasi krisis tetap saja terjadi kredit macet, runtuhnya pasar saham dan
pertumbuhan melambat yang menyebabkan jumlah pengangguran membludak dan banyak
orang harus kehilangan rumah akibat tidak mampu membayar kreditnya.
Diperkirakan hingga Maret 2009, 45% dari kekayaan global telah lenyap, dan
butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikannya.
No comments:
Post a Comment