Perjuangan dalam Hidupku
Setelah masa SMA
berakhir, maka aku tak tahu kemana perjalanan hidupku kedepannya, perjuangan
selama tiga tahun di waktu SMA
terbayar lunas dengan ijazah yang
ku terima, tapi ternyata ini bukanlah akhir perjuangan hidupku melainkan
tonggak awal dari perjuangan dalam meraih kesuksesan, pada awalnya aku mencoba
melamar pekerjaan di sebuah minimarket karena aku sadar dengan keadaan ekonomi
keluargaku yang hanya cukup makan sehari-hari, aku tidak pernah berbicara
kepada kedua orang tua untuk melanjutkan ke perguruan tinggi aku tidak mau
menjadi beban keluarga, walaupun niat untuk melanjutkan pendidikan ketingkat
yang lebih tinggi itu ada, tetapi dengan keadaan ekonomi keluarga yang serba
kekurangan apakah bisa, pekerjaan orang tua yang hanya sebagai buruh tani yang
penghasilan pas-pasan, ibu hanya mengurus rumah tangga walau sekali-kali ikut
kerja menjadi buruh tani. Tapi aku tetap bersyukur karena dari perjuangan kedua
orang tuaku untuk memenuhi kebutuhan hidup
yang harus bekerja membanting tulang aku mengerti bagaimana kerasnya
kehidupan.
Setitik harapan
sempat aku rasakan ketika seorang guru
sekaligus wali kelasku, memberikan nasehat bagaimana terus berjuang dan
berusaha meraih cita-cita, beliau menyarakan kepada ku untuk ikut SNMPTN
(Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ), aku beberapa kali menolak
untuk ikut SNMPTN karena aku takut dikalau diterima bagaimana untuk memenuhi
kebutuhan hidup selama perkuliahan. Namun dengan dorongan dari beliau lah aku
memberanikan diri untuk ikut SNMPTN. Dan waktu yang di tunggu pun datang yaitu,
pengumuman hasil SNMPTN, saat teman-teman yang lain melihat pengumuman hanya
lewat smartphone mereka masing-masing, aku harus keluar kampung untuk melihat
pengumuman tersebut karena warnet jauh dari kampung sedangkan smartphone tidak
punya, tetapi ternyata perjuanganku tidak sia-sia, aku lulus SNMPTN yang tidak
pernah aku sangka dan rasa tidak percaya aku bisa lulus, dan sekaligus aku
bangga dan terharu ternyata hanya aku sendiri yang lulus SNMPTN mewakili
sekolahku.
Aku lulus di universitas luar provinsi yaitu
tepatnya di Universitas Jambi, dengan Program Studi Ilmu Sejarah, dan setelah
aku dinyatakan lulus, timbul banyak pertanyaan dalam pikiranku, apa yang harus
aku lakukan, bagaikan makan buah simalakama, apa yang harus aku lakukan dengan
ini , apakah aku ambil atau aku tolak SNMPTN ini, jika aku ambil bagaimana aku
bisa memenuhi biaya hidup selama kuliah, apa lagi diluar provinsi tentu biaya
yang dibutuhkan sangat besar ekonomi keluarga yang rendah apakah bisa,
sedangkan kalau ditolak, ini kesempatan berharga yang tidak mungkin terulang,
saat ribuan orang berlomba-lomba untuk bisa masuk perguruan. Perjuangan berat
dalam menentukan pilihan, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil SNMPTN
ini dengan segala resiko yang mungkin buruk
yaitu putus di tengah perjalanan aku akan siap, setelah aku tiba di
jambi, ternyata ada saudara dari ayah sehingga awal kedatangan serta ngurusan
administrasi ada yang bantu mengurusnya.
Setelah semua
urusan administrasi selesai maka besarnya biaya kuliah baru diketahui, bertapa
terkejutnya ternyata biaya kuliahku sungguh besar yaitu 1 juta, yaa mungkin
biaya ini terbilang kecil bagi sebagian orang yang mempunyai ekonomi tinggi
tapi bagi diriku biaya 1 juta sangat besar, inilah yang membuat ku kembali
harus menghadapi masalah, walaupun begitu ini bukanlah penghalang karena aku
sudah berjanji kepada keluarga untuk terus berjuang apalagi aku adalah yang
terakhir harapan dari keluarga, ya hanya aku sendiri dari 7 bersaudara yang
mempunyai kesempatan untuk bisa menempuh jenjang pendidikan sampai sarjana
sedangkan 6 saudara ku yang lain hanya sampai sekolah dasar.
Dan setelah
semua biaya berhasil aku penuhi dengan uang kiriman dari saudara di kampung aku
bisa mulai kuliah, dan aku tidak akan mengecewakan keluarga di kampung yang
sudah berjuang untuk bisa membuat aku kuliah. Perjuangan keluarga yang membuat
semangat untuk bisa menyelesaikan perkuliahan sampai memperoleh gelar sarjana.
Aku tahu ekonomi keluargaku tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan perkuliahan
maka untuk bisa menutupi aku bekerja di sebuah kursus bahasa inggris selain
untuk bisa mendapatkan tempat tinggal juga mendapatkan gaji meskipun gaji ku
sangat kurang dari kata cukup tetapi aku bisa melalui kuliahan, pada semester 2
(dua) perjuangan ku di uji, karena pada semester ini aku harus menerima
kenyataan bahwa ayahku dipanggil yang maha kuasa, aku sempat berpikir untuk
berhenti untuk melanjutkan kuliah, dengan dorongan keluarga terutama ibu
sehingga aku kuat melanjutkan perkuliahan.
Dengan
kejadiaan ini, aku terus semangat untuk menyelesaikan perkuliahan dan bisa
membuat bangga keluarga serta bisa memotivasi generasi-generasi mudah untuk
bisa mewujudkan cita-cita meraih kesuksesan meski keterbatasan ekonomi.
#ALLAH maha Cerdas Tahu mana Hambanya yang berhak Sukses

No comments:
Post a Comment